Belajar Hidup dari KLB dan Mas Kaesang

 

 

Hidup kita memang jadi serba cepat dan soal kecepatan selalu berseberangan dengan urusan kesabaran.

Sungguh, esai redaksi hanyawacana.com minggu ini tidak akan
mengomentari KLB yang itu. Bukan karena redaktur tidak ingin menyentuh isu-isu
politik, apalagi seputar KLB yang itu sedang diobrolkan di pelbagai media lain.
Apa karena kami ingin menunjukkan independensi? Tentu bukan, sebagai media yang
baru saja lahir, untuk apa kami berbuih-buih harus menjelaskan independensi.
Lagipula, siapa yang bisa mendaku-daku independen saat ini akan
berhadap-hadapan dengan bergelas-gelas kopi sebagai bumbu perdebatan.

Lalu, ini soal KLB yang mana? Ada KLB yang lebih menarik,
tepatnya tentang “Kaesang Luar Biasa”. Media sosial seminggu lalu
disibukkan dengan tagar #ghosting yang kalau di masa lalu dibahasakan
sebagai Pergi Tanpa Pesan. Saya tidak akan mengomentari soal
peristiwa Mas Kaesang itu dari sudut pandang kehidupan asmaranya, jelas bukan
wilayah saya, kalau pun memang wilayah saya, buat apa juga saya harus
berkomentar.

Jadi begini, mari kita urai pelan-pelan, apa sesungguhnya
yang dimaksud sebagai ghosting? Dari saduran di berbagai media
daring, intinya ghosting adalah upaya untuk berpisah atau menolak
kelanjutan hubungan dengan pasangan secara halus. Beberapa caranya begini,
tidak membalas pesan selama berhari-hari, tidak bisa diajak bertemu atau tidak
bisa dihubungi sama sekali, bahkan memblokir semua kontak dari pasangan.

Dari penjelasan tadi memang sepertinya ghosting ini
sesuatu yang luar biasa, tapi coba bayangkan kehidupan sebelum ada media sosial
atau media komunikasi yang serba cepat seperti hari ini. Balasan surat yang
kita kirimkan untuk pasangan bisa datang berbulan-bulan kemudian, bahkan
mungkin tahun. Di situasi tertentu, semisal masa perang dunia, rasa rindu
bahkan diungkapkan dengan cara yang lebih puitis, tidak hanya sebatas ungkapan
singkat, sudah makan belum? Dan kalau saja pertanyaan itu tidak
kunjung dibalas barang 5 menit saja, apalagi kata whatsapp sudah
contreng dua bahkan contreng biru, maka bisa jadi prahara yang tidak terkira.

Hidup kita memang jadi serba cepat, dan soal kecepatan
selalu berseberangan dengan urusan kesabaran. Bayangkan saja, dalam satu pesan
singkat pada pasangan paling-paling berapa pokok pikiran yang bisa kita
tuliskan, paling sering mungkin sebatas, kamu dimana? Lalu,
bandingkan dengan sebuah surat cinta yang sering ada di film-film, berapa pokok
pikiran yang bisa dia sampaikan dalam lembar-lembar suratnya, belum lagi kalau
ada tambahan tetes air mata sebagai pengganti rasa rindu yang sangat mungkin
bernilai lebih dalam, daripada sekadar emoticon menangis berwarna
kuning itu.

Apakah perlu kita kembali ke masa lalu? Tidak perlu, karena
memang tidak mungkin. Kehidupan dan budayanya sudah dipastikan bersifat
dinamis, Ignas Kleden pernah berujar, bila kita hidup dalam budaya yang statis
maka sesungguhnya kita hidup di dunia orang mati. Jadi, mari kita maknai ghosting sebagai
jeda saja, tidak perlu diartikan sebagai sesuatu yang bermakna ini dan itu.
Kehidupan yang cepat saja sudah melelahkan, apalagi bila kecepatan itu berubah
jadi rutinitas. Saya kurang yakin bila seorang Valentino Rossi yang mengemudi
begitu cepat saat balapan di Moto GP, akan mengemudi dengan cepat juga saat berkendara
sehari-hari ke alfamart atau indomaret.

Di akhir kata yang mungkin kurang sederhana ini, peristiwa
KLB Mas Kaesang dan ghosting-nya itu bisa jadi penanda tentang seberapa
cepat hari ini kehidupan kita berlari, dan apakah sudah waktunya kita mengambil
jeda yang lebih dari sekadar kutipan dan postingan senja tanpa makna. ***

Kedai Jante, 10 Maret 2021

FITRA SUJAWOTO | KOLOMNIS

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq

Picture of Redaksi

Redaksi