Berhenti Karena Titik

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

Tentu, ada tanda baca lain yang tak semutlak titik. Namanya, koma. Istilah yang sama kita pakai juga untuk orang yang tidak sadarkan diri di ruang gawat darurat. 

Titik ada buat berhenti. Saya pun takjub di bab penghabisan novel The Autumn of the Patriarch
karya Gabriel Garcia Marquez. Kayaknya bab itu mesti dibaca sekali duduk deh, tanpa jeda. Isinya
bukan hanya terdiri atas satu paragraf, sebagaimana bab-bab sebelumnya, melainkan juga terdiri
atas satu kalimat. Kalimatnya menyita ruangan sekian halaman. Sungguh susunan kata yang
beranak-pinak, melingkar dan memanjang, seperti labirin yang tak berkesudahan. 

Hari ini pembaca tidak sabaran. Internet mengirim banjir data dan informasi begitu cepat, dan
pembaca melupakan segalanya dalam tempo yang tak kalah cepatnya. Buat pembaca demikian,
kalimat sepanjang itu barangkali bisa bikin depresi. Namun, justru di situ saya sendiri bertanyatanya: pertimbangan apa kiranya yang mendorong sang pengarang untuk mengandalkan kalimatkalimat panjang dalam karyanya? 

Kalau saya tidak keliru, Marquez mengawali karier kepenulisannya sebagai jurnalis, profesi yang
sangat mengandalkan kalimat nan singkat dan padat. Kenapa atuh dalam novel itu dia mengandalkan
kalimat-kalimat panjang? Saya menduga, salah satu faktornya adalah pokok perkisahan itu sendiri.

Novel itu menggambarkan apa yang terjadi ketika seorang tiran mati. Latarnya, sudah pasti, Karibia,
kawasan Amerika Latin tempat junta militer datang dan pergi silih berganti. Cara bercerita yang
diandalkan, saya kira, adalah sejenis monolog interior yang disenyawakan dengan humor yang
kelam.

Dengan cara itu, tergambarlah sosok sang “paduka jenderal” yang amat berkuasa tapi juga amat
kesepian. Ia merasa, dan dipercaya, bisa mengendalikan langit dan bumi tapi juga tersiksa oleh
hernia, insomnia, dan dalam kesendiriannya hanya bisa meratap kepada sang ibu yang telah tiada. Ia
hidup di istana di tengah kawanan sapi yang bisa naik balkon dan kawanan ayam yang berkotekkotek di antara derap sepatu lars. 

Labirin kalimat-kalimat panjang tadi sepertinya memungkinkan penelanjangan atas kerumitan psike
sang tiran, sebagai “tahanan dari kekuasaannya sendiri”, beserta arus kesadaran atau
ketidaksadarannya sendiri. Pembaca barangkali dapat ikut merasakan efek depresif dari labirin itu.
Buat bersimpati? Bukan, saya kira. Efek terpenting yang hendak dicapai kiranya adalah penegasan
bahwa kediktatoran adalah sejenis kegilaan. 

Edisi Indonesia dari karya Marquez hadir dengan judul “Tumbangnya Seorang Diktator” dan
diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada 1992, masa senjakala kediktatoran Soeharto. Saya
membacanya semasa masih kuliah. Kamu koq baca itu, komentar ayah saya sewaktu dia masih
bekerja buat pemerintah. Edisi Inggrisnya baru saya baca belakangan ketika ayah saya sudah
bertahun-tahun menanggalkan potret Soeharto dari dinding ruang tamu. Mohon ampun, saya tidak
paham bahasa Spanyol. 

Kuasa politik seorang tiran memang maunya tidak sampai berhenti. Namun, tiba juga saatnya ketika
burung-burung nazar dari berbagai penjuru negeri berdatangan memecahkan dinding kaca istana.
Sang tiran akhirnya hanya seonggok tubuh yang tergeletak di atas lantai dengan kepala
menelungkup berbantalkan sebelah tangan. 

Selalu ada titik buat akhir kalimat. Selalu ada akhir waktu bagi kekuasaan mutlak yang maunya
langgeng. Kata kunci yang, mungkin dengan terpaksa, akhirnya diucapkan oleh Jenderal Soeharto
pada 1998 adalah “berhenti”. Itulah ucapan yang menandai berakhirnya sebuah era, seperti titik
yang menandai akhir kalimat. 

Tentu, ada tanda baca lain yang tak semutlak titik. Namanya, koma. Istilah yang sama kita pakai juga
untuk orang yang tidak sadarkan diri di ruang gawat darurat. Kemungkinannya cuma dua: dia bangun
lagi atau terus mati. Sebagai tanda baca, koma merupakan semacam jeda atau kesempatan buat
menarik nafas. Kita kan bakal megap-megap jika harus membaca kalimat dalam prosa yang tidak
ada titiknya. Kalaupun dalam puisi jarang kita temukan titik tapi kan biasanya di situ ada
pemenggalan larik, semacam tegangan antarujaran. 

Ada juga tanda baca yang sering membuat saya bimbang, dan karena itu jarang saya pakai dalam
tulisan, yakni titik koma. Buat saya, tanda baca yang satu ini kayak akhir kalimat yang sebenarnya
belum tamat. Kebimbangan serupa sering saya rasakan kalau membaca sejarah. Apakah yang kita
sebut “masa lalu” benar-benar sudah berlalu? 

Salah satu blurb buat novel Marquez terbitan Penguin menyarankan orang agar membaca The
Autumn of the Patriarch lebih dari sekali. Nah, itu dia. Meski di akhir prosa ada kata “the end” alias
“tamat”, orang toh bisa membacanya dari awal lagi. Meski sudah sampai titik, pembaca tidak benarbenar berhenti. 

Walhasil, titik buat penulis, koma buat pembaca. Adapun sejarah penulis dan pembaca barangkali
seperti titik koma.***

HAWE SETIAWAN | DOSEN DKV FISS UNPAS & KOLOMNIS

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq

Picture of Redaksi

Redaksi