Manusia Modern di Era Pandemi dan Kalimat Motivasi Yuk, Bisa Yuk!

                                         

 

“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu malam-malam begini…”.

 

Sepotong pesan yang mampir di telepon genggam saya malam itu, dari seorang mahasiswa salah satu kelas yang saya ampu. Ketika awal pandemi, saya dihadapkan pada sebuah ritme baru dalam berkehidupan. 

Contoh kecil, interaksi dengan gawai menjadi semakin intens dan seolah tidak mengenal waktu. Seorang kawan pun menceritakan pengalamannya harus bekerja di luar jam kantor hingga melayani customernya di akhir pekan. Beberapa potong peristiwa yang menarik perhatian saya hingga hari ini.

Saya kembali mengingat pernyataan dari seorang tokoh bernama Leslie White dengan pernyataannya, “kemajuan budaya ditandai dengan meningkatnya proporsi energi bukan manusia terhadap energi manusia (1959:47)”. Sederhananya, modernitas ditandai dengan, salah satunya, semakin banyaknya penggunaan mesin-mesin mekanis. 

Bahkan, White sendiri memberikan sebuah persamaan C=E*T, sebagai upaya me “logy” kan kebudayaan, yang kemudian dikenal dengan istilah “culturology”. Pemikiran White ini yang coba saya kontekskan dengan peristiwa yang makin akrab dengan kita belakangan ini, penggunaan teknologi digital sebagai sarana berinteraksi.

Pertanyaannya, sudahkah kita mencapai modernitas dalam konsepsi yang dikemukakan oleh White? Sebagai contoh, saya menggunakan penghitungan sederhana jumlah jam kerja harian 8 jam per hari atau 40 jam per minggu, dengan penggunaan teknologi digital, seperti internet, komputer, dan telepon genggam. Jika berangkat dari faktor teknologi digital yang digunakan, kita sudah berada dalam kategori (jika ada) sebagai “kebudayaan maju”. 

Melalui teknologi yang hadir, manusia pun mampu menghemat tenaganya untuk menyambangi satu-persatu manusia lain yang berinteraksi dengannya di tempat yang berjauhan. Namun berbeda halnya jika kita keluar dari kerangka pemikiran tersebut, untuk memperbandingkan jam kerja yang tercurah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Marshall Sahlins (1972) memaparkan argumentasi berbeda dalam buku yang berjudul, “Stone Age Economics”. 

Bagi saya, ada sebuah statement yang menarik, yaitu tentang bagaimana sebuah suku yang menerapkan perekonomian berburu dan meramu membutuhkan waktu sekitar 15-20 jam per minggu untuk memenuhi standar subsistensi. Sisanya, dikonsepsikan sebagai “waktu luang”. Padahal, masyarakat berburu meramu tadi masih menggunakan alat-alat yang mereka buat sendiri dan jauh dari pemanfaatan teknologi digital.

Tentunya, tidak mungkin di hari ini saya menerapkan perekonomian berburu dan meramu. Pemaparan ini juga hanya menjadi romantisasi jika saya tidak memberikan alternatif pandangan, kerja 4 jam per hari di masyarakat berburu meramu, bisa saja memerlukan kalori yang lebih besar dari pada masyarakat digital. Kita seakan tidak dihadapkan pada pilihan-pilihan lain. Ibaratnya, jalani saja yang ini, belum tentu kuat disuruh macul pun. 

Namun kemudian, seringkali terbersit dalam pikiran, saya coba merefleksikan apa makna menjadi manusia modern? Bekerja untuk apa? Sebatas memenuhi kecukupan atau juga berikut dengan hasrat dan keinginan kita terhadap sesuatu yang lain? Bekerja untuk siapa? Yang juga ikut menentukan pembagian waktu kerja dan leissure tadi. 

Maka menjadi penting juga, mungkin di hari ini, saya mempertanyakan kembali apa asiknya menjadi modern kalau teknologi yang katanya maju itu malah menghabiskan sebagian besar sisa umur hanya untuk bekerja? Jangan-jangan menjadi manusia yang katanya modern memang harus berorientasi pada kerja, kerja, kerja. Sambil memotivasi diri, “Yuk, bisa, yuk!”, hingga lupa bertanya kapan hura-huranya?

Bandung, 4 Maret 2021

WIBISONO TEGAR GUNA PUTRA | KOLOMNIS & DOSEN

 

Sumber rujukan

Sahlins, Marshall. 1972. Stone age economics. Aldine-Atherton, Chicago.

White, Leslie. 1959. The Evolution of Culture: The Development of Civilization to the Fall of Rome. McGraw-Hill, New York.

Image: Brittany Falussy

Picture of Redaksi

Redaksi