Saya jadi ingat kisah menjelang final Piala Dunia FIFA 1938, Benito Mussolini mengultimatum, Italia harus keluar sebagai kampiun atau pulang meregang nyawa.
Berita gembira itu telah datang. Sepak bola kembali bergulir secara resmi di negara kita tercinta ini. Berakhir sudah penderitaan akan hiburan merakyat tanpa demarkasi kelas.
Bukan rahasia lagi, sepak bola negeri ini memang miskin prestasi, tapi prestisenya jangan pernah diragukan. Makannya, ketika pandemi menyerang, pegiat si kulit bundar ikut-ikutan terkena imbas.
Industri mendadak mangkrak, klub kepayahan, hingga pemain pun rela ikut gacongan demi menyambung hidup. Ironisnya, klub para pesohor masih bebas menendang-nendang bola sementara berlindung di balik diksi ‘fun football’ tanpa henti terus memproduksi cuan.
Tapi sudahlah, percuma juga diperdebatkan, sebagai orang yang tinggal di negara kepulauan dekat dengan India ini, selalu saja ada untung yang bisa diambil. Bahkan ketika kondisi tengah megap-megap.
Perundingan sudah membuahkan hasil, Polisi akhirnya memberikan izin buat sepak bola sungguhan kembali digelar. Hari ini tinggal menuju hitungan hari ke pembukaan Piala Menpora 2021.
Jelas dong, maklumat ini langsung jadi gunjingan, disambut gembira dan gegap gempita. Buat kita, yang cuma bertindak sebagai fans, mimpi melihat pahlawan kemenangan beraksi kembali semakin nyata.
Tapi ingat, ada harga yang harus dibayar, khususnya buat kita para pecinta dan penikmat permainan sebelas lawan sebelas. Bahaya pandemi saat ini masih mengintai. Piala Menpora yang ada di depan mata bisa jadi jebakan batman.
Sewaktu permisi diberikan, ada beberapa catatan yang berhubungan dengan protokol kesehatan yang harus dipenuhi. Piala Menpora ini cuma introduksi, muaranya adalah kompetisi sungguhan, Liga 1 yang diakui FIFA.
Piala Menpora memang bukan jaminan penuh untuk kompetisi sungguhan nanti. Bahkan ketika turnamen ini berjalan mulus pun tak ada jaminan kasta kompetisi tertinggi akan dengan mudah diizinkan.
Tapi yang jelas, sedikit kesalahan, kompetisi kasta tertinggi tanah air jadi taruhannya. Garis batasnya sekarang cukup jelas, orang-orang macam kita, diminta untuk tetap di rumah dan tidak terlibat secara ‘fisik’ dengan gelaran ini.
Hampa memang melihat klub-klub kebanggan berjuang tanpa dukungan langsung dari tribun. Tapi tenaga dan kontribusi yang biasa dicurahkan lebih baik digunakan dengan untuk hal yang lebih berguna.
Hari ini, saatnya kita ikhlas, mendukung dan loyal terhadap kebanggan lewat layar kaca atau mungkin layar smartphone.
Saya jadi ingat kisah menjelang final Piala Dunia FIFA 1938, Benito Mussolini mengultimatum, Italia harus keluar sebagai kampiun atau pulang meregang nyawa. Singkat cerita, Italia menang dengan skor 4-2 atas Hungaria dan para pemain Italia pulang dengan nyaman bahkan menjadi pahlawan.
Kiper Hungaria, Antal Szabo, memang kebobolan empat gol di pertandingan itu. Tapi dia berkorban agar rekan sejawatnya (meskipun rival) tetap hidup dan tidak kehilangan nyawa.
“Aku mungkin membiarkan empat gol, tapi setidaknya aku menyelamatkan hidup mereka,” kata Antal Szabo dalam sebuah catatan di bleacher report.
Belajarlah dari Antal Szabo yang sengaja mengalah demi menyelamatkan nyawa. Kini giliran kita, pecinta bola sepak untuk tidak bertindak konyol dan mengalah dengan keadaan untuk sementara waktu.
Dimas Sembada l Redaktur Pelaksana Vivagoal
Ilustrasi: M Rizky ‘Mattoma’




