Serba-Serbi Puisi Para Petinggi Negeri

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

Apa boleh buat, di zaman kutip-mengutip dan kopi-mengopi sekarang ini, orang rupanya hanya mementingkan apa yang disebut “konten”, dan mengabaikan apa yang disebut “referen”.

 

Buat pasang tampang sambil menebar motivasi, seorang pemimpin politik memetik puisi. Langkah itu memang jitu sekali. Secepat kilat begitu banyak netizen yang sewot bin naik pitam terhadap cuitan Perdana Menteri Imran Khan dari Pakistan. Pasalnya, dia keliru membedakan Rabindranath Tagore dari Khalil Gibran. Itu sama bodohnya dengan kebingungan membedakan India dari Lebanon. “Ente harus sekolah lagi, Imran!” sergah sebuah headline sarkastis dengan huruf-huruf tebal.

Sebagai netizen yang penasaran, saya bukan main takjubnya. Soal karya Rabi Thakur, saya tidak tahu banyak. Hanya sempat saya baca Gitanjali versi Indonesia terjemahan Amal Hamzah, juga versi Inggrisnya hasil terjemahan penyairnya sendiri plus Tukang Kebun terjemahan Hartojo Andangdjaja.

Saya takjub karena baris-baris puisi yang dipetik oleh Imran Khan itu juga dikutip oleh begitu banyak orang untuk berbagai keperluan, dari dulu hingga kini. Silakan cermati sendiri melalui mesin pencari. Baris-baris itu kayaknya sudah jadi mantra semua orang di seluruh dunia. Tidak perlu saya ikut-ikutan mengutipnya di sini.

Celakanya, saya punya pertanyaan sepele: dari karya Tagore yang mana kata-kata puitis itu dipetik? Dari puisi yang mana? Dari prosa yang mana? Dari buku apa? Anybody can tell me, please?

Tentu, Rabi Thakur bukan nama asing bagi pembaca sastra di Indonesia. Beberapa bukunya telah diindonesiakan. Pada 1920-an sang pujangga sempat bermuhibah ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). Dalam The Complete Works of Rabindranath Tagore (General Press, 2017) ada pula puisi Rabi Thakur yang berjudul, “Borobudur”. Dengan idiom matahari, bebukitan, pokok-pokok kelapa, hamparan sawah, dan sungai, sang pujangga menyuarakan pesan bagi sebuah zaman tatkala iman dan ketenangan sepertinya sedang terguncang. “Biarkan Buddha jadi suaka,” ucapnya.

Apa boleh buat, di zaman kutip-mengutip dan kopi-mengopi sekarang ini, orang rupanya hanya mementingkan apa yang disebut “konten”, dan mengabaikan apa yang disebut “referen”. Kontennya diambil, bukunya dilupakan. Tidak aneh jika ada penerbit buku yang lantas banting setir jadi “penyedia konten”. Kalaupun buku masih hadir di Cikapundung, tidak mustahil banyak orang yang membaca buku kayak membuka kamus. Ambil isinya, lupakan konteksnya. Yang penting, keren. Walhasil, tidak kelewat ganjil sebetulnya jika orang seperti Imran Khan bunuh diri dengan puisi. Maksud hati menebar motivasi, apa daya malah ramai-ramai dibuli.

Sekiranya Eyang Plato masih hidup pada abad ke-21, mungkin dialah orang yang paling sedih ketika ada tokoh politik berpuisi ria dengan segala akibatnya. Dalam pandangannya yang termasyhur, penyair sebaiknya menyingkir dari jalan menuju Republik yang dia idam-idamkan. Puisi konon hanya menjauhkan orang dari nalar. Dia yang jadi pemimpin politik mestinya juga filsuf. Juga dalam bahasa Qurani ada gambaran tentang para penyair yang membawa orang banyak ke lembah kesesatan.

Lain lagi ceritanya di dunia. Di Indonesia malah pernah ada masanya para pemimpin politik mendadak gemar baca sajak. Bahkan ada presiden yang menggubah puisi sendiri lengkap dengan rekaman lagunya segala. Lihatlah, Eyang, Republik rupanya bisa juga dikelola di tengah keramaian syair. Setidaknya, dari Václav Havel hingga Xanana Gusmao, kita punya sejumlah contoh tokoh politik yang menyukai puisi. Bahkan deklamasi merupakah salah satu mata acara andalan dalam setiap pelantikan presiden di Amerika Serikat.

Menjelang Ramadan, seperti biasa, puisi pasti bertubi-tubi lagi, berseliweran di jagat maya, tak terkecuali dari kalangan petinggi, khususnya para petinggi yang lagi kehilangan konten. Sambutlah bulan puisi. Mohon maaf lahir batin, terutama untuk kualitas puisi yang terlanjur tersebar ke sana-sini.***

HAWE SETIAWAN | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS

 
ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi