Hai, Yaqzan

Kata Mang Asep Syalik, teman sekampung saya dari Subang, hidup itu ada tiga macam: hirup cicing, hirup nyaring, dan hirup éling. Diam, terjaga, dan sadar. Di kepala saya seketika timbul tiga contoh: batu akik, ayam pelung, dan dosen Unpas.

Amsal tentang hidup manusia yang dalam liburan semester kali ini saya simak adalah kisah warisan abad ke-12 dari Spanyol: Hayy bin Yaqzan karya Ibnu Tufail yang termasyhur, terbit pada sekitar 555 H/1160 M. Hayy dan Yaqzan, sebagaimana Asal dan Salaman, adalah nama-nama tokoh cerita dalam buku ini. Meski bahasa Arab yang saya kenal baru sampai gerbang sharaf dan nahwu, sebutan “hayy” dan “yaqzan” di telinga saya menimbulkan ingatan akan “hidup” dan “eling”.

Terjemahan kisah ini dalam bahasa Indonesia sudah lama tersedia. Saya sendiri mengandalkan terjemahan Inggris dari Simon Ockley, orang yang konon pertama kali menerjemahkannya dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris pada 1708. Terjemahan Ockley yang saya baca dicetak ulang di Kuala Lumpur pada 2020, dan saya pesan dari sebuah kios daring di Depok. Sebagai bandingannya, sempat saya buka-buka terjemahan Inggris lainnya dari Lenn Goodman.

Kita sudah kenal ceritanya. Ketika masih bayi, Hayy terpaksa dihanyutkan ke laut oleh ibunya untuk menghindari murka raja. Angin dan gelombang membawanya ke sebuah pulau terpencil di garis khatulistiwa, dekat pesisir India. Itulah pulau tak berpenghuni dengan iklim yang tak ekstrem. Si anak ditemukan oleh seekor induk rusa yang baru saja kehilangan anaknya. Di hutan itu ia tumbuh hingga dewasa, hidup sebatang kara sebagai pertapa di sebuah gua. Sendirian di tengah kesunyian, tahap demi tahap ia belajar bernalar, mengenal alam raya, bahkan merenungi keberadaan Sang Pencipta. Itu jauh-jauh hari sebelum ia bertemu dengan sesama manusia seperti Asal, orang saleh yang ingin memencilkan diri, dan Salaman, penguasa alim di pulau lain yang ramai.

Manusia penyendiri dalam kisah ini, tentu saja, bukan Tarzan yang bergelantungan di janggut pohonan sambil berseru dengan gaya Bang Benyamin S.: “Ouoooo…!”, bukan pula Robinson Crusoe yang terlempar dari kapal karam sebelum jadi pengusaha perkebunan yang memperjualbelikan budak dan hasil bumi di pasar Eropa. Hayy dalam kesan saya adalah sejenis rahib soliter yang mencurahkan segenap jiwa dan raganya untuk pertemuan dengan Sang Pencipta. Dalam sudut pandang tokoh Asal, figur Hayy adalah “salah satu waliyullah (one of the saints of God)”.

Samar-samar saya mendapat gambaran mengenai kesanggupan manusia untuk mengembangkan nalar secara alamiah, tanpa pengaruh masyarakat. Nalar itu bahkan berkembang sampai jauh, menembus hal-ihwal yang tak terlihat dan tak tersentuh. Dari halaman ke halaman kisah yang kiranya terasa didaktis ini, pembaca diajak menyusuri jalur-jalur perenungan Hayy bin Yaqzan sampai ke dalam kesadarannya mengenai keberadaan “Yang Niscaya Ada dengan sendirinya (the necessary Self-Existing Being)”.

Dengan segenap kesadarannya yang dipusatkan kepada Sang Pencipta, Hayy bin Yaqzan memperlihatkan pula cara hidup yang dewasa ini barangkali dapat disebut mengandung kearifan ekologis. Dalam hal-ihwal yang berkaitan dengan tuntutan jasmaniah, ia sekadar memenuhi kebutuhan, dan berikhtiar untuk mengendalikan keinginan. Buah-buahan yang dia pilih, misalnya, mengandung biji-bijian sehingga bijinya bisa ditanam kembali di tempat yang tidak sembarangan. Dengan kata lain, konsumsi untuk kelangsungan hidup manusia tidak sampai mengancam kelangsungan hidup alam.

Dalam urusan kisah manusia sebatang kara, karya Ibnu Tufail kiranya tergolong yang pertama. Dari kisah ini, saya sendiri tertarik oleh motif hanyut, juga oleh citraan pulau terpencil dan gua. Hanyut dalam kisah ini tak ubahnya dengan hanyut dalam kisah Musa. Bedanya, jika Musa hanyut ke lingkungan istana, Hayy hanyut ke alam terbuka. Pulau terpencil dalam kisah ini bukan alam liar untuk ditaklukkan demi kedigjayaan manusia melainkan laboratorium tempat manusia mempelajari kebesaran Tuhan. Gua dalam kisah ini sepertinya berbeda dari gua Plato yang jadi simbol kegelapan sebelum manusia menyongsong cahaya terang di dunia luar, melainkan terasa lebih dekat ke gua Al-Kahfi tempat sang pertapa dapat melindungi diri dari korupsi masyarakat seraya berhikmat dalam asketisme.

Petikan larik-larik Qur’an terselip di sana-sini, hingga terasa jalannya cerita jadi penghantar ke dalam kandungan maknanya atau pemberi isyarat mengenai apa saja yang mungkin tersirat. Dalam kata-kata penulisnya sendiri, kisah ini menyampaikan “isyarat mengenai rahasianya rahasia (a glimpse of the secret of secrets)”.

Rahasia apakah gerangan? Mohon ampun, kesanggupan saya belum sampai ke situ. Baca sendiri, tentu, jauh lebih baik ketimbang baca komentar ini. Saya sekadar berikhtiar membuat diri saya sibuk cicing sambil belajar nyaring, siapa tahu sampai eling.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Sehari-hari mengajar di Unpas, menggambar dan mempunyai prinsip "slow living" alias "hirup salse".