Tapi mengapa, secara nasional, para seniman pop sunda kalah bersaing dengan seniman campursari dan dangdut koplo dari Tengah dan Timur Jawa?
Malam itu, Wish You Were Here-nya Pink Floyd hampir lenyap ditelan hujan, sayup terdengar suara Gilmour yang lirih. Memori berkelebatan di antara kepulan asap dan barisan CD yang berdebu tak terurus. Sebuah CD kompilasi pop sun
da rilisan tahun 2004 terlihat lebih lusuh seakan dibaptis kelembapan udara dan nikotin.
Covernya bergambar Bima—sebuah pilihan yang aneh. Berisi lagu-lagu Sunda dari Bubuy Bulan sampai Bangbung Ranggaek. Saya mengambil dan memutarnya, ada romantisme. Kembali ke masa kanak-kanak; masa di mana setiap harinya penuh dengan canda dan tawa, nyaris tiada duka dan lara.
Lagu Pileuleuyan membuat saya termenung dan menyadari sesuatu: hari ini pop sunda seakan tak bisa mengimbangi gerak waktu, ia tertinggal. Sekitar tahun 90 hingga 2000an, pop sunda pernah popular. Darso sang fenomenal itu begitu akrab dengan keseharian orang Sunda. ‘Kabogoh Jauh’ menggema di setiap sudut Warkop, pangkalan ojek, dan konter pulsa.
Doel Sumbang, bahkan pernah membawa marwah pop sunda melintasi batas-batas provinsi, bahkan negara: Kalimera ya Athena! Namun kini, pop sunda nyaris tidak terdengar. Hal ini cukup membuat saya bingung. Sebagai produk budaya poplar, ia seharus mampu meladeni perubahan zaman. Tetapi, nyatanya, tidak. Ia seakan-akan mengalami sembelit.
Sementara itu, di Jawa bagian Tengah dan Timur. Para seniman campursari dan dangdut koplo saling berganti mengisi popularitas di kancah Nasional. Memang, para seniman Jawa ini memiliki modal yang sangat berlimpah untuk terus bersinar. Dari masyarakat pendukungnya hingga media yang berada di belakangnya.
Tapi, secara musikalitas, secara lirikal, pop sunda menawarkan sesuatu yang sama eratnya dengan batin masyarakatnya—tema-tema keseharian yang dekat, yang nyata, yang dialami oleh banyak orang. Tapi mengapa, secara nasional, para seniman pop sunda kalah bersaing dengan seniman campursari dan dangdut koplo dari Tengah dan Timur Jawa?
Selain dari masalah—meminjam istilah Bourdieu—‘modal kultural’, pop sunda, saya kira berada di persimpangan waktu yang taksa. Ia telah cenderung memistifikasi dirinya menjadi sesuatu yang ‘sakral’, menjadi semacam tradisi itu sendiri. Dalam seni tradisi, ketokohan memiliki posisi yang sangat sentral. Menjadi semacam ‘axis-mundi’. Hal ini dapat menimbulkan masalah besar dalam proses pewarisnnya.
Para seniman pop sunda terdahulu dengan posisinya itu akan dijadikan lebih dari sekedar kiblat dan sumber inspirasi. Sehingga para pewarisnya hanya melakukan peniruan-peniruan yang berotasi pada sumber yang itu-itu saja. Tentu, kita yang melihatnya akan bosan juga—karena lebih baik mendengarkan kembali lagu-lagu lawas Led Zeppelin daripada Greeta Van Fleet.
Gilmour sampai pada bait paling lirih, “We’re just two lost souls. Swimming in a fish bowl. Year after year. Running over the same old ground. What have we found? The same old fears…” yang dengan segera menyadarkan saya bahwa perubahan itu terkadang dihindari karena mungkin akan terasa sangat menyakitkan. Tapi, rasa sakit ada kalanya harus kita rasakan demi terbebas dari rasa sakit itu sendiri.***
LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN TELKOM UNIVERSITY
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq




