Pokoknya Lokal!

 

Glokalisasi adalah konsep adaptasi sebuah objek atau gagasan yang melibatkan penggabungan dari pengekatan globalisasi dan lokalisasi, gagasan yang menurut saya paling menarik adalah delokasi/relokasi. Di mana masyarakat lokal terangsang dalam memunculkan definisi baru dan artikulasi baru dari kekhasan karakter kultur lokalnya, ketika bersentuhan dengan kultur global, dikarenakan entitas kultur lokal yang sudah lama berproses, terbentuk hingga diyakini menjadi sebuah sistem oleh masyarakatnya harus menyesuaikan dengan gempuran entitas kultur global yang begitu dahsyat dan juga mulai diyakini oleh masyarakat. 

Terutama pada era postmodern saat ini, dikarenakan kultur global secara bersamaan hadir berdasarkan kebutuhan dan keinginan masyarakat lokal itu sendiri. Begitupun sebaliknya dengan kultur global, ia akan sangat diperkarakan dan diperkaya oleh entitas kultur lokal, terutama agar bisa dengan mudah berbaur dan diterima oleh kultur lokal.

Hal tersebut diatas merupakan simpulan dari salah satu materi kuliah filsafat kebudayaan yang saya ikuti, menarik rasanya jika saya, yang notabene penggiat desain komunikasi visual menghubungkan glokalitas dalam konteks dkv itu sendiri. Ada sebuah strategi/prinsip yang dibahas dalam mata kuliah tersebut, yaitu E3P (EXPLORE, ENHANCE, EXPOSE, & PROMOTE), sebuah prinsip pengembangan  objek kajian disesuaikan dengan perkembangan kondisi lingkungan sosialnya, terutama konteks budaya masyarakat yang berkembang.

Selanjutnya, bagaimana mewujudkan secara konkrit strategi/prinsip E3P dalam bidang Desain Komunikasi Visual, tentunya, strategi explore yang akan dilakukan adalah melalui pemanfaatan kinerja otak dan fikiran, memaksimalkan konsep berpikir kreatif dalam menentukan atau menggali gagasan yang akan dikomunikasi oleh desainernya sendiri, pemahaman eksplorasi bisa sangat luas, tergantung dari sudut pandang, pengalaman, lingkungan bahkan latar pendidikan secara teoritis desainernya, yang nantinya akan dielaborasi dengan hasil analisis sasaran komunikasinya, tentunya melalui analisis target dengan cara studi lapangan dengan pendekatan etnografi dalam konteks (lokalitas).

Strategi enhance yang akan dilakukan berhubungan dengan proses produksi desain dengan menggabungkan konsep modern dalam arti (global) menggunakan mesin-mesin produksi, tanpa menghilangkan unsur-unsur kelokalan, juga menggunakan media-media dengan konsep global. Strategi expose yang akan dilakukan adalah mengembangkan proses produksi desain menggunakan perangkat lunak desain yang update dan mengaplikasikan final artwork desainnya dengan teknologi modern (global), dengan dibubuhi unsur-unsur dari objek lokal.

Tahap terakhir adalah strategi promote, dalam hal ini desainer harus berani menunjukan siapa dirinya dan apa karya yang sudah dibuat, melalui media-media yang baru, terutama pemanfaatan media kekinian (media sosial) yang sudah begitu global.

Dari penjabaran ketiga strategi diatas, penting kiranya kita, juga saya pribadi berusaha untuk berfikir dan berimajinasi mengenai pemahaman ke-dkv an kita untuk berkembang, terutama di era pandemi seperti saat ini, yang mana sektor industri kreatif terkena dampak yang cukup signifikan, dan media digital seolah-olah menjadi ujung tombak media komunikasi.

Banyak aktifitas komunikasi visual yang masih terjebak di area penjualan (marketing) saja tanpa memperhatikan konsep sosial dan humanis. Desainer seolah terjebak di area persuasi saja, bagaimana menarik perhatian, bagaimana menjual, bagaimana mempengaruhi, tanpa disadari konsep manusia yang berbudaya, khususnya di nusantara yang semakin peduli terhadap asal usulnya dalam kontek lokalitas.

Perlu disadari, khususnya manusia nusantara termasuk kedalam jenis manusia yang membumi, menyatu dengan alam, terlepas kontek bauran pengetahuan dari luar (global), pada prinsipnya mereka ketika akan melakukan sesuatu selalu berkomunikasi dengan alam/lingkungannya (lokalitas), sehingga mempengaruhi terhadap struktur berpikir dalam mencerna komunikasi visual yang dia dapat, bahkan dalam proses mempersepsi juga mencipta yang akan selalu berhubungan dengan alam dan pencipta tentunya.

Akhirnya kita semua harus sadar, sebagai penggiat komunikasi visual, bahwa elaborasi globalisasi dan lokalisasi, merupakan konsep dasar yang bisa kita gunakan dalam menyelesaikan permasalahan komunikasi visual, baik itu area komersial maupun sosial, sehingga diharapkan pesan yang akan kita sampaikan tidak menemui noise yang bisa membuat kesalahan persepsi.***

 

FADHLY ABDILLAH | DOSEN DKV FISS UNPAS

image: Barbara Mae

Picture of Redaksi

Redaksi