Dalam anggapan saya selama ini, ilmu ekonomi itu ilmu yang paling rumit untuk dipahami. Apalagi buat orang awam seperti saya.
Terlebih lagi, ilmu ekonomi tidak bisa diandalkan untuk mengatasi krisis ekonomi. Buktinya, dalam beberapa kurun waktu, dunia mengalami krisis bahkan depresi ekonomi seperti dicontohkan Amerika Serikat sekitar satu abad yang lalu.
Pada 1920 hingga 1929, Amerika Serikat sedang di puncak kejayaan ekonomi, tiba-tiba ambruk total pada 1930. Sebelumnya tidak ada yang bisa memprediksi kalau Amerika Serikat bakal limbung separah itu, mengingat lapangan pekerjaan waktu itu sedang melimpah dan produktivitas sedang tumbuh.
Serupa dengan kejadian 2020 yang lalu, ketika dunia tumbang diterjang virus Covid-19. Tak ada ahli ekonomi maupun ahli kesehatan yang bisa memprediksi kejadian itu.
Lalu mengapa bisa terjadi? Ya, tak ada ahli ekonomi yang bisa meramalkan. Maka ketika itu terjadi, semua terkejut dan panik. Masyarakat yang sedang menikmati kemakmuran dalam sekejap jadi gelandangan. Menurut dua profesor ekonomi AS, Karl E Case dan Ray C Fair, sejak depresi tahun 1930-an itulah ilmu ekonomi makro lahir. Para ahli jadi berpikir tentang penyebab kehancuran ekonomi. Ini pasti ada yang salah.
Case dan Fair punya cerita ironi. Secara logika orang yang seharusnya bisa menganalisis kemunculan depresi beserta obatnya adalah seorang proletar, orang yang peduli dan prihatin pada korban depresi. Misalnya seorang Marxisme tulen. Tetapi nyatanya bukan. Dia adalah seorang borjuis yang gemar terhadap lukisan Picasso, musik klasik, dari lingkungan yang tidak terpengaruh badai depresi. Ia orang yang bisa menikmati waktu luang.
Sebut saja John Maynard Keynes, seseorang dengan nama Inggis udik. Ia tekun menelisik apa pemicu depresi hebat di AS, dan resep apa yang bisa mengobatinya. Keynes mempunyai teori, bahwa pemerintah harus mengintervensi dalam kebijakan perekonomian. Jadi jangan melulu diserahkan pada mekanisme pasar alias liberalisme gaya Adam Smith. Untuk menciptakan lapangan kerja dan investasi, pemerintah wajib hadir. Semisal memberi rileksasi pajak bagi perusahaan yang berinvestasi. Begitu pula perusahaan yang membelanjakan modalnya diberi insentif. Negara tidak bisa hanya sekadar penonton.
Dipelopori Keynes itulah akhirnya pemerintah di seluruh dunia cawe-cawe dalam sistem perekonomian, termasuk Amerika Serikat. Dan sejak itu pula pertengkaran antara teori ekonomi klasik yang percaya sepenuhnya pada mekanisme pasar dan teori negara kesejahteraan dimulai. Bila ekonomi klasik bersandar pada kebebasan individu seluas-luasnya, ekonomi Keynesian menyebutkan kemampuan dan kesempatan atau peluang manusia tidak sama, sehingga negara perlu hadir.
Sebagai pengajar ilmu pengantar ekonomi, Case dan Fair rupanya tahu betul kerumitan ilmu ekonomi, dan juga paham, banyak buku tentang teori ilmu ekonomi yang tidak mudah dipahami, sekalipun oleh mahasiswa jurusan ekonomi. Keduanya memeras otak bagaimana caranya membuat buku tentang prinsip-prinsip ekonomi yang mudah dipahami. Bahkan oleh orang yang berlatar belakang bukan pendidikan ekonomi.
Ilmu ekonomi sungguh ilmu yang kering dan tidak menarik. Sebagai yang pernah kuliah di fakultas ekonomi tapi semester satu sudah kabur karena rumitnya, saya tak pernah punya keinginan membaca berita ekonomi dan buku-buku tentang ekonomi. Para ekonom pun kalau menyampaikan analisisnya penuh dengan jargon yang sulit dipahami. Apa yang disampaikannya hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
Tapi saya sadar bahwa manusia mahluk ekonomi. Hidupnya tak bisa lepas dari kebutuhan ekonomi. Saya sering berpikir, kita ini tiap hari bersinggungan dengan ekonomi, tapi mengapa ilmu ekonomi begitu sulit dipahami? Mengapa tidak ada ahli ekonomi yang mampu menyampaikan ilmunya dengan mudah dipahami orang awam? Baik dari dalam negeri maupun luar negeri, amat langka ahli ekonomi mampu menguraikan peristiwa ekonomi yang mudah dipahami.
Suatu hari, saat sedang langak-longok ke toko buku, saya melihat buku “Case-Fire: Prinsip-Prinsip Ekonomi” edisi kedelapan. Buku itu aslinya dalam bahasa Inggris, tapi diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga. Cukup tebal dan ukurannya besar. Jilid satu membahas ekonomi mikro, jilid dua membahas ekonomi makro.
Saya baca daftar isinya, sekilas pengantar dan bab 1. Saya agak kaget karena buku ini dalam menjelaskan konsep-konsep ekonomi. Diawali dengan sebuah cerita yang singkat, jelas dan menarik. Cerita dari sebuah peristiwa ekonomi. Misalnya apa yang terjadi dengan depresi hebat di AS tahun 1930 itu.
Lalu dalam menjelaskan konsep seperti teori pertumbuhan, selalu diawali dengan sebuah ilustrasi cerita. Karena saya tukang membaca cerita, saya tertarik dengan buku ini. Muncul lagi keinginan untuk memahami ekonomi si rumit itu. Sempat tertunda membeli buku karena saking mahalnya. Saat mendapat rejeki, saya langsung membelinya.
Buku yang cukup tebal dan komplit ini mempunyai tiga skema sederhana dalam penyajiannya. Pertama, tiap konsep disajikan dalam bentuk kisah atau contoh yang intuitif dan sederhana. Kedua, menyajikan grafik untuk mengilustrasikan kisah dan contoh tadi. Ketiga, jika diperlukan, menggunakan persamaan matematisnya.
Selain disertai konsep-konsep kunci di catatan pinggirnya dengan hurup tebal, juga disertakan contoh analisis berita ekonomi.
Alasan menyajikan tiga skema itu, kata kedua profesor ini, mahasiswa yang belajar prinsip-prinsip ekonomi kemampuannya tidak sama, karena beda latar belakang dan gaya belajarnya. Ada mahasiswa yang menganggap materi ilmu ekonomi itu mudah, tapi tak sedikit yang menganggap sulit. Maka harus ada cara untuk merengkuh semua mahasiswa yang aneka ragam itu. Berkisah adalah cara yang ampuh. Karena manusia mahluk yang bercerita dan selalu punya cerita. Termasuk dalam peristiwa ekonomi, selalu ada kisahnya.
Case dan Fair menyebutkan, belajar ilmu ekonomi itu sebenarnya mempelajari keputusan yang dibuat oleh seseorang, lembaga, perusahaan dan negara. Manusia, baik sebagai individu, komunitas, lembaga atau negara selalu dihadapkan pada pilihan. Keputusan untuk memilih itu yang diselisik ekonomi, karena berpengaruh pada kehidupan ekonomi kita.
Contoh sederhana begini. Saya punya uang Rp 50 ribu. Saya ingin membeli nasi padang dan juga ingin ngopi di kafe. Harga nasi padang dan kopi sama-sama Rp 50 ribu. Saya dihadapkan pada dua pilihan, sementara uang yang saya miliki terbatas, hanya Rp 50 ribu.
Ketika saya memilih nasi padang, saya kehilangan kesempatan menikmati kopi. Begitu pula kalau memilih kopi, saya kehilangan kesempatan menikmati nasi padang. Pilihan selalu membuka peluang sekaligus membuka risiko. Ini namanya biaya oportunitas (opportunity cost). Pilihan-pilihan inilah antara lain yang jadi obyek ilmu ekonomi.
Dengan cara ini, kita bisa menganalisis keputusan pejabat publik. Presiden Gemoy membentuk Danantara, yang sekarang sedang jadi isu panas di kalangan ahli ekonomi dan masyarakat luas. Kata Pak Gemoy, lembaga ini akan mendongkrak pertumbuhan 8 persen. Pak Gemoy selalu bicara program-program ajaib alias omon-omon.
Dari mana sumber dana Danantara? Pertama, laba dan aset BUMN. Kedua, penyertaan modal negara (PNM) alias uang dari APBN. Karena UU BUMN sudah lebih dulu diubah, Danantara jadi kebal hukum, tak bisa disentuh BPK dan KPK. Kalau ada kerugian, bukan kerugian negara karena status dananya sudah berubah, bukan lagi uang negara tapi kekayaan yang dipisahkan.
Pilihan Pak Gemoy ini bisa diterawang dari teori opportuniy cost tadi. Kalau sukses, RI bakal mempunyai lembaga investasi yang bisa membawa kemakmuran pada rakyatnya. Itu peluangnya. Tapi kalau gagal, bukan Danantara saja yang hancur lebur, tapi negara dan rakyat Indonesia menanggung resiko kehancuran. Indonesia game over.
Untuk bisa sukses harus ada alasan kuat. Tercipta lapangan kerja, SDM yang berkualitas, iklim usaha yang sehat, iklim birokrasi yang efisien dan tak ada korupsi. Dan yang penting, trust alias kepercayaan publik pada negara yang dipimpin Pak Gemoy, pada para menterinya dan pada pengelola Danantara.
Fakta yang terjadi sekarang, banyak perusahaan gulung tikar, PHK di mana-mana, korupsi merajalela, pungli atau premanisme menggila, pariwisata menjerit akibat efisiensi, pelajar dan mahasiswa berantakan pendidikannya karena efisiensi anggaran dan menyebabkan beasiswa tersumbat, dan tidak adanya tradisi riset yang kuat. Efisiensi hanya dalih agar terkesan positif. Padahal sejatinya re-alokasi. Memindahkan pos anggaran.
Dengan terawangan opportunity cost, kita menewarang masa depan Indonesia. Jadi ketika mahasiswa demo meneriakkan “Indonesia Gelap”, memang berdasarkan fakta-fakta tadi. Mari kita ceritakan Danantara sekelam apa pun supaya kita tidak dituding anak cucu yang menyembunyikan masa depan gelap.
Editor: Hafidz Azhar



