Pasar Biru dan Literasi Warga

Selepas diskusi Palestina pada Pasar Biru Lio Genteng, 14 Desember 2024 (Dokumentasi Pasar Biru).

“Literasi adalah kendaraan yang aman dan tradisional yang melaluinya, kita belajar tentang dunia dan mewariskan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Buku menyelamatkan nyawa.” (Laurie Anderson, seniman)

Mengingat kembali perjalanan Festival Pasar Biru pertama yang bertempat di Teras Sunda, Cibiru, pada 9-13 Desember 2019, menjadi titik tonggak awal lahirnya literasi secara mandiri dan lokal. Festival buku ini diinisiasi oleh komunitas-komunitas di Bandung Timur dengan urun ide dan kolaboratif seperti Post-LPIK, Sarekat Buku, Ruang Hidup dan elemen lainnya.

Festival buku pertama di kawasan Bandung Timur ini jelas punya semangat solidaritas dari komunitas literasi. Solidaritas tersebut ditunjukkan dengan menjadikan ruang keliterasian sebagai pertemuan para pelapak buku dengan komunitas-komunitas literasi di Bandung. Selain itu, ada juga beberapa diskusi yang digelar seperti bedah buku maupun penampilan seni yang turut mengangkat situasi dan ekosistem literasi. Salah satu isinya ihwal banyaknya pemberedelan buku pada saat itu. Inilah yang membuat Pasar Biru yang warnanya tidak hanya biru, namun ada warna lain yang membuat festival ini berbeda walaupun festival ini baru digelar untuk pertama kalinya di Bandung Timur.

Gerakan literasi pemerintah

Kita mungkin pernah mendengar atau mengetahui program Gerakan Indonesia Membaca (GIM) pada tahun 2015. Gerakan ini bertujuan untuk memberikan dukungan dan penguatan kepada pemerintah kabupaten dan kota dalam mengembangkan budaya baca kepada masyarakatnya. Gerakan ini diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), namun tidak bertahan lama hanya sampai 2017.

Sepanjang perjalanan Gerakan Indonesia Membaca, Kemendikbud lalu meluncurkan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) pada tahun 2016. Lantas apa tujuan dari Gerakan Literasi Masyarakat ini? Sama saja, sebetulnya, sebagai upaya pemerintah dalam mendukung dan menguatkan kualitas hidup masyarakat. Saya sendiri dibuat pusing, seperti apa penjelasan dan dukungannya. Meskipun jika diamati tentu ada hal positif terhadap literasi warganya.

Lalu di tahun yang sama pula, Kemendikbud juga membentuk Kampung Literasi, sebuah konsep pemberdayaan masyarakat di bidang literasi dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai leading sector-nya. Artinya, Kampung Literasi melibatkan masyarakat sebagai bagian dari geliat literasi, bukan sebagai obyek. Ini juga ikhtiar untuk memberikan dukungan, tapi kadang pelaksanaannya tidak sesuai dengan harapan, sehingga hal itulah yang membuat warnanya sama atau hanya berkutat di situ. Berbeda dengan warna semangat yang ditorehkan oleh Pasar Biru, di situ terkandung warna yang beragam namun memunculkan kolektivitas.

Pasar Biru dan kelokalan

Sebagaimana marwah dari sebuah festival, Pasar Biru ternyata tidak hanya berhenti pada titik tertentu. Dia menumbuh pada beberapa titik lainnya, seakan menanam benih literasi dan buku pada setiap jaringan yang ditemuinya. Hal ini seperti terekam pada Pasar Biru di Lio Genteng, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, yang berkolaborasi dengan Onesix Sauyunan. Onesix Sauyunan sendiri merupakan komunitas pemuda di Nyéngsérét, Lio Genteng, Astanaanyar. Pada bulan Désémber tahun lalu kami mengadakan festival buku keempat, yang bertempat di Aula Kantor RW 05, Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, dan berlangsung tanggal 13 hingga 15.

Dalam Pasar Biru 4 ini menunjukkan pantikannya untuk kembali berbagi, menyebarluaskan dan memperkuat serta bertemu dengan ruang warga lainnya dalam bingkai literasi. Pasar Biru 4 ini mengambil tema “Pasar Buku Lio Genteng”: Dari Kampung Kini Kami Belajar”, sebagai bentuk pernyataan yang sederhana untuk mengajak dan mengenali tempat tinggal kita.

Menariknya, pada Pasar Buku ini ada 3 isu utama yang dibahas yaitu: Kesundaan, Palestina, dan Literasi Warga. Ketiga arus utama itu kemudian dipaparkan lebih jauh oleh para pembicara yang sudah berkompeten di bidangnya, selain terdapat repertoar seni dari warga dan para seniman serta musisi di Bandung. Dengan kata lain, kegiatan ini menitikberatkan literasi kelokalan sekaligus isu global seperti solidaritas untuk Palestina.

Sementara itu, Sandi selaku Ketua Panitia Pasar Buku Lio Genteng mengutarakan bahwa Pasar Buku Liogenteng bukan sekadar momentum, tetapi diharapkan dapat menjadi agenda rutin warga. Antusiasme masyarakat memperlihatkan mesti adanya keberlanjutan kegiatan maupun akses pengetahuan berupa ruang literasi. Dengan berkesinambungan pasar buku ini bisa memperkuat kebiasaan membaca dan mempererat hubungan antarkomunitas warga.

Sandi juga menambahkan bahwa kegiatan Pasar Biru mampu menjadi ruang interaksi sosial, peluang ekonomi, dan wadah edukasi bagi warga. Menurutnya, kebutuhan saat ini bukan hanya akses bacaan, tetapi juga ruang diskusi, kegiatan kreatif, dan pemberdayaan berbasis literasi yang akan menumbuhkan ruang-ruang lainnya.

Semoga apa yang telah digerakan dan diperjuangkan secara swadaya, kolaborasi dan mandiri oleh Pasar Biru dapat terus bertransformasi, menginspirasi dan tumbuh sebagai warisan serta menyelamatkan nyawa literasi dengan buku. Salam.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Wanggi Hoed

Wanggi Hoed

Seniman pantomim. Aktif mengkampanyekan solidaritas untuk Palestina.