Bagaimana keterlibatan bumiputra selanjutnya dalam acara-acara di Ons Genoegen? Pertanyaan ini saya ajukan di ujung tulisan sebelumnya. Maka untuk tulisan ini saya lebih banyak mencatat rekaman pagelaran tunil Sunda di Societeit Ons Genoegen pada tahun 1920-1927.
Untuk itulah, saya akan mengulangi lagi ihwal pementasan tunil Sunda oleh murid-murid Sakola Raja pada 17 Desember 1920 di Ons Genoegen sebagaimana dilaporkan dalam De Preanger-bode edisi 14-15 dan 18 Desember 1920. Pementasan itu dimaksudkan untuk penggalangan dana Volksonderwijs dan Studiefonds Pasoendan, berupa pementasan tunil Sunda yang naskahnya ditulis Kartabrata.
Rupanya pementasan tunil Sunda di Ons Genoegen menjadi tradisi yang dilakukan baik oleh murid-murid Sakola Raja (Kweekschool) maupun murid-murid Sakola Menak (Hoofdenschool atau OSVIA). Pada awal Desember 1921 atau hampir setahun setelah pagelaran anak-anak Sakola Raja, pada 7 Desember 1921 tersiar kabar De Tooneel-en gymnastiek-vereeniging Kweekschool akan menyelenggarakan pementasan di Ons Genoegen. Cerita yang akan diangkat bertajuk “Bongan Salah Bapa” pada Sabtu malam. Pagelaran ini ditujukan bagi pengumpulan derma Volksonderwijs dan Studiefonds Pasoendan (De Preanger-bode, 7 Desember 1921).
Dalam De Preanger-bode (12 Desember 1921) dilaporkan meski hujan besar, aula Ons Genoegen penuh selama pagelaran De Tooneel-en gymnastiek-vereeniging Kweekschool. Untuk cerita tunil, “Bongan Salah Bapa”, para pemain menggunakan bahasa Sunda dan Kartabrata, tokoh terkenal dari pementasan Loetoeng Kasaroeng juga terhubung dalam pementasan kali ini. Menurut penulis laporan, pagelaran itu menjadi bukti di bidang teater yang muncul di Tatar Sunda, bahkan masih banyak kemungkinan lainnya.
Lima bulan kemudian, dalam De Preanger-bode (6 Mei 1922) ada iklan Soendaneesche Tooneel en Tableaux yang akan bermain di Schouwburg Ons Genoegen, Kamis malam, 11 Mei 1922. Menurut laporan dalam Bataviaasch Nieuwsblad (12 Mei 1922), saya tahu lakon yang diangkat dalam tunil itu adalah “Malikan Popotongan Lantaran Pangdjoeroeng Anak” yang ditulis Mas Kartabrata, kepala sekolah HIS di Bandung. Menurut penulis laporan, panggung ditata sepenuhnya berdasarkan konsep Eropa, sehingga tidak kalah dengan grup teater amatir Eropa yang bagus. Selain itu, konon R. Adjesan yang beperan sebagai Lutung dalam Loetoeng Kasaroeng bermain sangat baik.
Masih 1922, De Vereeniging der Leerlingen van de Opleidingsschool tot Vorming van Inlandsche Onderwijzers (OSVIO) atau perhimpunan murid Sakola Menak menyelenggarakan tunil Sunda. Lakon yang mereka bawakan “Kapaksa Koedoe Kawin”, naskah baru yang ditulis Kartabrata berdasarkan tema perkawinan paksa. Konon, pementasan ini dihadiri lebih dari 300 orang, di antaranya asisten residen Bandung beserta istrinya dan satu guru Eropa dari Kweekschool (De Preanger-bode, 11 September 1922).
Pada Sabtu malam, tunil Sunda dengan lakon “Salah Sangka” dimainkan Vereeniging Pasoendan atau Paguyuban Pasundan di Ons Genoegen. Sebelum pementasan, S. Prawiraamidjaja menjelaskan tujuan Paguyuban Pasundan, di antaranya memperbagus dan menghidupkan kembali kesenian bumiputra secara umum dan Sunda secara khusus demi menuju peningkatan spiritual dan moral orang Sunda. Katanya, meski tunil bukan berasal dari seni bumiputra, tetapi Paguyuban Pasundan menganggap dorongan dan dukungan aktif dari jenis kesenian ini sangatlah penting. Untuk itulah, Prawiraamidjaja menghaturkan terima kasih kepada Kartabrata, sebagai yang pertama mendorong untuk berlatih akting dan memandu Paguyuban Pasundan. Demikian pula yang disampaikan wakil Prawiraamidjaja, Roechiat Martadinata, kepada Muziekvereeniging Setiamanah, yang memunculkan lagu-lagu Sunda lewat perkakas musik barat. Sementara De Vereeniging Sekar Roekoen memamerkan barang-barang kerajinan, ditambah dengan demonstrasi pencak silat (De Preanger-bode, 16 Oktober 1923).
Sebelumnya, pada 10 Oktober 1923 dikabarkan, selama berlangsungnya S.I-feest atau festival Sarekat Islam, drama karya Mohamad Sanoesi bertajuk Siti Rajati akan ditampilkan. Drama ini hanya muncul dalam buku dan selama ini belum diadaptasi dalam bentuk drama. Namun, konon, tidak keberatan. Karena tunil bumiputra tidak memerlukan drama tertulis, paling tidak untuk generasi tua. Misalnya, penulis Kartabrata yang begitu banyak menampilkan tunil rakyat Sunda kecuali dengan garis besar yang ditulis di atas kertas. Tetapi sekretaris SI, Darmoprawiro sudah mengontak polisi dan mengatakan tidak akan menampilkan Siti Rajati, melainkan drama lainnya (De Preanger-bode, 11 Oktober 1923). Pagelaran itu entah diselenggarakan di Ons Genoegen atau bukan. Saya tidak mendapatkan informasi lanjutannya.
Sabtu malam, aula Societeit Ons Genoegen penuh. Murid-murid Sakola Raja menampilkan lakon tunil berjudul “Vrouw en kind bijna veroordeeld” karya Kartabrata. Bukan saja kalangan bumiputra, bangsa Eropa pun banyak yang menghadiri pementasan itu. Semua aktor memainkan perannya dengan baik, seakan mereka terlahir sebagai aktor. Di antara pentas itu, ditampilkan pula penampilan olahraga di palang, rintangan, dan cincin. Sebagian hasil pementasan tunil itu didermakan bagi Blinden-instituut dan Sekolah Raden Déwi, masing-masing sebesar 50 gulden (De Preanger-bode, 5 November 1923).
Awal 1925, dalam rangka membantu meringankan korban bencana di Wonosobo, Jawa Tengah, perhimpunan-perhimpunan di Bandung seperti Soendaneesche Vereeniging Sekar Kalintang, perhimpunan Jawa Mardi Hardjo dan Mardi Bekso Iromo serta Sumatranen Bond menayangkan berbagai penampilan. Perhimpunan Sunda menampilkan tarian, nyanyian dan tunil Sunda. Ada pula pencak Minangkabau dan wayang wong dengan lakon Gatoetkotjo dan Ontoseno (De Locomotief, 7 Januari 1925).
Demikian pula bagi bencana gempa bumi di Pantai Barat Sumatra pada September 1926. Perhimpunan-perhimpunan kaum muda di Bandung seperti Jong-Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, De Dageraad (federasi bangsa Ambon dan Minahasa) dan PSG (dari AMS) di Ons Genoegen. Bahkan, konon, sejak awal 1926, berbagai perhimpunan orang Sunda mengorganisir berbagai pementasan, yang dimaksudkan untuk membantu meringankan korban bencana gempa bumi di Pantai Barat Sumatra. Pementasan orang Sunda berkaitan dengan legenda Tatar Sunda dalam bentuk tunil (De locomotief, 8 September 1926).
De Koerier edisi 17 Agustus 1927 mengabarkan rencana pementasan jenis teater baru Sunda di Ons Genoegen, Gending Karesmen, pada 2 September 1927. Kisahnya mengambil latar sekitar tahun 1600 kala Kerajaan Mataram mengalami masa puncak kejayaannya dan Priangan diperintah oleh beberapa bupati mandiri. Para bupati itu kemudian ditaklukkan Sultan Agung dari Mataram baik dengan kekerasan atau tidak. Alhasil, Kerajaan Galuh, Sukapura, Sumedang, Ukur (sekarang Bandung), dan yang lainnya menyatakan takluk kepada Mataram. Tinggal di bagian barat Priangan (sekarang Cianjur dan sebagian Sukabumi) yang masih diperintah bupati merdeka, yaitu Dalem Aria Wiratanoedatar atau Dalem Tjikoendoel. Jadi kisahnya berkaitan dengan bagaimana Dalem Tjikoendoel menghadapi kekuasaan Mataram yang kian membesar di Priangan.
Pementasan Gending Karesmen yang dimaksudkan untuk mengumpulkan derma itu memang dilakukan pada 2 September 1927. Menurut laporan dalam De Koerier edisi 3 September 1927, ruangan Ons Genoegen terisi penuh. Di antaranya ada bupati Bandung dan istrinya, Asisten Residen Tydeman, dan beberapa ornag Eropa. Sementara semua pejabat pemerintah dari kalangan bumiputra di Bandung bersama pasangannya serta secara sendiri-sendiri hadir di Ons Genoegen. Alasannya, karena drama ini sepenuhnya berbeda dengan yang biasanya mereka tonton. Mereka mendapati drama yang percakapannya dilakukan dalam bentuk nyanyian serta ditingkahi tabuhan gamelan dalam bentuk opera. Konon, dengan pementasan ini lahirlah kesenian bumiputra yang baru, yang patut mendapatkan perhatian.
Demikianlah, antara 1920 hingga 1927, banyak lakon tunil Sunda yang ditampilkan di Societeit Ons Genoegen. Baik secara sendiri oleh perhimpunan Sunda maupun dalam kerangka kolaborasi dengan perhimpunan-perhimpunan lainnya di Bandung. Ternyata perhimpunan-perhimpunan itu tidak hanya mengadakan acara di Ons Genoegen semata-mata untuk menampilkan kesenian atau menghimpun derma untuk membantu pihak-pihak yang memerlukannya, melainkan banyak pula yang bermuatan politik. Pada tulisan selanjutnya saya akan tunjukkan.
Editor: Hafidz Azhar



