Ode Buat Bobotoh

Jonathan Bauman mengeksekusi penalti dalam laga melawan Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu, 29 September 2018. (Foto: Firman Fauzi Wiranatakusuma/@officialvpc)

Hari ini Persib genap berusia 92 tahun. Sebuah perjalanan yang cukup lama, seperti halnya klub-klub eks perserikatan yang hingga detik ini masih tersisa. Dengan segala dinamika yang terus menerus berubah, tantangan yang dihadapi Persib juga semakin beragam. Tak selamanya ia bergelimang kejayaan.

Sekali waktu, Persib nyaris terperosok jurang degradasi (Halo, Marek Andrzej Sledzianowski). Pernah salah kelola, dan untuk sementara, berdampak pada kehilangan dukungan suporter yang imannya lemah, sehingga kehilangan sumber daya yang melimpah.

Mereka itu yang dikenal dengan Bobotoh. Sebutan para pendukung yang setia, yang tidak terpaku semata untuk kawula muda. Bagi sebagian, Persib bukan hanya bisa menyajikan tontonan menarik di akhir pekan. Menjadi apa yang dirumuskan ahli jiwa sebagai katarsis, namun juga mampu melahirkan iklim persaudaraan yang sudah teruji dengan adanya ikatan pada sejumlah individu yang terlibat di dalam komunitas.

Persib memang tidak emiliki suatu pretensi sebagaimana yang ditawarkan filsafat, ilmu, dan agama. Ia bukan sekadar klub sepakbola, itu sudah. Seperti halnya Barcelona yang merupakan sebuah representasi dari sejarah sosial kota pelabuhan dan pedagang cerdik Mediterania.

“Klub besar adalah institusi kultural yang mewakili sejarah sebuah kota,” tulis Darmanto Simaepa, seorang antropolog yang sekaligus penggila bola. “Ia adalah anak kandung kota yang melahirkannya.”

Saya kira itu benar. Selama jantung kota Bandung berdetak, sepertinya Persib tidak akan pernah pudar. Dalam beberapa kasus, harus diakui pula, bahwa Persib kadang berpotensi melahirkan konflik. Yang terbaru misalnya, bisa dilihat dari apa yang terjadi di Bekasi saat Persib dijamu Persija.

Syukurlah hari-hari ini sudah banyak upaya dilakukan untuk mencegah kemungkinan itu terjadi. Sialnya, belum lama ini, Persib juga masih harus bergulat dengan masalah klasik. Saya tidak punya kehendak mengulas secara rinci berbagai persoalan itu sekarang.

Dalam ruang dan waktu yang terbatas, tulisan ini sekadar menukil apa-apa yang bisa diamati secara sekilas dari dinamika ngalalajoan Persib dalam beberapa musim terakhir. Banyak hal yang mungkin luput. Pasti. Sebab hanya mampu mengamati dari jauh —dari layar televisi. Tapi saya merasa ada beberapa hal yang penting. Dan itu karena Persib kerap membuat ribuan publik sepakbola menikmati serta merasakan momen-momen menakjubkan yang telah dihadirkannya.

Karena Persib, sebagian orang yang pandai berbisnis, jadi semakin banyak duit. Karena Persib pula barangkali seorang politisi gagal menjadi pemimpin daerah di wilayah yang notabene dianggap rival. Karena Persib, seorang alim tak segan memaki jika ia bermain butut, kalah, atau imbang ketika melawan tim papan bawah.

Daftar ini sangat bisa diperpanjang lagi. Yang pasti, karena Persib, ada pendiam yang berani mencela; seorang Bromocorah menangis, tersedu-sedan. Karena Persib, orang menjadi semangat menulis, atau juga tersenyum bahagia.

Menjelang laga semifinal Indonesia Super League melawan Arema Cronus, ribuan Bobotoh menunjukkan ekspresi #BuligirDay di Stadion Jakabaring Palembang, 4 November 2014. (Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)

Perubahan itu Niscaya

Kita sering melihat tingkah mayoritas elit di republik yang tidak lagi memberi teladan bagi rakyat kebanyakan. Berita mengenai aparat yang brutal membunuh seorang remaja di Semarang seliweran di beranda sosial media. Setiap hari media massa mengabarkan peristiwa yang mungkin hanya bentuk dari penyederhanaan situasi yang sesungguhnya jauh lebih pelik.

Informasi seputar PHK massal meluap. Korupsi Kolusi Nepotisme merajalela dalam bentuk yang paling kronis. Supremasi sipil dipreteli. Dwifungsi ABRI diwartakan kembali eksis. Di sini, barangkali hanya sepakbola yang masih bisa menjadi andalan untuk melarikan diri dari keadaan #IndonesiaGelap. Buat saya, dan banyak orang lain di luar sana, harapan pada Persib yang sedang menjalani Liga 1 2024-2025 jadi semakin meningkat. Semacam bentuk eskapisme yang paling mungkin diambil.

Beberapa pekan ke depan, Bobotoh kembali berpeluang merasakan dan melihat Persib juara di dalam kompetisi resmi. Di bawah komando pelatih asal Balkan yang piawai dalam upaya merumuskan taktik, Bojan Hodak, Persib berpotensi meraih back-to-back champions. Sebuah tesis ihwal “hanya pelatih lokal yang bisa bawa Persib berjaya” ambruk dalam waktu cukup singkat, tak lama setelah kedatangannya. Nadi sepakbola Bandung berdenyut lagi.

Dalam konteks ngabobotohan, ada sejumlah perbedaan musim ini yang kentara dengan satu dekade silam. Misalnya seperti himbauan untuk Bobotoh, agar menahan diri tidak melakoni awayday seperti biasanya. Suatu hal yang membuat representasi ribuan bobotoh di kandang lawan, yang biasanya turut membangkitkan emosi penonton televisi dan membuat pertandingan lebih hidup, menjadi tidak terlihat lagi (pengecualian beberapa laga melawan tim yang punya supporter dengan rekam jejak friendly).

Selain itu, di tengah perkembangan teknologi seperti sekarang, keadaan aktual juga memungkinkan untuk mengubah pengalaman kolektif suporter dalam menikmati sepakbola. Menyaksikan pertandingan secara langsung, yang merupakan esensi dari ritual suporter bola, dan punya peran penting dalam menumbuhkan komunitas, mendapat tantangan serius.

Pengelola Persib kini menawarkan satu layanan canggih: nobar di bioskop. Suatu hal yang sulit dibayangkan pada masa lampau. Menyaksikan pertandingan di layar lebar dengan sistem audio sinematik, yang hanya bisa dijangkau beberapa kalangan.

Sebagaimana konsumsi kebutuhan yang turut berubah karena kemajuan teknologi, banyak ritual khas suporter sepakbola yang kini menemukan bentuk terbarunya. Dalam konteks ini, dikotomi suporter militan yang merasa memiliki ikatan emosional terhadap persib, dan mereka yang hanya menikmatinya semata untuk hiburan, nyaris kehilangan relevansi. Klasifikasi suporter garis keras dan garis lunak, suporter militan dan karbitan, hampir tidak berlaku lagi.

Laju teknologi mempreteli dikotomi itu. Jika diperhatikan secara saksama, keadaan ini tak bisa lepas dari buah kebijakan yang sebetulnya memang tampak wajar jika dilihat dari kacamata pelaku industri. Sebab, boleh dibilang kalau sepakbola kiwari tak bisa menghindar dari moda produksi yang dominan. Yang jadi soal, agak sulit membayangkan apabila kelak menemui satu momen yang tertuang dalam sebuah premis filsuf pascastrukturalis, Jean Baudrillard: semua yang nyata menjadi simulasi.

Menjelang Final Indonesia Super League antara Persib Bandung vs Persipura Jayapura di Stadion Jakabaring Palembang, 7 November 2014. (Foto: Firman Fauzi Wiranatakusuma/Mungki)

Runtuhnya Takhayul

Kemajuan teknologi juga membuat semua mesti melakukan penyesuaian. Tak terkecuali di lingkup Persib. Publik sepakbola sekarang bisa menemui serbaneka gaya marketing, statistik, pemandu bakat, copywriting, analis andal, dan lain-lain.

Bagi Bobotoh, teknologi juga berdampak pada berbagai layanan canggih telah berusaha disajikan pengelola Persib. Sekilas apa yang dimunculkan bakal menjadi kebiasaan baru. Kemungkinan besar, itu juga akan meruntuhkan sejumlah tradisi pasca pertandingan.

Salah satunya Boom Boom Clap. Atau, dalam konteks Indonesia, dikenal dengan Viking Clap. Detik-detik pertama Viking Clap dihayati dan dianggap momen yang indah dan magis dalam sepak bola. Awalnya, ritual ini dirancang suporter Islandia, mengantarkannya masuk dalam nominasi suporter terbaik FIFA 2016.

Dalam sejarahnya, konon selebrasi ini lebih dikenal dengan sebutan Thunder Clap. Namun karena Islandia yang mempopulerkannya identik dengan bangsa Viking, bangsa penakluk dan penjajah asal Skandinavia, termasuk Swedia, Norwegia, Denmark, dan Islandia, selebrasi dengan tepukan tangan ini kemudian lebih dikenal dengan Viking Clap.

Secara teknis, biasanya diawali dengan mengangkat kedua tangan kemudian bertepuk di atas kepala, mengikuti tempo pukulan tambur yang semakin cepat, dan diakhiri seruan “huuu”. Viking Clap, adalah bentuk kreativitas yang telah diikuti, hingga menjadi tradisi suporter Indonesia. Namun, hal ini segera akan menjadi serupa takhayul.

Sebab, apabila dilakukan sendirian setelah nonton Persib di bioskop, besar kemungkinan, kita akan dinilai kurang sehat. Ekstremnya dianggap sesat. Mungkin kita adalah Cak Dlahom yang sering bikin pusing Mat Piti dalam kisah yang ditulis Rusdi Mathari. Demikianlah.

Kalau boleh usul —kalau tidak ya apa boleh buat— kiranya untuk menggantikan habitus serupa, bisa digantikan dengan sungkem terhadap orang tua apabila dalam persaingan liga musim ini, Persib berhasil kembali meraih gelar juara. Atau apalah bentuknya, terserah. Selama itu bikin nyaman, tidak merugikan banyak orang.

Himbauan untuk Bobotoh. (Foto: tangkapan layar Persib Official)

Away day itu Berlebihan (?)

Supporter militan sepakbola dimanapun, tak terkecuali Bobotoh, memiliki kecenderungan selalu ingin menghadiri laga tandang. Mereka selalu antusias menyaksikan pertandingan yang berlangsung di kandang lawan, bahkan ketika pertandingan itu dihelat dengan jarak yang relatif jauh dari kota sendiri. Beberapa kawan memaknai peristiwa semacam ini sebagai pengalaman sublim.

Konon, menghadiri laga tandang itu berarti juga seorang supporter harus punya effort lebih —setidaknya bisa sekalian jalan-jalan. Sial, belakangan muncul beleid yang mengatur larangan untuk setiap suporter melakukan apa yang dikenal sebagai away day. Dan itu yang kemudian diketahui tercantum dalam Pasal 51 Ayat 6 Regulasi Kompetisi BRI Liga 1 2023/2024, yang ditandatangani Erick Thohir selaku ketua PSSI pada 28 Juni 2023.

Terbitnya regulasi ini memungkinkan klub mendapatkan sanksi berupa denda dengan nominal yang besar apabila supporternya ngotot untuk datang ke kandang lawan. Kabarnya PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi merancang aturan yang ketat ini agar suporter tidak dapat memaksakan diri, persis seperti halnya beberapa tahun yang lalu, saat wabah covid melanda.

Kala itu operator liga memiliki seperangkat aturan serupa. Kerumunan penonton dilarang. Semua dipaksa untuk #dukungdarirumah. Menyaksikan Persib hanya di depan televisi. Demi meminimalisir penyebaran wabah.

Sebuah alasan yang sesungguhnya sangat bisa diterima. Sebab ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar pertandingan sepakbola: kesehatan warga. Masalahnya, jika kiwari pelarangan itu kembali diterapkan, argumen apa kira-kira yang tepat dan bijaksana untuk disodorkan?

Tidak ada alasan yang bisa diterima mengapa hari-hari ini muncul aturan yang wujudnya serupa; larangan mengenai kehadiran pendukung tim lawan. Yang jelas, ada yang hilang dari dinamika sepakbola Indonesia. Pakar ilmu komunikasi UMY, sekaligus penulis buku Merayakan Sepakbola (2017), Fajar Junaedi, dalam satu wawancara mengatakan bahwa regulasi larangan suporter menyaksikan laga tandang memiliki basis epistemologi yang agak aneh. Sebab, menurutnya, tak lama setelah terjadinya Tragedi Kanjuruhan, ada kesadaran kolektif dari kelompok suporter sepak bola untuk mengakhiri konflik.

Dengan itu, sekali lagi saya ulang: tidak ada alasan kuat mengapa seruan untuk bobotoh agar mendukung tim kesayangannya di kandang saja gencar disosialisasikan. Yang ada, dan terbukti dalam beberapa kasus sebelumnya (silahkan lihat kejadian di Semarang, Solo, Bekasi), malah membuat banyak bobotoh Persib yang jadi sasaran gebug pendukung klub lawan karena memaksa hadir secara terpisah tanpa keberangkatan yang masif, terorganisir, dan pengamanan yang solid.

Jika di masa lampau upaya untuk menghadiri laga tandang itu acapkali mendapat sambutan. Sebaliknya, apabila dilakukan hari-hari ini, berpotensi dicap berlebihan, mungkin dianggap serupa bid’ah dalam praktik.

Usai pertandingan lanjutan Indonesia Super League atau ISL antara Persepam Madura vs Persib Bandung, 24 April 2013, Bobotoh menyalakan flare tribun samping barat stadion Gelora Bangkalan Madura. (Foto: Arif Rahman)

Selamanya Tumbuh

Begitulah faktanya. Dalam meluapkan ekspresi dukungan, berbagai regulasi baru tak terlalu mengubah signifikan. Sebab, terbukti antusiasme Bobotoh terhadap Persib tetaplah meledak-ledak. Bobotoh juga kerap menuntut perbaikan layanan otoritas klub sepakbola kesayangannya. Menunjukkan cintanya yang, sangat mungkin kalau boleh dibilang, berlebihan.

Pada satu waktu misalnya. Bobotoh pernah terlibat friksi dengan salah satu pemain lokal, yang dinilai arogan dalam menanggapi kritik. Beberapa waktu kemudian, mempersoalkan kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan oknum Steward. Atau, pernah juga mempermasalahkan konten yang buruk, cara komunikasi yang payah, yang puncaknya, membuat syarat yang harus dipenuhi jika ingin laga uji coba disiarkan: mensubscribe kanal YouTube Persib hingga mencapai 700 ribu subscribers.

Sudah dari jauh sebelumnya, apabila menjalani musim kompetisi dengan performa buruk, tak butuh waktu lama, Pengelola Persib bakal segera diceramahi oleh bobotoh. Namun, mereka tak akan benar-benar pergi. Biasanya rasa cinta pada Persib bisa tumbuh kembali.

Nyaris setiap tahun generasi baru bobotoh bermunculan. Berbagai nyanyian Persib di gang-gang makin sering terdengar. Setelah membalut luka kekecewaan, keduanya bangkit bersama-sama. Inilah barangkali yang membuat Persib berbeda dari tim siluman, seperti halnya Rans.

Mereka punya bentuk kecintaan yang kadang ditafsirkan menjadi tekanan. Padahal, fakta empiris sebagaimana disinggung sebelumnya menunjukkan bahwa Bobotoh memang punya tradisi protes kuat terhadap kebijakan otoritas klub kebanggaannya, yang menggunakan segenap kekuatan —wabilkhusus di sosial media— untuk menuntut pertanggungjawaban pengelola Persib.

Bahkan beberapa seruan menyoal protes di jalanan, atau boikot di stadion kerap berseliweran. Hal ini menjadi bukti bahwa ada kekuatan publik sepakbola Bandung yang melakukan protes terbuka jika dirasa ada permasalahan, yang memungkinkan dialektika di dalamnya.

Secara konseptual, dialektika menyatakan segala sesuatu yang terjadi adalah hasil pertentangan; sebuah dialog nalar; cara untuk menyelidiki suatu masalah. Proses dialektika ini terjadi hampir di semua hal. Saya kira, begitu pula relasi yang terjalin selama ini antara pengelola Persib dan Bobotoh.

Klaim berlebihan akan sebuah pencapaian tanpa menyertakan sentuhan satu sama lain dalam perjalanannya adalah suatu hal yang teu asup di akal. Dialektika itulah kiranya yang membuat keduanya tumbuh bersama. Suatu hal yang senyatanya memang pantas terus berkembang dan meruang, dalam upaya menghayati Persib tanpa mesti bersikap delusional.

Selamat ulang tahun, Persib Bandung!

 

Editor: Hafidz Azhar

 

 

 

Picture of Yogi Esa Sukma

Yogi Esa Sukma

Sehari-hari mengajar sejarah di sekolah menengah atas dan menulis kolom