Saya sangat menggemari film-film zombie, bahkan saya percaya bahwa suatu hari nanti zombie apocalypse sangat mungkin terjadi. Keyakinan ini mendorong saya untuk mulai berlari setiap akhir pekan—setidaknya jika bencana itu benar-benar datang, saya bisa kabur lebih cepat. Selain meningkatkan stamina, saya juga mempersiapkan berbagai strategi bertahan hidup dalam menghadapi serangan zombie yang saya dapatkan dari menonton film-film zombie. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari lokasi yang aman. Mall bisa menjadi opsi yang tepat karena menyediakan berbagai persediaan seperti sandang dan pangan, tetapi sebaiknya hindari mall yang terlalu terbuka atau memiliki banyak akses masuk yang sulit dikontrol.
Setelah menemukan mall atau tempat berlindung yang cukup aman, langkah berikutnya adalah mencari senjata seadanya, seperti balok, botol kecap, hingga molotov. Ingat, serangan ke kepala adalah cara paling efektif untuk membunuh zombie. Jika menemukan pistol, itu lebih baik. Tapi ingat juga, gunakan pistol hanya dalam kondisi darurat karena suara tembakan dapat menarik perhatian zombie. Selain itu, mengenali perilaku zombie tidak kalah penting. Amati apakah mereka bergerak lambat atau cepat. Lalu apakah mereka berburu berdasarkan suara atau bau. Kemudian yang paling penting, tetap berada dalam kelompok yang kecil karena dapat meningkatkan peluang bertahan hidup.
Tapi, dari mana awalnya zombie? Mereka tidak ujug-ujug nonggol di layar kaca begitu saja. Pada mulanya, zombie hanya legenda yang berkembang di kepulauan Karibia. Seiring waktu berjalan, makhluk ini merangsek masuk ke dalam budaya pop Amerika Serikat. Lalu menyebar ke seluruh dunia menjadi ikon tak tergantikan dalam genre horor. Istilah zombie sendiri, menurut Russell (2007), kemungkinan besar berasal dari berbagai kata dalam beberapa bahasa: seperti zonbi (Haiti), ombres (Prancis), jumbie (Karibia), zumbi (Afrika), nzambi (Kongo), atau zemis (Haiti), yang semuanya berkaitan dengan roh atau jiwa orang mati.
Alfred Métraux, dalam karyanya Voodoo in Haiti (1959), mendefinisikan zombie sebagai seseorang yang kematiannya telah tercatat secara resmi dan pemakamannya disaksikan, tetapi beberapa tahun kemudian ditemukan hidup dalam kondisi yang mendekati idiot. Menurut Wagner (2016), istilah zombie pertama kali digunakan di Haiti sekitar tahun 1780-an sebagai bagian dari tradisi mitis yang berkembang sejak era kolonial, khususnya terkait penindasan dan perbudakan di kepulauan Karibia.
McAlister (2012) berpendapat bahwa zombie mencerminkan, menanggapi, sekaligus memitoskan rasa takut terhadap kolonialisme. Zombie mengartikulasikan pengalaman traumatis dari perbudakan kolonial, melambangkan kehilangan otonomi dan kontrol atas tubuh. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai entitas horor, tetapi juga sebagai metafora untuk ketidakberdayaan manusia dalam sistem kekuasaan yang opresif.
Zombie mulai mendapatkan tempat dalam budaya populer Barat melalui literatur yang kemudian berkembang pesat di media film. Film zombie pertama yang diketahui adalah White Zombie (1932), yang disutradarai oleh Victor Halperin. Dalam film ini, zombie digambarkan dalam konteks Haiti, berupa mayat yang dihidupkan kembali melalui praktik voodoo dan dikendalikan oleh seorang tuan. Representasi ini masih sangat terikat pada mitologi dan kepercayaan asli dari Karibia. Perubahan besar dalam representasi zombie terjadi dalam film Night of the Living Dead (1968) karya George A. Romero. Film ini menampilkan zombie dalam bentuk modernnya: mayat hidup yang bangkit bukan karena kontrol supranatural, melainkan akibat infeksi atau eksperimen ilmiah. Selain itu, Romero memperkenalkan konsep zombie pemakan manusia, yang kemudian menjadi standar dalam film-film zombie berikutnya.
Sejak saat itu, film zombie berkembang dalam berbagai variasi, mulai dari film bertema apokaliptik seperti Dawn of the Dead (1978), film aksi-horor seperti Resident Evil (2002), hingga film dengan elemen komedi seperti Shaun of the Dead (2004). Pada era kontemporer, zombie tidak hanya muncul dalam film horor tetapi juga diadaptasi ke berbagai genre, seperti thriller, sci-fi, hingga drama sosial, seperti dalam serial Zombie (2015) dan The Walking Dead (2010).
Menurut Bishop (2010) dalam bukunya American Zombie Gothic: The Rise and Fall (and Rise) of the Walking Dead in Popular Culture, terdapat beberapa karakteristik utama dalam film zombie yang dapat dikategorikan berdasarkan tema dan struktur naratifnya. Salah satu elemen utama adalah kebangkitan mayat hidup, yang hampir semua film zombie mengisahkan orang mati bangkit kembali akibat ilmu hitam, penyebaran virus, atau eksperimen ilmiah.
Film zombie juga sering mengeksplorasi ketakutan akan kehancuran sosial dan menciptakan situasi post-apokaliptik. Selain itu, film zombie kerap digunakan sebagai alat kritik sosial, seperti dalam Dawn of the Dead yang mengkritik konsumerisme dengan penggambaran mal yang dihuni oleh zombie, atau Train to Busan (2016) yang mengeksplorasi isu kelas sosial dan korupsi dalam situasi darurat.
Dalam berbagai film, para penyintas zombie apocalypse biasanya adalah sekelompok individu yang berusaha bertahan hidup. Tidak hanya lewat konflik dalam menghadapi zombie, tetapi juga antar manusia yang dipenuhi ketegangan. Dalam perkembangannya, zombie tidak lagi digambarkan sebagai makhluk yang lambat dan bodoh. Sebagaimana terlihat dalam 28 Days Later (2002) dan World War Z (2013), yang menampilkan zombie dengan perilaku gerombolan yang lebih brutal. Menurut Vervaeke et al. (2017), zombie telah mengalami evolusi menjadi simbol budaya yang semakin kompleks, dengan cakupan makna yang melampaui konteks tradisionalnya. Tidak lagi sekadar berfungsi sebagai hiburan, zombie telah menjadi objek kajian akademik yang signifikan dan digunakan sebagai medium untuk menganalisis berbagai fenomena sosial, politik, dan budaya.
Nah, sebagai panduan untuk bertahan dalam zombie apocalypse, saya sarankan dan menawarkan Anda untuk menonton film-film zombie berikut. Film-film ini, menurut saya, tidak hanya mendefinisikan genre zombie tetapi juga menyajikan berbagai wacana yang menyertainya. Selain itu, daftar ini juga berisi film-film zombie favorit saya. Selamat menonton!
- Night of the Living Dead (1968) – Film klasik George A. Romero yang menjadi landasan bagi zombie yang diproduksi dikemudian hari, bahkan sampai sekarang!
- Kingdom (2019-2021) – Serial zombie Korea Selatan yang berlatar di era Joseon.
- Train to Busan (2016) – Film zombie Korea Selatan yang bagi saya menjadi bukti bahwa film zombie dapat diadaptasi di luar Hollywood dengan sangat baik.
- The Last of Us (2023-) – Serial ini diadaptasi dari game popular dengan judul yang sama yang menyajikan dunia pasca-apokaliptik dengan drama-drama yang menyebalkan.
- All of Us Are Dead (2022-) – Serial zombie Korea Selatan yang mengambil latar sekolah, menggabungkan horor dan coming-of-age dalam cerita bertahan hidup.
- Black Summer (2019–2021) – Serial spin-off dari Z Nation yang menghadirkan perspektif survival horror dengan gaya dokumenter yang imersif.
- 28 Weeks Later (2007) – Sekuel dari 28 Days Later, menghadirkan versi zombie yang lebih cepat dan agresif dalam suasana pasca-apokaliptik yang sangat-sangat mencekam.
- World War Z (2013) – Film blockbuster yang menampilkan wabah zombie dalam skala global dengan adegan serangan zombie yang luar biasa ganasnya dan juga konspirasi elit global yang tergambar secara implisit.
- Shaun of the Dead (2004) – Parodi zombie dengan sentuhan komedi khas Inggris yang dimainkan sangat apik oleh dua komedi legendaris Simon Pegg dan Nick Frost.
- [Rec] (2007) – Film found footage dari Spanyol yang menampilkan cerita intens dalam sebuah gedung apartemen yang terkunci akibat wabah zombie.
- The Walking Dead (2010-2022) – Serial zombie paling ikonik yang menggambarkan perjalanan panjang sekelompok penyintas dalam dunia yang dikuasai oleh mayat hidup. Season 1 sampai 4 masih ok, selebihnya membosankan.
Editor: Hafidz Azhar



