Mang Jaka Setun: “THR dari Allah buat Aa dan Istri”

Mang Jaka Setun berpose dekat gerobaknya. (Foto Zulkifli Songyanan).

“Mintalah doa dari siapa pun, karena kita tidak tahu lewat mulut siapa keinginan kita dikabulkan”

Anjuran di atas disampaikan Pak Ade, tukang bebersih di Sungai Cikapundung dan Curug Dago, circa 13 tahun lalu.

Saya bukan orang yang mudah mengingat nasihat orang lain, apalagi mempraktikkannya. Namun, keterangan Pak Ade—yang konon ia kutip dari ungkapan seorang saleh—begitu
membekas di kepala, bahkan dalam banyak kasus, mudah-mudah saja saya upayakan menjadi laku.

Dan, begitulah yang terjadi pekan lalu, Sabtu (15/3) sehabis azan magrib. Di seberang RS Kiwari, Bandung, spontan saya meminta doa kepada seorang tukang cimol bojot & cireng bumbu. “Istri saya sedang pemulihan, kemarin habis melahirkan. Saat ini, bayinya dirawat di ruang khusus lantaran saturasi oksigennya kurang. Dia sesak. Mungkin karena badannya terbilang besar, 4,4 kg saat dilahirkan.”

Mang Jaka, sosok yang kepadanya saya mohon didoakan, tersenyum. Mulanya ia bertanya, mengapa saya ada di Rumah Sakit Kiwari, siapa yang dirawat, kenapa.

Setelah saya memberi penjelasan, ia pun mengabulkan keinginan saya dengan mendoakan banyak hal bagi kebaikan istri dan anak kami—Ikrar Ibrahim Karesian Songyanan. Alih-alih diam, Mang Jaka kemudian menyebut anak pertama kami sebagai “THR lebaran dari Gusti Allah buat Aa dan istri.” Saya senang dengan caranya membuat ungkapan, juga dengan caranya merespons obrolan di tengah hujan rintik-rintik.

Ikrar lahir pada Jumat kliwon, 14 Maret 2025/15 Ramadhan 1446 H, bertepatan dengan hari jadi Persib ke-92 versi 1933. Bagi sebagian Bobotoh, tanggal lahir anak kami terbilang keramat.

Kami bersyukur tanggal tersebut mudah diingat. Nama Ikrar Ibrahim saya caplok mentah-mentah dari salah satu lirik Syair Manunggal-nya Cupumanik, band Grunge asal Bandung. Pertama kali mendengar lagu tersebut beberapa tahun ilam, saya langsung kesengsem menjadikan frasa “ikrar Ibrahim” sebagai nama anak, kalau-kalau saya punya anak laki-laki suatu saat nanti.

Di telinga saya, ikrar Ibrahim menyiratkan keteguhan dan komitmen tingkat nabi—nilai dan kualitas yang ingin betul saya pelajari. Bukan tanpa alasan saya menyukai kesan yang mencuat dari frasa ikrar Ibrahim, lebih-lebih jika mengingat betapa sukarnya mewujudkan keteguhan dan komitmen, paling tidak dalam kehidupan saya sehari-hari.

Syukurlah, saat angan-angan itu menjadi nyata, istri saya, Gita Fardani, tidak keberatan. Rasa syukur saya makin besar ketika Pak Che, penulis lagu tersebut, berkenan memberi izin tanpa keharusan membayar royalti.

“Semoga kelahirannya lancar yah. Dan nanti, semoga kehadiran bayi kecil akan membawa anyak warna-warni kebahagiaan di tengah kalian. Amin,” ungkap Che Cupumanik, saat saya hubungi via Instagram.

Alhamdulillah, seperti doa Pak Che, sekalipun melalui operasi, proses kelahiran Ikrar terbilang mulus-lancar. Istri saya masuk ruang bedah kurang lebih pukul 14.40, dan anak kami, seturut keterangan pihak rumah sakit, lahir 34 menit kemudian.

Adapun Karesian—kata ini yang mungkin bakal banyak ditanyakan orang—saya ambil dari judul kitab berbahasa Sunda Kuna keluaran abad 16. Sanghyang Siksakandang Karesian. Maknanya, kalau saya tidak keliru, “Ajaran Etika & Moral untuk menjadi Resi” atau kaum agamawan. Kata dasar Karesian memang resi, artinya orang bijak atau orang suci. Saya berharap garis nasib serta keputusan-keputusan yang kelak diambil Ikrar Ibrahim bakal banyak didasarkan pada sifat-sifat orang bijak atau orang suci.

Sejenak, mari kita kembali ke Mang Jaka. Bagaimanapun, saya menulis ini agak erpanjang-panjang tak lain dan tak bukan sebagai bentuk terima kasih kepadanya. Saya mengalami kebuntuan menulis dalam waktu yang lama, dan pertemuan dengan Mang Jaka sontak mencairkan kebuntuan itu.

Ketika saya tanya apa nama merek dagangannya, lekas-lekas Mang Jaka menjawab, “Setun, A, Setun. Cimol Bojot & Cireng Bumbu Setun”. Setun yang dimaksud tentu saja Stones, The Rolling Stones. Mang Jaka mengarahkan ibu jari kanannya ke arah kaca gerobak, dan tampak tulisan CIMOL BOJOT & CIRENG BUMBU disusul logo lidah menjulur khas The Rolling Stones.

Roda cimol bojot Mang Jaka. (Foto: Zulkifli Songyanan).

Di Bandung, ada suatu masa ketika Setun begitu populer. Seorang pemusik buta yang kerap membawakan lagu-lagu lagu-lagu The Rolling Stones dengan instrumen kecapi dan mangkal di Jalan Braga dijuluki Braga Stone. Sebuah band dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) beraliran noise rock/post punk/performance art menamakan dirinya A Stone A. Sejumlah orang di bilangan Jalan Pelesiran menandai wilayahnya dengan Gang Stones.

Keterangan komprehensif mengenai popularitas Setun di Kota Kembang dapat Anda simak dalam “A’ Setun A’! Jagger/Jègêr/Jäger?”, esai paling panjang dalam Trocoh (baNANA, 2021), kumpulan tulisan Budi Warsito.

Circa 1970-1980, ungkapan “A, Setun, A…”begitu marak di Bandung. Menurut Budi, ungkapan itu merupakan “Ekspresi penonton meneriakkan request lagu-lagu Setun saja yang dimainkan oleh siapa pun band yang sedang tampil di atas panggung.”

Dalam salah satu diskusi Jumaahan di Kedai Jante, penulis dan peneliti musik Irfan Poppish juga menyebutkan bahwa di Bandung, “wabah” The Rolling Stones tidak hanya menjangkiti panggung dan skena musik, tapi menjalar hingga ke pos ronda. Sekarang—dan ini mungkin belum tercatat dalam riset Irfan—Setun mewujud dalam gerobak cimol bojot dan cireng bumbu kepunyaan Mang Jaka.

Saya menduga, Mang Jaka menyamai dagangannya Setun karena ia ngefans sama Mick Jagger. Dugaan saya agak meleset. “Cimol bojot Setun, pedasnya terasa Rock n Roll,” timpal Mang Jaka, tampan dan meyakinkan.

Mang Jaka, sosok asal Limbangan, Garut, berjualan cimol baru tiga tahun belakangan. Ia hijrah ke Bandung sejak 1990-an, menjajal aneka pakasaban, termasuk jualan aksesoris—profesi
terakhir yang ia lakoni sebelum menjajakan cimol bojot & cireng bumbu.

Petang itu, sembari menyiapkan cimol Setun, Mang Jaka menawari saya kulpi, kulit lumpia.

“Mangga disepil, A, cobain dulu. Kalau cocok oleh dicampur sama cimol.” Tangannya cekatan elumuri cimol dengan minyak cabai, bawang goreng, dan aneka bumbu.

Ketika istri saya mencicipi karya Mang Jaka, sedikit saja, tentu, senyumnya terkembang. “Dari segi bumbu, ini lebih mantap ketimbang cimol bojot Aa.”

Cimol Bojot Aa adalah cimol yang sedang tren sekarang. 18 bulan menjadi suami Gita, saya tahu kalau dalam perkara kuliner dan gastronomi, dia punya selera & intuisi jempol an. Rekomendasinya atas berbagai jenis makanan jarang membuat saya serta sahabat dan keluarganya kecewa, dan konon itu adalah salah satu kelebihannya sejak dulu kala. Sayangnya, dia ogah menjadi tukang review makanan atau food bloger. “Malu,” ungkapnya.

Pengakuan bahwa ia pemalu adalah satu hal, tetapi pendapatnya bahwa Cimol Bojot Setun punya rasa istimewa tak terbantahkan. Anda boleh mencobanya jika suatu saat wara-wiri di sekitaran RS Kiwari, tak jauh dari terminal Leuwipanjang.

“Kalau Aa banyak follower-nya, punten bantu-bantu spill Cimol Bojot Setun,” pesan Mang Jaka.

Saya tidak punya banyak follower dan tidak perlu punya banyak untuk menyiarkan kabar baik semacam ini. Sembari berharap cimol bojot Setun punya nasib laris manis tanjung kimpul, saya berharap Anda yang sudah sampai di paragraf ini berkenan mendoakan kesehatan anak saya.

Hingga tulisan ini dibereskan, tepat sepekan setelah Ikrar dilahirkan, ia masih terbaring di rumah sakit. Alat bantu napas memang sudah lepas dari hidungnya pada hari kelima—setelah dokter menyatakan saturasi oksigennya mulai normal—tetapi infus ke tali pusar serta antibiotik yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui tangan dan kakinya secara bergantian masih terpasang. Sambil mencicipi pesona rock n roll-nya cimol bojot Setun, hati saya rawan mendapati Ikrar si orok gemoy dan ibunya berbaring di ranjang dan ruang berlainan.

Kuat-kuat, Jang!

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Sehari-hari menjadi jurnalis.