Rumah Baca Taman Sekar Bandung: Dari Homeschooling Menjadi Rumah Baca Masyarakat

Beberapa koleksi buku di Rumah Baca Taman Sekar Bandung. (Foto: Adhani N. Khairina).

Minggu, 16 Maret 2025, saya pergi ke Sukarajin untuk mendatangi sebuah rumah baca yang berlokasi di dalam gang. Saat itu sekitar pukul 14.00, tempat yang saya datangi terlihat sepi dan terkunci. Ada secarik kertas informasi yang tertempel di kaca jendela dengan bertuliskan “DIJUAL”. Memang itu adalah kesalahan saya, karena tidak bertanya terlebih dulu kepada pengurusnya. Akhirnya, saya bertemu dengan salah seorang pengurus rumah baca itu di Homeschooling Taman Sekar Bandung, sekolah lama saya yang letaknya tidak jauh dari rumah baca tersebut.

Di tempat itu saya berbincang dengan Heri Maja Kelana (39). Ia merupakan pengurus Rumah Baca Taman Sekar (RBTSB) yang saya datangi itu. Heri atau akrab disapa Bojes aktif sebagai penggiat literasi di Bandung. Saya mengenalnya sebagai tutor mata pelajaran Bahasa Indonesia. Perawakannya tinggi menjulang dan memakai kacamata. Heri bilang jika Rumah Baca Taman Sekar Bandung (RBTSB) itu sudah enam bulan dalam masa pencarian penghuni baru dan sekarang pindah ke area lain di kawasan Sukarajin 2, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung.

Awal mula perjalanan RBTSB tahun 2013. Ketika itu Homeschooling Taman Sekar Bandung (HSTSB) berpisah dengan Homeschooling Kak Seto. Perubahan tersebut mengharuskan HSTSB memiliki suatu program dampingan. Saat itu Abas Somantri selaku kepala sekolah, Nur Anwar dan Heri mengajukan taman baca yang berkonsentrasi kepada masyarakat. Setelah berbagai perizinan lahirlah Rumah Baca Taman Sekar Bandung pada Juli 2014.

Alasan mendirikan rumah baca itu, menurut Heri, karena ingin membudayakan budaya baca kepada masyarakat terutama anak-anak. Program ini sudah terhubung dengan beberapa orang yang terlibat dalam reading group seperti Taman Bacaan Multatuli di Banten dan Jalan Raya Pos Jalan Daendels di Kediri. Orang-orang yang berada di dalam reading group ini memberikan insight bahwa buku yang mereka baca mempunyai kaitan yang erat dengan daerahnya.

Heri menceritkan jika dirinya bersama para pendiri lain memutuskan untuk mengambil spirit dari buku Bandung Purba karya T. Bachtiar dan Dewi Syafriani. Dari situ ia berharap dapat menjadikannya sebagai trigger bagi masyarakat untuk mengetahui sejarah pembentukan Kota Bandung dan Bandung Raya.

Heri menyatakan bahwa yang terjadi di Bandung sekarang sebenarnya sudah dijelaskan di buku Bandung Purba. Misalnya, mengenai dampak dari pembangunan, bencana alam, dan sebagainya. Ia pun merasa tidak terlalu heran ketika Bandung kerap dilanda banjir. Sebab, menurutnya, secara geografis Kawasan Bandung dekat riwayat air.

“Ketika Bandung banjir bagi saya bukan gak aneh, tapi sudah diterangkan ketika di sini banyak pembangunan-pembangunan di atas daerah yang secara geografis dekat dengan riwayat air, seperti Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Ujungberung. Itu sebenarnya sudah di-warning sama buku tersebut. Tapi yang namanya pembangunan akan terus menerus berkembang sehingga akan terimbas.” kata Heri.

Di ruangan bercat hijau Heri menceritakan perkembangan RBTSB yang mengamalkan enam literasi dasar: literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, finansial, dan budaya kewarganegaraan yang mereka lakukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Mereka mengadakan beberapa kelas yang disasarkan kepada ibu-ibu juga bapak-bapak seperti pada penghujung tahun lalu. Ada Sukarajin Art Festival, misalnya, yang juga terdapat banyak perlombaan berupa cooking class dan turunannya seperti Sayur Asem Art Festival dan Festival Karedok. Festival-festival tersebut adalah hasil dari kelas-kelas yang RBTSB adakan.

Selain itu, mereka juga mengadakan festival permainan-permainan tradisional yang berangkat dari kekhawatiran akan kepunahannya. Heri dan rekan-rekannya mencoba membangkitkan permainan-permainan seperti Égrang, Pérépét Jéngkol, dan Oray-orayan dengan membuat festival ini.

Ada juga program Journey to Bandung Purba yang membantu masyarakat mengenal sejarah Kota Bandung. Hal ini karena banyak masyarakat yang masih mempercayai mitos tentang Tiga Pesona Dewa Alam, yaitu Sanghyang Poek, Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Kenit. Journey to Bandung Purba kemudian memberikan penjelasannya secara ilmiah kepada masyarakat.

RBTSB juga sudah bekerjasama dengan Kemendikbudristek  di Residensi Seniman Taman Bacaan Masyarakat pada tahun 2023. Mereka bekerja sama dengan Seniman Rajut dengan berkelana ke Gua Pawon lalu meminta anak-anak untuk menggambar apa yang mereka lihat di sana. Hasil dari gambaran tersebut dirajut oleh orang tuanya, kemudian dibuatkan instalasi dan dipamerkan di Stovia Jakarta pada Pekan Kebudayaan Nasional selama dua minggu.

Selain itu, Journey to Bandung Purba juga pernah mempelajari lebih dekat tentang Lava Pahoehoe yang Heri anggap belum banyak yang mengetahuinya. “Bahkan masyarakat Bandung ini sedikit tahu tentang Lava Pahoehoe atau Lava Basaltik di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Di sana terdapat satu situs bernama Batu Batik. Dalam buku Bandung Purba disebut Batu Karembong Dayang Sumbi. Hanya ada beberapa di dunia; Islandia, Hawaii, dan ternyata di Bandung itu ada”, jelas Heri.

Heri Maja Kelana di depan rumahnya yang juga menjadi Rumah Baca Taman Sekar Bandung. (Foto: Adhani N. Khairina)

Lokasi Baru

Akhirnya saya diajak mengunjungi lokasi yang baru. Rumah baca itu berada satu atap dengan rumah Keluarga Heri yang berisikan 4 orang. Ketika membuka pintu rumah, pemandangan beberapa rak buku yang terisi penuh dengan buku-buku anak bisa terlihat dengan jelas. Heri menyusun buku-buku tersebut sesuai dengan level jenjang pembaca dari A hingga C.

Anak-anak yang ingin membaca atau mengerjakan tugas terbuka 24 jam untuk datang ke sana, meskipun bisa mengganggu waktu istirahat keluarganya.

“Tapi kalau ke sini-sini sih udah biasa. Makanya dibikinnya yang namanya rumah baca. Jadi memang bentuknya kayak rumah”, ujar Heri.

Bagi saya, yang dilakukan Heri adalah karena kecintaannya kepada dunia membaca. Saat ditanya mengambil studi apa, Heri menjawab Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Hal ini tentu saja tidak luput dari kegemarannya membaca sejak sekolah dasar, sehingga jurusan sastra merupakan pilihan yang tepat.

Sebagian koleksi buku di Rumah Baca Taman Sekar Bandung. (Foto: Adhani N. Khairina).

Heri dan temannya rajin membeli majalah Bobo dan buku serial Goosebumps karya R. L. Stine secara daring. Terkadang Heri ikut membaca novel Wiro Sableng karya Bastian Tito yang dikoleksi oleh kakaknya sebagai penggemar karya kolosal itu. Ketika ditanya buku yang paling berkesan, bagi Heri, Dunia Sophie yang ditulis oleh Jostein Gaarder.

“Ada gak satu buku yang memang jadi awal ketertarikan kakak dengan literasi?” tanya saya.

Dunia Sophie. Itu mengubah cara pandang saya. Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng juga The Orange Girl. Setelah sekarang menikah dan berkeluarga, yang diceritakan di buku-buku itu ternyata terasa sekarang. Buku-buku dari Jostein Gaarder mungkin sangat membekas”, jawab Heri, dengan wajah seperti bernostalgia.

Dari penelusuran ini saya seperti saudara Berit dan Nils Boyum yang bertualang dalam buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang saya baca saat sekolah dasar. Saya dapat mengenali setiap sudut kota yang jarang dijamah, seluk beluk sejarah buku, dan dunia literatur dari buku-buku yang ada di perpustakaan misterius.  Saya membayangkan, hal ini serupa dengan berkunjung ke Rumah Baca Taman Sekar Bandung yang terbuka 24 jam. Di situ ada ratusan koleksi buku dari berbagai genre, terutama buku-buku untuk dibaca oleh anak-anak.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Adhani N. Khairina

Adhani N. Khairina

Mahasiswi Sastra Inggris, Unpas. Sekarang sedang menjadi reporter di hanyawacana.id.