Bagaimana mungkin sopir ini tiba-tiba menunjukkan bahwa dia membawa uang yang begitu besar kepada orang yang baru ditemuinya belum genap satu jam.
Pernah suatu kali saya melakukan perjalanan dari Bandung ke Lampung. Lalu lintas macetnya minta ampun. Saya heran juga, mungkin hanya ada di negeri ini di jalan tol—jalan bebas hambatan—terjadi kemacetan lalu lintas. Lebih parah kemacetan ini terjadi hampir sepanjang Bandung-Jakarta. Gila.
Pagi menjelang siang barulah saya sampai ke Pelabuhan Merak. Dengan pasrah karena semua jadwal hari ini berantakan, saya lalui santai saja. Toh, semua sudah kadung berantakan. Saya naik kapal yang cukup kosong.
Sepanjang Merak ke Bakauheni, saya nikmati di area samping kapal. Saya pikir kapan lagi lihat pemandangan laut yang begitu indah di pagi hari begini. Saya duduk di bangku warung kopi sambil menikmati sarapan Pop Mie dan kopi susu.
Orang-orang datang dan pergi dari warung itu. Sesekali ada juga yang menyapa dan mengajak ngobrol. Seorang bapak dengan penampilan keren duduk di samping saya. Dia nanya saya mau ke mana dan saya jawab mau ke Lampung. Jawaban ngaco tentu saja, karena Lampung itu begitu luasnya.
Sesekali suara blast kapal menggaung. Tidak ada target hari ini. Menikmati semua keterlambatan lalu menjadi sebuah keniscayaan. Bukan keterlambatan sebenarnya, tetapi menikmati perjalanan. Debur ombar menghantam badan kapal. Sinar matahari berlari-lari di atas permukaan air.
Sesaat sebelum Bakauheni, saya jalan-jalan mengelilingi kapal. Melihat pemandangan dari sisi lain. Beberapa mobil terparkir di tempat parkir atas kapal. Di sisi kapal lainnya, saya pun ngobrol dengan seorang bapak. Dia bilang dia adalah sopir angkutan logistik. Semacam mobil paket dan surat.
Sebelum kapal sandar di pelabuhan, bapak itu menanyakan tujuan saya. Saya jawab Bandar Lampung. Dia pun menawarkan tumpangan kepada saya. Sebelum saya mengiyakan, dia memohon maaf terlebih dahulu karena katanya mobil paket itu semacam Luxio hanya dengan kursi sopir saja. Jadi sisanya hanya ada surat dan paket.
Saya pun mengiyakan ajakan itu. Saya pikir seru juga bertualang menumpang mobil paket. Selain saya bisa ngobrol tentang pengalaman pekerjaan sang sopir, saya juga bisa merasakan sensasi melakukan perjalanan dengan mobil yang “luar biasa” ini.
Ketika akan naik sang sopir membuka pintu bagian tengah. Dia menunjukkan sebuah karung. “Bang, karung ini isinya uang 1,5 Milyar,” katanya kepada saya. Saya pun terkejut dan menanyakan apa itu benar. Kata dia pegang saja, itu isinya benar-benar uang. Saya terkejut. Bagaimana mungkin sopir ini tiba-tiba menunjukkan bahwa dia membawa uang yang begitu besar kepada orang yang baru ditemuinya belum genap satu jam.
“Ayo Bang naik, Abang bisa tidur di atas karung uang itu. Kapan lagi bisa tidur di atas uang 1,5 Milyar… haha,” katanya bercanda. Saya pun naik ke atas mobil dengan penuh paket, surat, dan uang itu. Saya pikir asik juga tidur di atas uang sebanyak itu sambil membayangkan skenario-skenario di film-film kriminal. Perjalanan pun kami tempuh berdua. Jalanan cukup lancar. Sepanjang perjalanan sang sopir bercerita tentang berbagai pengalamannya selama di jalan. Tidak satu pun pengalaman buruk atau mengerikan dia ceritakan. Saya pikir orang baik selalu berada di dalam lindungan Tuhan. Semoga.
Sesampainya di Bandar Lampung, saya pun turun karena si bapak akan melakukan perjalanan ke arah yang berbeda. Sambil mengucapkan terima kasih, saya pun mendaraskan doa untuk si Bapak dan keluarganya. ***
JEJEN JAELANI | KOLOMNIS




