Alhamdulillah, Puji Tuhan, dengan ijin Allah SWT yang diwasilahkan ke ibunya, maka sejak saat itu Del Piero berganti posisi dalam bermain sepak bola, yang sebelumnya sebagai penjaga gawang, kini menjadi seorang penyerang.
Conegliano, Veneto, Italia – November, 1974
Bulan November di Italia adalah bulan transisi dari berakhirnya musim gugur menuju musim dingin, hujan lebih sering terjadi di bulan ini, tapi, mungkin bulan ini telah menjadi bulan terhangat dari seorang tukang listrik bernama Gino, dan Istrinya yang seorang Asisten Rumah Tangga bernama Bruna. Ya, dari sebuah perbuatan yang telah mereka lakukan sembilan bulan sepuluh hari sebelumnya, maka dipastikan tepatnya pada tanggal 9 November 1974, akan lahir seorang anak laki-laki yang nantinya akan mereka beri nama Alessandro Del Piero.
Alessandro yang dalam bahasa itali berarti penolong umat manusia atau pelindung, sementara Del Piero sendiri memiliki arti batu, yang bisa dikonotasikan sebagai sebuah kemauan yang keras. Dengan kata lain, nama Alessandro Del Piero bisa berarti seorang laki-laki yang memiliki kemauan yang keras untuk bisa melindungi sesamanya, mungkin, penulis tidak tahu, karena apa yang tertulis di atas adalah hasil telusur di situs pencarian dengan kata kunci “arti nama bayi laki-laki”. Hanya pak Gino dan bu Bruna yang tahu maksud sesungguhnya dari pemberian nama itu.
Seperti anak laki-laki itali pada umumnya, Del piero, begitu biasa dia dipanggil, atau ada juga yang memanggilnya dengan nama Alex, kependekkan dari kata Alessandro, dibesarkan karena masih kecil, dia dijaga dengan baik, tidak ditelantarkan, apalagi sampai masuk panti asuhan.
7 Tahun setelah kelahiran
Del Piero kecil yang sedang dibesarkan orang tuanya, suka sekali bermain sepak bola bersama dua temannya, yang jelas bukan bernama Tugiyo dan Bejo, melainkan Nelson dan Pierpaolo. Mereka biasa bermain bola di halaman belakang rumah di suatu dusun yang bernama Saccon, di pedesaan San Vendemiano.
Ditahun yang sama, Del Piero masuk di tim muda lokal desa tersebut dan bermain pada posisi penjaga gawang karena ibunya tidak mau dia berkeringat terlalu banyak, mungkin karena ibunya sudah menjadi ART, sehingga beliau tidak mau terlalu capek jika harus mencuci lagi pakaian yang bau. Dan karena tempatnya di pedesaan, yang mana pada tahun itu kemungkinan menurut penulis, yang paling logis adalah jauh dari rumah sakit atau dukun patah tulang, posisi penjaga gawang adalah posisi paling ideal untuk terhindar dari resiko cedera yang lebih besar.
Stefano, kakak kandung Del Piero, yakin saudaranya bisa bermain lebih baik jika berposisi sebagai penyerang, maka dari itu dia berniat, ya, berniat, karena sudah sepantasnya niat kalau sudah punya keyakinan. Dia berniat untuk memberitahukan kapada ibunya tentang apa yang sudah diyakininya, bahwa sebaiknya Del Piero bermain sebagai seorang penyerang.
Dengan keyakinan dan niat itulah akhirnya Stefano berhasil menyampaikan apa yang harus dikatakan. Alhamdulillah, Puji Tuhan, dengan ijin Allah SWT yang diwasilahkan ke ibunya, maka sejak saat itu Del Piero berganti posisi dalam bermain sepak bola, yang sebelumnya sebagai penjaga gawang, kini menjadi seorang penyerang.
90’an – dan seterusnya
Bagi generasi 90’an, yang suka dengan sepak bola, apalagi penggemar Juventus, tentu saja nama Alessandro Del Piero sudah sangat melekat di telinga dan indera penglihatan. Del Piero yang sudah besar itu, pada tahun 1994 berhijrah dari yang sebelumnya bermain untuk tim Padova FC menuju tim baru yang lebih besar, Juventus FC.
Di tim inilah, Del Piero menjelma menjadi salah satu penyerang terbaik di masanya, dia juga menjadi penyerang utama timnas Italia, dan sudah banyak gelar yang diraih, baik gelar tim maupun individu. Selain handal dalam hal menceploskan bola ke gawang lawan, bukan kawan, kelihaian Del Piero dalam mengolah si kulit bundar sudah tidak diragukan lagi.
Pada suatu masa, karena kehebatan Del Piero tersebut, legenda kehormatan Juventus, Giampiero Boniperti menyematkan sebuah julukkan “Il Pinturicchio” kepadanya, nama tersebut terinspirasi dari seorang seniman lukis ternama pada masa renaisans. Melihat Del Piero menggiring bola di lapangan, seperti menikmati keindahan sirat-surat kuas di atas kanvas.
Del Piero boleh dikatakan sebagai salah satu pemain yang setia, sejak kepindahannya ke Juventus, dia tidak pernah lagi berpindah klub selama hampir 19 tahun. Bahkan ketika Juventus sempat mengalami calciopoli, pada tahun 2006, yang membuat “Si Nyonya Tua” harus terdegradasi ke kasta liga lebih rendah, Del Piero tetap setia sebagai pemain Juventus, ‘Un Vero Cavaliere Non Lascia Mai Una Signora’, pria sejati takkan pernah meninggalkan sang nyonya.
Lalu,
Hening,
Sudahi membacanya
Buka aplikasi youtubenya
Ketik namanya
Tonton videonya
Semoga suka, lalu jatuh cinta
Jika tidak, tidak apa-apa
Nikmati saja.
Kedai Jante, 15 Maret 2021.




