Wabah dan Kisah

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

 

Setelah mati, orang itu dihormati sebagai orang suci. Bukan main. 

 

 

 

Decameron terlintas lagi dalam benak saya di tengah
pandemi yang berlarut-larut. Mulanya saya membaca pengantar Georg Lukács untuk
bukunya, The Theory of the Novel. Di bagian itu dia menggambarkan suasana
hati atau atmosfer kesejarahan di sekitar Perang Dunia yang melingkupi proses
penulisan buku itu. Lukacs menyebut-nyebut rangkaian kisah karya Giovanni
Bocaccio yang termasyhur.


“Tadinya buku ini akan berbentuk serangkaian dialog:
sekelompok anak muda menjauhkan diri dari psikosis perang di lingkungan mereka,
sebagaimana para pencerita dalam Decameron menjauhkan diri dari wabah,” tutur
Lukács sebagaimana diinggriskan dari bahasa Jerman oleh Anna Bostock.

Saya pun tersadar, Decameron memang layak dibaca
lagi di tengah teror wabah. Latar kesejarahan kisah ini memang terpaut pada
wabah. Sebelum menyampaikan rangkaian kisahnya, Boccaccio menggambarkan betapa
menyiksanya Maut Hitam, yakni “wabah mematikan” yang berjangkit di
Florence dan kota-kota lain di Itali pada tahun 1348. Banyak orang binasa.
Mereka yang ingin selamat mesti mengurung diri, menjaga jarak dari sesamanya,
menjauhi pusat peredaran wabah, juga menutup telinga dari aneka kabar yang
bikin gentar. 

Dengan latar sesuram itu, sang pujangga seakan menyuguhkan
penawar derita, terutama tatkala obat dari para tabib tak manjur-manjur
amat. Sudah pasti, “obat” yang disuguhkan oleh sang pujangga adalah
rangkaian kisah yang layak disimak buat menghibur sekaligus merenungi
diri. 

Dalam karya klasik ini tampil sepuluh orang muda: tujuh
cewek dan tiga cowok, mojang dan jajaka dari lingkungan keluarga bangsawan.
Umur para cewek antara 18 dan 28 tahun, sedang cowok-cowoknya berumur 25
tahunan. Neng Pompenia dan kawan-kawan meriung di pojokan gereja Santa Maria
Novella pada Selasa pagi, dan keesokan harinya, bersama para bedinde masing-masing,
mereka pergi menuju ke sebuah di bukit luar kota. Di sanalah, agak jauh dari
pusat penyebaran wabah, kesepuluh orang tersebut berbagi cerita. Secara
bergiliran mojang dan jajaka itu menjadi pencerita di dalam rangkaian kisah
ini. 

“Sebagai pertolongan dan penghiburan bagi para wanita yang
sedang jatuh cinta …, saya bermaksud menyuguhkan seratus cerita atau dongeng
atau tamsil atau sejarah atau apalah istilahnya yang Anda sukai, dalam waktu
sepuluh hari sebagaimana yang dituturkan oleh tujuh wanita dan tiga pria muda
dari kalangan terhormat pada masa berjangkitnya wabah mematikan, diiringi
beragam kanzonet yang diilantunkan oleh para wanita tersebut sebagai pelipur
lara mereka,” tulis Boccaccio sebagaimana yang diinggriskan oleh John
Payne. 

Walhasil, kalau dari Bagdad kita menyerap Kisah Seribu
Satu Malam, dari Florence kita menyerap kisah yang durasinya lebih singkat,
yakni sepuluh hari saja. Di antara bagian pendahuluan dan penutup,
penulis Decameron menyuguhkan 10 hari perkisahan, yang tiap harinya
diisi dengan 10 kisah. Total jenderal terdapat 100 kisah yang terhimpun dalam
buku ini. 

Misalkan, Anda tergolong pembaca yang lamban seperti saya.
Dapatlah Anda pilih satu cerita saja buat satu hari. Kalau begitu, Anda butuh
100 hari buat menamatkan buku ini. Lumayanlah buat mengisi waktu selama ngendon di
rumah akibat pandemi. Jika gangguan medsos dapat diatasi, bisa juga Anda baca
10 kisah dalam sehari. Kalau begitu, Anda hanya butuh waktu kurang dari 2
minggu. Jika Anda begitu keranjingan membaca kayak Don Quixote, Anda bisa
melahap kisah-kisah ini dalam tempo yang lebih singkat, bahkan tidak mustahil
sambil membuat kisah sendiri yang tak kalah serunya. 

Digubah dengan gaya orang saleh, kisah-kisah dalam buku ini
memang memikat. Dalam salah satu kisah di hari pertama, misalnya, kita bertemu
dengan orang jahat yang berdusta sewaktu mendapat kesempatan pengakuan
dosa menjelang ajal. Setelah mati, orang itu dihormati sebagai orang suci.
Bukan main. 

Dalam beberapa kisah ada pula petikan puisi. Contohnya, di
penghujung kisah ke-10 pada hari ke-4, tentang pacar seorang istri seorang
tabib yang dimasukkan ke dalam peti, terdapat sebuah puisi yang terdiri atas 8
bait. Dengan kata lain, rangkaian kisah ini berwarna-warni, bukan hanya dalam
isinya, melainkan juga dalam bentuknya. 

Decameron memang bukan kisah tentang wabah. Namun,
seratus kisah di dalam buku ini kayaknya dapat membantu kita untuk sekadar
berkelit dari situasi yang sulit ketika wabah berjangkit.*** 

 

 

 

HAWE SETIAWAN | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS

 

image: medium drum world

 

 

Picture of Redaksi

Redaksi