Membaca dan Menulislah, Maka Kamu Ada!

 

Dikatakan dalam buku Kebudayaan dan Kondisi Post-Tradisi,
karya Bambang Sugiharto, bahwa budaya baca tulis memaksa orang berhadapan
dengan dirinya sendiri, melalui buku yang dibacanya menantang pemikiran
panjang, menyeret individu pada refleksi ke dalam diri dan merangsang imajinasi
tanpa henti. Begitu pula dengan menulis, melalui tulisan juga menantang
individu berusaha untuk merealisasikan atau mengkonstruksi imajinasi hasil
membaca kedalam ruang pengetahuan baru dalam rangkaian kata-kata yang harmonis,
enak didengar dan mudah dipahami.

Dengan membaca sebenarnya membuat otak kita aktif bekerja,
membaca mengajak kita berbicara dengan diri sendiri, umumnya dalam batin, tidak
disuarakan. Ketika kita membaca dengan bersuara, kita menghayati kondisi emosi
secara intens, misalnya saat tiba-tiba menemukan solusi yang ditunggu-tunggu,
saat marah, saat teringat seseorang yang sangat dirindukan, mungkin kita ingin
merealisasikan harapan akan kebersamaan dengan membayangkan ia ada dan
mengajaknya berbicara. 

Saat intens membaca, kita berpikir dan mungkin jadi
lebih jelas mengenai alternatif penyelesaiannya. Membaca dengan suara keras ke
diri sendiri jarang dilakukan. Mungkin lebih sering terjadi ketika kita sedang
tertekan, tegang, kacau, singkatnya berpikiran penuh, seperti ada pergolakan
dan pemberontakan di dalam batin yang menuntut dan berteriak untuk dikeluarkan.

Dengan membaca kita sebenarnya berusaha mengkonstruksi
capaian atau tujuan yang diharapkan, informasi yang kita baca bisa disesuaikan
dengan pengalaman yang pernah kita dapat, terutama kesejahteraan dan
kebahagiaan psikologis kita. Dengan membaca, kita memotivasi diri, menanamkan
percaya diri, meyakinkan pada kemampuan dan penilaian diri, mengembangkan
gambaran diri tentang kondisi dunia yang lebih baik dan juga mendorong gerak
konstruktif melakukan sesuatu. Self-talk positif menjadi bentuk afirmasi,
kalimat berulang yang kita sampaikan kepada diri sendiri untuk menguatkan diri.

Apalagi menulis, sulit bagi individu untuk menulis, jika
dirinya jarang membaca. Menulis juga merupakan proses meng-upgrade kemampuan
berpikir logis, kritis dan analis, otak diajak beraktifitas, menari, bahkan
berlari, prosesnya bisa perlahan juga cepat, tergantung aktiifitas dan nutrisi
bacaan setiap individunya.

Menulis membutuhkan konsentrasi tinggi, terutama bagi para
pemula, tak jarang mereka harus berpikir keras merelasikan pikiran dengan
jemari tangan, baik itu menulis cerpen, makalah, narasi, artikel dll. Pokoknya
semua hal yang berhubungan dengan menulis harus dibarengi oleh kegiatan
membaca, biar tidak macet berpikir.

Menulis juga sebuah bentuk rekreasi logika, yang membutuhkan
modal, kendaraan juga tujuan, agar menulis kita sesuai dengan rencana dan
gagasan otak kita, seperti halnya yang dikatakan mentor saya “nulis mah make
awak sorangan”
, menulis itu menggunakan tubuh kita sendiri, hanya kita yang
mampu membawa ke arah mana tulisan itu akan dibawa, bagaimana tulisan itu
bercerita, bagaimana bahasa yang akan digunakan, sepertinya refleksi diri
terlihat dalam tulisan.

Sudah selayaknya agar tubuh kita mampu menulis dengan baik,
terjadi koordinasi yang baik antara otak dan jemari tangan, juga gagasan. Kita
harus banyak membaca, mengobrol, mendengarkan, bahkan berdiskusi bebas, seputar
apapun, agar otak kita terbiasa untuk berimajinasi, berpikir kritis, logis dan
muncul kemauan untuk merealisaikan, tentunya tidak hanya sekadar wacana.

Seperti istilah yang sering kita dengar dalam permainan
sepakbola bukan profesional, kadang juga kita mendengar dalam permainan
profesional “aya keur lumpat, eweuh keur najong”, ada tenaga untuk berlari
menggiring bola, tapi tak ada tenaga untuk menendang bola. Itulah kira-kira
perumpamaan sederhana bagi siapa saja yang berusaha untuk menulis, tanpa
dibarengi oleh usaha untuk membaca.***

FADHLY ABDILLAH | DOSEN DKV FISS UNPAS

image: Grace Dunlavy

Picture of Redaksi

Redaksi