Anjing itu Bernama Jules

Menurut Wa Hawe Setiawan, satu hal dapat kita sampaikan ketika menghadapi kabar kematian: tidak menceritakan bagaimana dia mati tetapi ceritakanlah bagaimana dia hidup. Mirip cuplikan dalam film Last Samurai. Sang Kaisar bertanya pada Nathan Algren, warga negara Amerika sekaligus tentara bayaran Jepang yang ditugaskan membasmi para samurai pemegang teguh tradisi. “How did he die?” tanya Kaisar. “I will tell you how he lived”, sahut Nathan. Di situ tergambar bagaimana kehidupan yang telah dijalani seseorang dianggap lebih penting.

Ngomong-ngomong soal kematian, saya ingin bercerita tentang hewan kesayangan. Onit, anak perempuan kami, tiba-tiba mengirim sebuah pesan singkat melalui gawai. “Yah, Jules udah nggak ada”. Saat pesan itu terbaca saya termenung sejenak karena tadi pagi saya masih memberikan obat sebelum pergi ke kampus. Tidak ada perasaan buruk sedikit pun. Sebab, Jules tampak sehat. Sorot matanya masih tajam, dan saya mengira Jules masih punya harapan besar untuk hidup lama.

Jules adalah anjing yang kami adopsi dari salah satu kawan Ceuceu. Ceuceu adalah keponakan kami. Ceuceu mengirim pesan, jika kawannya memiliki anjing yang akan diadopsikan. Lalu istri saya coba mengabari pemilik lama dan dikirimlah foto Jules. Anak-anak dan istri tertarik dengan foto yang dikirim. “Keren euy”, kata mereka. Akhirnya, kami membuat janji untuk bertemu, sekadar ingin lihat dan berjumpa awal dengan Jules dan pemiliknya.

Semula nama anjing itu bernama Julia. Kemudian kami ganti menjadi Jules. Alasannya  lantaran takut ada kerabat atau teman sejawat yang namanya sama. Saya merasa tidak enak.

Menurut kabar pemilik sebelumnya, Jules pernah melahirkan satu kali, namun semua anaknya mati. Mungkin, karena itulah Jules harus keluar dari rumah sebelumnya. Sekilas saya lihat ada sekitar tiga anjing lain di sana. Satu anjing jenis Malamute jantan, satu lagi jenis Siberian Husky, dan Jules berjenis Malamute juga. Niat awal mau bertemu, namun takdir berkata lain, pemilik lama mempersilakan kami untuk membawa Jules. Jules kami boyong ke rumah dan sah menjadi salah satu anggota keluarga.

Jules menurut saya adalah anjing jenis Malamute yang cantik. Definisi cantik sulit digambarkan secara harfiah, tetapi kalau kita sering berinteraksi dengan anjing kategori itu mudah dipahami. Bulunya tebal, badannya besar dengan tulang-tulang kokoh. Kalau berjalan cepat atau berlari seperti melayang. Bulu ekornya melambai-lambai, lucu sekali.

Jules anjing penurut. Ketika kami bawa dari tempat lama ke rumah, tidak sulit untuk diajak pergi. Bahkan tali lehernya dipasang dengan mudah. Kebetulan waktu itu mobil saya parkir di jalan besar, jadi kami harus berjalan kaki menyusuri jalan kecil menuju mobil. Ketika diajak jalan, Jules tidak menarik-narik tali, berjalan santai, anggun bak bangsawan. Saat pintu mobil dibuka, Jules dengah mudah meloncat ke dalamnya lalu duduk manis di bagian belakang mobil.

Tidak perlu lama melatih anjing yang sudah bawaannya pintar. Tengok saja, misalnya, saat jam makan tiba. Gerak-gerik anjing tidak menyerobot makanannya tapi menunggu dengan tenang makanan yang sudah diletakkan. Ketika diperbolehkan oleh sang majikan, barulah anjing tersebut makan. Begitupun dengan Jules. Ia mau menunggu sebelum disuruh makan. Tetapi, setelah waktu makan tiba, Jules meloncat-loncat kegirangan.

Kami rutin mengajak anjing-anjing di rumah berjalan-jalan. Rutenya tidak jauh, hanya sekitar kampung. Jules menjadi model ideal bagi anjing kami yang lain bila kami ajak jalan. Misalnya, tidak bertingkah berlebihan. Namun, hati-hati kalau ada kucing berkeliaran. Sifat alamiah sebagai anjing pemburu muncul. Tentu saja jangan dekat-dekat dengan Jules. Jika tertangkap sulit untuk dilepas.

Beberapa kali saya berjalan bersama Jules. Suatu waktu tiba-tiba kucing sudah berada di dalam mulutnya. Memang saya yang salah, berjalan sambil melamun. Dengan bersusah payah saya kemudian melepaskan kucing dari mulut Jules. Beruntung si kucing dapat dilepas dan lari terbirit-birit dengan selamat.

Entah mengapa Jules agak galak terhadap kucing. Dugaan saya, mungkin, di tempat tinggal sebelumnya tidak dibiasakan berinteraksi dengan kucing.

Jules juga anjing yang ramah pada manusia. Ibunya anak-anak sering kali mengajak Jules mengobrol sambil menyisir bulunya. Bahkan Jules senang bila disisir sambil tiduran dengan mata menatap pada sang majikan yang sedang menyisirnya. Itulah yang dinamakan interaksi kekuatan batin.

Jules senang menonton anak-anak kecil main bola di depan rumah. Tubuhnya mondar-mandir mengikuti arah bola. Selesai bermain biasanya anak-anak mengerubungi Jules dan mengelus-ngelus kepalanya. Di sini Jules tampak bahagia.

Di akhir masa hidupnya, Jules sedang disuapi istri saya. Seraya diajak berbincang, istri saya berkata pada Jules, “ayo makan yang banyak, Jules, supaya cepet sembuh, cepet main lagi”. Tetapi ajal tidak ada yang tahu. Saat ditinggal sebentar oleh sang majikan, ternyata Jules sudah pergi meninggalkan kami. Selamat berbahagia Jules, jangan lupa menyapa kami di sana, bila tiba waktunya.

 

Editor: Hafidz Azhar

Gambar: Foto Jules

Picture of Tata Kartasudjana

Tata Kartasudjana

Sehari-hari mengajar di Desain Komunikasi Visual, Unpas. Terkadang menyepi di ruang kosong untuk membereskan disertasi.