Perjalanan baru saja saya mulai. Di atas bus ekonomi AC, semua orang duduk dengan isi kepalanya masing-masing: membayangkan tujuan, mengenang yang ditinggalkan, menangisi kekasih, menguatkan cita-cita, dan sebagainya. Sopir menyetel lagu kebangsaan perjalanan. “Walau Hati Menangis” yang dinyanyikan Pance Pondaag.
Mungkin lebih baik begini, menyendiri di sudut kota ini, kututup pintu hati untuk semua cinta walau batin ini menangis…
Hujan turun di sore ini. Saya mencegat bus di pinggir jalan By Pass, tepat di bawah fly over Sultan Agung. Bus sesak. Saya duduk di kursi pojok belakang. Air merambat di jendela bus Minanga jurusan Kota Bumi-Jakarta itu. Orang-orang berhimpitan dengan barang bawaan. Suara orang anak menangis terdengar dari depan. Seorang laki-laki video call mungkin dengan istri atau pacarnya. Percakapan yang begitu mesra terdengar ke seantero bus. Suara perempuan terdengar dari loud speaker HP. Sesekali laki-laki itu merayu dan perempuan tertawa. Penumpang di sebelahnya sesekali memiringkan badan karena malu sendiri dengan percakapan laki-laki di sebelahnya. Seorang laki-laki tertidur dan terhuyung-huyung hampir jatuh ketika bus direm.
Di perjalanan saya memperhatikan rumah-rumah yang menghadap ke jalan. Rumah-rumah terus melaju di kaca jendela seperti frame-frame yang terus bergerak di dalam film. Saya menatap berbagai potongan adegan kehidupan di dalamnya. Di satu rumah, saya melihat seorang kakek bertelanjang dada duduk di sebuah kursi di teras rumah. Kulitnya gelap terbakar matahari. Rambut dan jenggotnya putih. Di jarinya terselip sebatang keretek. Rumahnya bata tanpa plester. Rumah-rumah lain terus melaju di tengah hujan yang semakin deras.
Saya teringat cerpen “Rumah-Rumah Menghadap ke Jalan” karya Raudal Tanjung Banua di dalam buku Parang Tak Berulu (2005). Dikisahkan seorang cucu yang tinggal bersama kakek Khaidir atau biasa dipanggil Kadi oleh orang-orang kampung. Ayah si “aku” adalah anak tertua si kakek dan memilih menyeberang ke negeri Jiran bersama istri dan dua orang anaknya yang masih kecil. Sementara si “aku” ditinggal bersama kakek. Si kakek selalu bercerita (berkeluh-kesah) dengan nada haru tentang jalan. Bagi si kakek, ujung jalan seakan tak berkesudahan, bagai nasib para pelintas, entah sampai entah tidak. Ia selalu bergumam “rumah-rumah menghadap ke jalan, dan membuka pintunya untuk kepergian.”
Rumah kakek Kadi sendiri menghadap jalan utama yang menghubungkan kota-kota di selatan dan utara. Sesekali ia melintasinya untuk mengantarkan cabe merah keriting hasil keringatnya ke kota. Kadang-kadang hatinya hancur ketika harga cabe jeblok di pasaran. Akan tetapi, perenungannya yang tampak abadi adalah tentang jalan dan rumah-rumah yang menghadap ke jalan. Baginya, rumah-rumah itu selalu membuka pintu untuk kepergian, tetapi belum tentu menerima kepulangan. Gerobak dan pedati tercampakkan ke rumah-rumah kosong tak berpenghuni.
Rumah-rumah di kampung dari hari ke hari ditinggalkan penghuninya merantau ke kota untuk mengadu nasib. Sementara kota seperti danau yang menampung aliran air dari desa-desa secara pasti terus menerima kedatangan-kedatangan, tetapi tidak membuka kepergian-kepergian. Orang-orang datang ke kota dan menetap menjadi bagian dari kerumitan kota.
Lagu Nia Daniati “Burung Pun Ingat Pulang” mengalun dari speaker bus. Jauh kapal berlayar, Singgah di dermaga walau sebentar, tidak, tidak seperti kamu, pergi ke seberang sudah tak ingat pulang…
Di jalanan yang berkelok dengan tikungan tajam dan berlubang kantuk saya semakin dalam.
JEJEN JAELANI | KOLOMNIS




