INDONESIA? Apa ya? Penjelasan yang paling sederhana biasanya melalui lambang negara dan Bendera serta batas wilayah. Ujung berbicara tentang Indonesia biasanya berakhir pada susunan mitos mengenai nasionalisme,
persatuan dan tenggang rasa, seperti lagu lama yang terus diputar. Padahal, sebagai manusia kita memiliki hak untuk meneropong Indonesia dari aneka ragam sudut pandang, salah satunya dari tubuh kita sendiri.
Misal, orang Bandung bisa memandang Indonesia sebagai Barat jauh, atau orang Subang melihat Indonesia dengan jiwa agrarisnya. Bahkan Indonesia bisa kita lihat dari wujud rumah makan Padang, gagasan rendang yang mendunia. Indonesia tidak bisa dipandang hanya dari Jakarta.
Bisakah menyerap Indonesia Indonesia dari wujud fiksi? Tentu saja. Dari novel, misalnya. Membaca novel sembari berjemur di pagi hari, ditemani kopi dan pisang goreng. Kita bisa merenungkan Indonesia sambil bersantai atau bersenda gurau. Indonesia, toh. Tidak kemana-mana.
Kita coba baca Indonesia dari sudut kecil, dari salah satu novelnya Pramoedya Ananta Toer “Sekali Peristiwa Di Banten Selatan”. Bertiti mangsa tahun 1957, novel ini bagian dari penelusuran singkat Pramoedya di daerah Banten Selatan. Pada saat itu Indonesia sedang berselisih dengan Darul Islam salah satu kelompok yang konon ingin mendirikan negara Islam di Indonesia.
Tokoh yang dituliskan dalam novel dihadirkan dengan berbagai sifat. Ranta sebagai tokoh utama ditemani Ireng sebagai Istrinya, petani yang selalu terancam dan terintimidasi. Ada juragan Musa yang punya kuasa dan kaya raya. Para begundal bawahan Juragan Musa yang senang menyiksa para petani. Para tentara OKD (organisasi keamanan desa). Gerilyawan Darul Islam, dan jangan lupa istri Juragan Musa yang teraniaya oleh kelakuan suaminya.
Cerita dimulai dari seorang Ranta yang tak kuasa menolak perintah Juragan Musa untuk mencuri bibit karet di perkebunan. Tentu saja Ranta tak kuasa menolak, selain Juragan Musa yang ringan tangan, anak buahnya juga kejam luar biasa, banyak petani pernah babak belur merasakan hantaman para begundal anak buah Juragan Musa. Adapun upah yang dibayarkan oleh Juragan Musa kepada Ranta dan para petani sangatlah kecil, tidak sesuai dengan bahaya yang dihadapi. apa daya, rasa takut lebih menguasai daripada kuasa melawan.
Paksaan juragan Musa yang kembali meminta Ranta untuk mencuri bibit karet, menjadi salah satu kekuatan untuk tidak tunduk pada keinginan juragan Musa kali ini. Apalagi Ranta akhirnya tertangkap basah penjaga perkebunan, dihajar dan jadi bulan-bulanan. Peristiwa itu menyadarkan Ranta dan kawan-kawan petani untuk menghentikan penindasan.
Mereka melapor pada OKD, atas segala sepak terjang Juragan Musa. Disamping itu ternyata Juragan Musa adalah salah seorang pimpinan DI, terbukti dari surat dalam tas yang tertinggal ketika berseteru dengan Ranta, bahwa juragan Musa adalah bagian dari DI. Pada akhirnya, juragan Musa dan para gerombolannya dapat dilumpuhkan oleh tentara OKD dan rakyat.
Menarik! Tentu saja. Pram dong, penulisnya. Retorika, logika dan tindakan melalui tokoh Ranta akan mengingatkan kita akan sisi kepahlawanan. Intimidasi dan kuasa pada akhirnya kalah oleh kesetaraan dan kebersamaan serta penyadaran bahwa manusia adalah mahluk sosial.
Kita terbiasa melihat Indonesia berdasarkan hamparan dataran agraris dan memandang warna warna teduh yang disuguhkan, seperti dalam promosi iklan pariwisata. Membuai, menyenangkan dan menyejukkan.
Membaca novel “sekali peristiwa di Banten Selatan” menyajikan ruang dan wacana Indonesia dari sudut yang berbeda. Indonesia memiliki sisi kelam yang juga harus kita lihat dengan seimbang. Intimidasi, hak kuasa, perbudakan dan status kelas, adalah ekosistem penaklukan.
Buka saja mata kita selebar mungkin, apakah kita masih menemukan titik kotor di lensa mata kita mengenai Indonesia seperti dalam novel Pram? Kalau masih ada, berarti Indonesia secara rohani belum beranjak dari tahun 1957.***
TATA KARTASUDJANA | DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufiq




