Offside

Bahasa Indonesia tampaknya belum mampu menemukan padanan kata yang tepat untuk istilah offside dalam sepakbola. Hal ini terbukti ketika saya mencoba mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia melalui daring belum lama ini. 

Indonesia yang katanya negara sepakbola ini, menurut hemat saya, tak ada salahnya menyepakati sebuah istilah yang pas untuk mendiskripsikan offside. Pada dasarnya, offside adalah sebuah aturan yang bertujuan menjelaskan suatu pelanggaran dalam pertandingan. 

“Sit opset sit,” ujar para pemain sepakbola +62. 

Begitulah pemain sepakbola tanah air menyebutkannya. Mereka cenderung melafalkannya dengan “opset” ketimbang “ofsaid”. Ini tentu bukan suatu kesalahan yang perlu diperdebatkan. Karena sejatinya, ada banyak cara untuk berbicara dengan interpretasi masing-masing individu. 

Di tatar Sunda, kultur sepakbolanya amat kuat. Saking kuatnya, istilah offside diterjemahkan menjadi megat aci. Ini menandakan, selain sepakbola, budaya menunggu cukup lestari di sana. 

Lebih ekstrem lagi di kampung halaman saya, Karimun, Kepulauan Riau. Mereka menyebutnya dengan istilah “outsaid”. Saya rasa, inilah contoh perilaku offside yang eksplisit dalam penggunaan kata itu sendiri. 

Di Wikipedia, offside diterjemahkan menjadi luar posisi. Aturan ini, tertuang dalam Laws of the Game milik FIFA di hukum nomor 11. 

Kalau digambarkan, seorang pemain dianggap offside bila tersentuh bola atau menerima umpan bola dari rekan satu tim, dengan keadaan pemain tersebut berada mendahului pemain paling belakang dari tim lawan dan apabila pemain tersebut berada lebih dekat dengan garis gawang lawan setelah kiper. 

Saya menyederhanakannya dengan suatu posisi yang kelewatan atau berlebihan. Tapi ada benarnya juga, kata guru ngaji saya dulu, apapun yang dilakukan secara berlebihan (offside) memang jarang sekali bermuara kepada kebaikan. Namun ini mungkin tak termasuk untuk ibadah dan uang. Haha.

Baiklah, kita kembali kepada pokok pembahasan awal terkait dengan bahasa dan istilah. Selain offside, ada beberapa istilah sepakbola yang sudah mengindonesia di kamus besar. Seperti sepak mula untuk menggantikan kata kick off, sepak pojok dan tendangan sudut untuk kata corner kick, pelanggaran untuk kata foul dan beberapa istilah lainnya. 

Menarik juga untuk menantikan istilah offside dalam bahasa Indonesia ke depannya. Tapi, sementara kita masih mencari kata yang pas dari istilah tersebut, di Eropa dan sejumlah negara maju sudah menemukan VAR (Video Assistant Referee). 

Sebuah teknologi yang dibuat untuk menjawab keraguan wasit saat pertandingan berlangsung. Biasanya, VAR dipakai untuk memeriksa kejadian penting. Misalnya, apakah gol yang baru saja terjadi sah dan tidak mengandung offside dan lain sebagainya. 

Namun setelah dipikir lamat-lamat, istilah offside di Indonesia tak masalah bila disebutkan dan diterjemahkan secara beragam. Karena pada hakikatnya sepakbola itu sendiri adalah bahasa yang menyatukan.***

 

FERRI AHRIAL | KOLOMNIS 

image: The Economist

Picture of Redaksi

Redaksi