Pandemi
telah membuat waktu luang untuk melakukan banyak hal. Dari soal remeh temeh
hingga perkara-perkara yang bikin ruwet. Saban hari, kalau malas membaca, saya
tentu memikirkan kegiatan lain yang bisa menghilangkan beban di pikiran. Kalau
jalan-jalan, tentu tidak mungkin. Yang bisa dilakukan, ya, beraktivitas di
rumah, meski keluar rumah juga bukan larangan. Sebagai salah seorang penyintas,
saya merasakan jika pandemi ini telah menyeret pada macam-macam urusan yang
terlalu pelik. Ekonomi seret, kesehatan harus diperhatikan, kalau tidak, virus
akan menyerang tubuh yang ketahanannya kendor.
Mengelola pikiran adalah salah
satu langkah untuk meningkatkan daya imun. Tantangannya memang sulit. Selain pikiran
dipenuhi tetek bengek urusan perut, kita juga mesti menepis berita-berita buruk
yang selalu membuat kita ketakutan. Terutama, ihwal berita kematian. Entahlah. Saban
hari, saya seperti dicekoki kabar tidak mengenakkan. Berita meninggalnya
orang-orang yang kira-kira saya kenal, kerap muncul mengejutkan di linimassa.
Atau, tiba-tiba saja gawai berdering dan memberitahukan bahwa si fulan telah
tiada. Akhirnya, saya memutuskan supaya menjauh dari ketakutan itu, masalah
yang sama yang dirasakan oleh semua orang ketika mendengar kata kematian.
Sebelum
pandemi merebak, saya tentu bukan orang yang sibuk pergi jalan-jalan. Ada atau
tidak adanya pandemi, bagi saya sama saja: sama-sama mengurung diri di dalam rumah.
Di sebuah ruangan kecil yang serbadipenuhi tumpukan buku, saya menghabiskan
waktu dengan mengisolasi dari kerumunan. Ini sudah saya lakukan jauh-jauh hari
sebelum wabah datang ke Nusantara. Sambil membaca, kadang saya menyalakan
laptop. Tidak ada alasan khusus kenapa laptop harus dinyalakan. Yang pasti, saya
senang menonton film dari layar berukuran 14 inc. itu terutama saat menonton
serial kartun Jepang yang kini sedang digandrungi semua kalangan.
Sejak
kedatangan corona ke Indonesia, kegiatan menonton film sudah semakin sering
dilakukan. Jika stok bacaan berkurang, tidak ada lagi aktivitas selain
mengunduh film-film yang menarik minat. Ini karena pemasukan yang kian menipis,
sehingga film menjadi salah satu acuan untuk menghemat pembelian buku. Meskipun
godaan di sana-sini tidak bisa terelakkan.
Ada beberapa film yang paling
berkesan selama pandemi: Sword Art Online besutan Reki Kawahara dan Bongou
Stray Dogs, karya Kafuka Asagiri. Keduanya merupakan serial anime yang
mendapatkan rating cukup tinggi di kalangan para sineas kartun Jepang. Sword
Art Online sendiri diadaptasi dari novel berseri anime ini pertama dirilis
pada tahun 2012. Sedangkan Bongou Stray Dogs, awalnya diproduksi sebagai
serial manga.
Sword Art Online bercerita tentang para pemain yang terjebak di dalam game.
Kisahnya, bermula ketika Kirito memasuki dunia virtual reality game berjenis
MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game) melalui Nerve
Gear. Nerve Gear sendiri adalah helm yang digunakan untuk memasuki realitas virtual yang
tersambung lewat otak dan
merangsang pancaindera para pemainnya. Sehingga para pemain dapat menggerakan
seluruh anggota tubuh layaknya berada dalam dunia nyata. Sejak virtual reality
game Sword Art Online (SAO) mulai dirilis, banyak peminat online
game masuk pada permainan itu.
Namun, suatu ketika, kemunculan Kayaba
Akihiko secara mengejutkan membuat semua pemain yang telah masuk tidak dapat
menekan tombol log out untuk keluar dari game itu. Termasuk
upaya yang dilakukan Kirito sebagai karakter utamanya. Jika avatar dalam game
itu mati, maka, tubuh dari si pengguna pun akan mati di dunia nyata. Hingga
pada akhirnya Kirito mengalahkan Kayaba Akihiko sebagai Game Master SAO. Sampai seluruh pemain
yang terjebak dalam permainan itu dapat kembali ke dunia nyata.
Bungou Stray Dogs pun tidak kalah menarik. Karakter dalam serial ini kebanyakkan
diambil dari nama-nama penulis Jepang. Dari situ saya diperkenalkan kembali
dengan Mori Ogai, Junichiro Tanizaki, Ryonosuke Akutagawa, Nakajima Atsushi dan
si “manusia gagal”, Osamu Dazai. Scott Fietzgerald serta Fyodor Dostoyevski
juga ambil bagian. Keduanya berperan sebagai tokoh antagonis. Kisah pada serial
ini memang terbilang unik.
Masing-masing tokoh menampilkan kekuatan
supranatural yang berhubungan dengan karya dan kehidupan aslinya. Misalnya,
Akutagawa mempunyai kekuatan Rashomon, Nakajima Atsushi memiliki kekuatan
manusia harimau, sampai si penulis The Great Gatsby menjadikan uang sebagai
kekuatan yang menakjubkan. Anime ini mulai dirilis tahun 2016 dan baru
berakhir di season ketiga. Sedangkan untuk manganya sendiri belum ada kepastian
apakah masih akan berlanjut atau sudah berkahir sampai episode 74.
Dari
awal saya menonton kartun Jepang, ternyata, banyak sekali isu-isu penting yang
disuguhkan secara jelas. Yang pasti, anime bukan lagi sekadar kartun dengan
tampilan menarik untuk dilihat. Di balik itu, ada beragam hal yang meliputi
peristiwa dengan semangat zamannya. Bisa berupa politik, ekonomi dan seputar
isu-isu yang sedang berkembang. Seperti pada serial Sword Art Online, saya
menangkap dimensi virtual yang tidak lagi sekadar ancaman. Sedangkan Bungou
Stray Dogs memantik saya untuk lebih banyak lagi membaca karya-karya Ogai,
Nakajima Atsushi dan Osamu Dazai.
HAFIDZ AZHAR | PEMBACA SASTRA DAN SEJARAH
image: Theopile Bartz




