Salah satu peristiwa yang memilukan berbulan-bulan lalu adalah ambruknya atap Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jl. Naripan No. 7-9, Bandung, pada 28 Oktober 2024. Konon, akibat dari kejadian itu, tiga orang mengalami luka-luka. Padahal saat itu sedang berlangsung pameran tunggal pelukis Ar. Soedarto bertajuk Enigma of Life dari tanggal 25 hingga 30 Oktober 2024.
Kejadian di tengah kegiatan pameran ini mengingatkan saya pada sejarah awal Gedung YPK yang bermula dari Societeit Ons Genoegen, lalu berubah menjadi I.E.V. Clubgebouw.
Namun, sebelum ke sana, saya ingin menjelaskan sekilas asal-usul di balik nama Jalan Naripan zaman Belanda. Menurut Haryoto Kunto (Seabad Grand Hotel Preanger, 1897-1997, 2000: 27) dan Sudarsono Katam (Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950, 2017: 13), Naripan adalah orang Betawi yang tinggal di sekitar jalan tersebut. Ia punya usaha berupa kereta kuda. Haryoto bilang beberapa buah, sementara Sudarsono menyebutnya pengusaha besar kereta kuda dari Batavia.
Benarkah demikian? Saya punya bahan perbandingan dari Deli Courant edisi 4 September 1889. Di situ tercantum berita singkat mengenai pelarian tiga buruh perkebunan Two Rivers di Deli pada malam 2 ke 3 September 1889. Ketiganya disebutkan sebagai bangsa Jawa. Menariknya yang pertama disebut adalah Naripan seorang “Bandonger” atau orang Bandung yang tingginya 155 cm, kedua Mad Halim orang Bandung juga dan tingginya 159,5 cm, terakhir Kemoen orang Banten.
Apakah ada hubungannya dengan nama Jalan Naripan? Terus terang, saya tidak tahu. Namun, yang jelas, di antara orang Bandung ada yang bernama Naripan. Jadi tidak mesti orang Betawi yang memiliki nama seperti itu. Atau, bisa jadi, suku bangsa lainnya yang berkelana ke Bandung dan kemudian meneken kontrak untuk menjadi buruh perkebunan di Deli, Sumatra Utara. Dari berita tersebut juga, saya jadi tahu bahwa istilah “ngabuang maneh ka Deli” (buang diri ke Deli) alias bekerja di kontrak perkebunan tembakau di Deli ternyata sudah berlangsung sejak tahun 1880-an. Dan ternyata termasuk orang Bandung.
Kembali ke Naripanweg. Nama jalan ini, sepanjang yang dapat saya telusuri, baru mulai digunakan dalam surat kabar De Preangerbode paling tidak sejak tahun 1902. Ini saya dapati dari berita-berita pelelangan, yaitu di rumah Nyonya Janda E. Von Horn pada 4 Juni 1902 (De Preanger-bode, 2 Juni 1902), rumah C. Th Mahieu pada 23 Agustus 1902 (De Preanger-bode, 20 Agustus 1902), O. Th Benjamins pada 9 September 1902 (De Preanger-bode, 2 September 1902), dan A.E. Bruns pada 23 Oktober 1902 (De Preanger-bode, 16 Oktober 1902).
Orang-orang yang melakukan pelelangan tersebut rata-rata bangsa Eropa dan menggunakan alamat “Kadjaksan girang, Naripanweg”, “(Kadjaksan-Hilir) Naripanweg”, dan “Kedjaksaan (Naripan-weg)”. Ini mengandung arti bahwa Naripanweg itu termasuk ke daerah Kajaksaan, baik Kajaksaan Girang maupun Kajaksaan Hilir.
Lalu, apa pertalian antara bangsa Eropa dengan Kajaksaan? Menurut hasil penelusuran saya, Kajaksaan termasuk salah satu dari lima kampung atau pusat pemukiman orang Eropa di Bandung, sebagaimana diatur oleh regulasi yang diterbitkan Residen Priangan, C.W. Kist dan sekretarisnya, E. Meertens, pada 20 Maret 1899 (De Preanger-bode, 12 April 1899). Kajaksaan disebutkan termasuk Wijk C. Dengan demikian, dapat dimengerti bila pada tahun 1902 banyak orang-orang berbangsa Eropa yang bermukim di sekitar Kajaksaan.
Sekitar awal tahun 1900-an lingkungan sekitar Naripanweg baik di kiri dan kanan jalannya banyak ditumbuhi pepohonan tinggi. Ini bisa kita lihat antara lain dari buku Bandoeng en de Hygiëne (1929) yang memuat sebuah foto dengan keterangan “1905 – Naripanweg vanuit den Bragaweg gezien” atau Naripanweg terlihat dari Bragweg.
Betapapun, dari hasil penelusuran yang saya lakukan, nama Naripanweg yang menjadi tempat berdirinya Gedung YPK, bisa jadi mulai digunakan paling lambat sejak tahun 1902. Dan kecuali mungkin di bagian belakangnya yang dijadikan pemukiman bangsa bumiputra, bagian depan Naripanweg saat itu dihuni secara ekslusif oleh bangsa Eropa. Karena Naripanweg termasuk wilayah Kajaksaan yang memang salah satu tempat bermukimnya bangsa Eropa di Bandung.
Editor: Hafidz Azhar
Ilustrasi: Naripanweg pada tahun 1905, sebagaimana terlihat dari Bragaweg. Sumber: Bandoeng en de Hygiëne (1929)



