Kijang Memang Tiada Duanya

 

 

 

“Tayangan iklan itu menampilkan keluarga kecil yang bahagia, ada bapak-ibu, kakek-nenek, dan dua anak kecil di dalamnya, mereka sedang melakukan perjalanan melintasi jalan berbukit yang hijau nan indah.”

 

Ya, esai ini memang akan bercerita tentang pembelian 176
mobil Toyota Kijang Innova di Desa Sumurgeneng, Tuban. Tapi tenang saya tidak
akan berkomentar apalagi menggurui soal keputusan mereka untuk membeli mobil
atau barang apapun, karena itu memang hak mereka, jadi sah-sah saja mereka mau
menggunakan itu untuk apapun juga. 

 
Lalu, apa yang penting selain itu untuk
dibahas? Dari berita menghebohkan yang viral itu, ada satu sudut pandang yang
justru menarik perhatian saya, yaitu kenapa Toyota Kijang Innova? Ada sekian
banyak merk mobil lainnya, tapi kenapa pilihan mereka jatuh pada Toyota Kijang?
 
Dulu sekali, saat saya masih anak-anak, ada sebuah slogan
yang sampai hari ini 
masih terngiang-ngiang di pikiran saya, bunyinya
“Kijang Memang Tiada Duanya.” Saya pun akhirnya melakukan penelusuran
di youtube untuk sekadar mencari ingatan tentang iklan jadul itu. Benar saja,
saya menemukan iklan Toyota Kijang berdurasi 31 detik. 
Tayangan iklan itu
menampilkan keluarga kecil yang bahagia, ada bapak-ibu, kakek-nenek, dan dua
anak kecil di dalamnya, mereka sedang melakukan perjalanan melintasi jalan
berbukit yang hijau nan indah. Lalu, tepat di akhir tayangan, slogan legendaris
yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya muncul dari suara seorang laki-laki yang
bernada berat dan elegan, seraya dia berkata, Kijang Memang Tiada Duanya.

Iklan Toyota Kijang itu sering muncul di tahun 90-an sewaktu
saya sedang menonton televisi. Saat itu belum ada ponsel pintar, jadi saya
menontonnya di sebuah televisi tabung yang terletak di tengah-tengah ruang
keluarga, dan sepertinya memang hanya TV yang mampu membuat kami sekeluarga
bisa berkumpul bersama-sama. 

“Ganti dulu aja, kan lagi iklan,”
celetuk adik saya yang kesal karena muncul tayangan iklan di sela-sela tontonan
kartun kami. Tak jarang juga yang kami tonton sebenarnya pilihan dari Bapak dan
Ibu yang memang punya kedudukan lebih tinggi di rumah, bisa berita atau sebatas
tayangan talkshow kesayangan mereka.

Entah kenapa, saya selalu menganggap kalau konsep sebuah
tayangan iklan bersifat gangguan atau bahasa kerennya disruption.
Sekarang pun begitu, di YouTube memang ada fitur skip ads setelah
beberapa detik tayang, tapi kalau ingin hilang sepenuhnya kita harus
berlanggan fitur premiumnya. Kita seperti dipaksa untuk mengorbankan sesuatu, jadi bila kita benar-benar menginginkan iklan itu hilang, tinggal pilih saja waktu atau uang yang jadi
kompensasinya.

Belum lagi kalau kita bicara soal algoritma yang katanya
didesain memang untuk membaca semua perilaku kita selama berselancar di
internet. Mereka seperti mampu memahami apa pikiran kita, sejenak ingin ini,
lalu tiba-tiba akan muncul itu. Terkejut? Ya, pasti, siapa yang tidak kaget
dengan hal itu. 
Was-was? Ya, bisa jadi, rasanya seperti ada sosok yang
mengawasi dan mencatat apa yang sedang kita lakukan, sambil bersiap-siap
menyodorkan hasil analisa mereka atas pikiran kita. Kalau dulu ada seorang
pengamat budaya populer yang mengatakan, “Kita bukan sedang menonton
televisi, tapi televisilah yang sedang menonton kita.” Maka bisa
dipastikan bahwa hari ini lebih canggih dari amatan si budayawan itu.

Lalu, apa bedanya televisi saat itu dengan media sosial hari
ini? Mari kita jawab secara sederhana. Siapa yang berwenang menentukan apa yang
kita tonton di televisi? Jawabannya bisa beragam, tapi di dalam satu keluarga
kecil, bila si Bapak ingin menonton berita, maka tayangan beritalah yang kita
tonton bersama-sama. 
Ada kalanya saya dan adik ingin menonton kartun,
maka Bapak dan Ibu harus mengalah pada kehendak kami saat itu. Sementara
media sosial kewenangannya ada pada masing-masing orang, kenapa? Karena kita
masing-masing punya ponsel pintar yang khusus akan membaca siapa kita dan
bagaimana kita berperilaku.

Tapi, apa kaitannya dengan warga di Desa Sumurgeneng, Tuban
yang berbondong-bondong membeli Mobil Kijang? Di ujung esai ini saya hanya
ingin menyampaikan bahwa bila saya yang juga mendapatkan dan berhak menggunakan
uang itu untuk membeli apapun, maka sangat mungkin, saya akan membeli hal yang
sama karena kami bertahun-tahun menonton tayangan yang sama, yaitu Kijang
Memang Tiada Duanya.

Kedai Jante, 25 Februari 2021

FITRA SUJAWOTO | KOLOMNIS

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq

 

Picture of Redaksi

Redaksi