Tirani di Negeri Konoha

Ilustrasi: Canva.

Di atas menara, seorang lelaki tua berdiri dalam keheningan malam, tubuhnya diselimuti bayangan rembulan. Jubahnya yang gelap berkibar pelan ditiup angin, sementara satu tangannya yang penuh bekas luka bertumpu di pagar besi. Matanya yang tersembunyi di balik perban tampak tajam, menatap ke arah desa yang telah ia jaga dengan cara yang hanya ia pahami.

Di kejauhan, seorang anak lelaki berlari di antara puing-puing yang dulu menjadi rumahnya. Napasnya tersengal, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga ketakutan. Ia sadar bahwa di balik pekatnya malam, ada tatapan tajam yang terus mengintainya.

Danzo Shimura, lelaki tua itu, menyaksikan semuanya tanpa ekspresi. Baginya, darah yang tertumpah adalah harga yang harus dibayar demi ketenangan desa—setidaknya, ketenangan versinya.

“Kau terlalu lemah, Hiruzen,” gumamnya. “Dan karena kelemahan itu, aku yang harus mengambil keputusan sulit.”

Hiruzen Sarutobi, Hokage Ketiga, memilih diplomasi dalam menghadapi ancaman Klan Uchiha. Namun, bagi Danzo, kelembutan seperti itu adalah bentuk kelemahan yang hanya akan membawa kehancuran bagi desa.

Klan Uchiha, dengan kekuatan Sharingan mereka, adalah salah satu klan terkuat di Konoha. Namun, kekuatan ini pula yang memancing kecurigaan atas mereka. Setelah insiden serangan Kyuubi, mereka dipinggirkan dari pusat kekuasaan, dicabut hak-haknya secara perlahan.

Didorong oleh kekecewaan, klan ini mulai merencanakan pembalasan atas ketidakadilan yang mereka rasakan.

Namun, sebelum niat mereka terwujud, Danzo dan pihak elit Konoha mengambil langkah ekstrem. Mereka mengirim Itachi Uchiha—seorang jenius dari klan itu sendiri—untuk membantai keluarganya.

Dalam satu malam, seluruh Uchiha lenyap, menyisakan hanya dua orang: Itachi dan adiknya, Sasuke.

Apa yang terjadi malam itu bukanlah akhir, melainkan bara yang akan membakar Konoha dari dalam.

Dwifungsi Para Ninja di Konoha

Tersembunyi di balik lebatnya hutan, Konoha, atau Konohagakure, adalah satu dari lima desa ninja besar. Ia menjadi pusat kekuatan militer dan politik yang telah bertahan dari generasi ke generasi.

Di balik gerbang kayunya yang kokoh, desa ini bukan hanya rumah bagi para ninja, tetapi juga bagi penjual ramen, petani, pengrajin, dan keluarga mereka. Namun, kehidupan sipil dan militer di Konoha tidak pernah benar-benar terpisah.

Desa ini dipimpin oleh seorang Hokage, ninja terkuat yang bertanggung jawab atas pertahanan dan kesejahteraan desa. Selain memimpin para ninja, Hokage juga mengawasi Anbu, pasukan khusus yang terlibat dalam misi-misi berbahaya demi keamanan Konoha.

Di Konoha, ninja bukan sekadar prajurit. Mereka juga menjadi birokrat, pemimpin, dan penegak hukum. Mereka menjalankan fungsi militer sekaligus administratif, menjadikan batas antara kekuatan dan pemerintahan semakin kabur.

Keadaan ini memungkinkan desa merespons ancaman dengan cepat, tetapi juga membuka peluang bagi penyalahgunaan kekuasaan.

Para ninja tidak hanya bertempur di medan perang, tetapi juga memegang kendali atas kebijakan desa, mengatur strategi pertahanan, dan menegakkan hukum sesuai dengan kepentingan mereka.

Ketimpangan ini menempatkan desa di bawah dominasi mereka yang memiliki kekuatan. Struktur kekuasaan menjadi sangat elitis ketika pengambilan keputusan politik dan militer hanya melibatkan segelintir elit yang berada di puncak kekuasaan, layaknya struktur masyarakat feodal Jepang di era keshogunan.

Sejak awal, Konoha dibangun atas prinsip bahwa kekuatan adalah perlindungan terbaik bagi rakyatnya. Namun, ketika kekuasaan didominasi oleh kekuatan tanpa keseimbangan dan pengawasan, apakah kedamaian benar mencerminkan keadilan dan kesejahteraan, atau sekadar ketenangan semu di permukaan?

Retakan Rahasia, Dendam, dan Pengkhianatan

Kekuatan tak selalu berhasil menahan ancaman. Di balik dinding yang kokoh, ketidakadilan dan dendam merayap dalam bayang-bayang pengkhianatan.

Pasukan khusus seperti Anbu bergerak dalam sunyi, beraksi tanpa saksi. Namun, di balik Anbu, Root beroperasi lebih dalam lagi—sebuah unit bayangan di bawah kendali Danzo Shimura, yang meyakini bahwa stabilitas desa hanya bisa dijaga dengan tangan besi.

“Hanya dalam kegelapan Konoha bisa berdiri kuat,” katanya suatu ketika kepada para bawahannya, meyakinkan mereka bahwa aksi bawah tanah mereka yang menjadikan desa ini tetap kokoh.

Semua pembunuhan, pembantaian, dan penculikan yang mereka lakukan adalah ekspresi cinta tanah air dan manifestasi patriotisme mereka.

Ia adalah seorang veteran perang yang terluka, baik secara fisik maupun mental. Luka-luka di sekujur tubuhnya menjadi bukti pengorbanannya demi menjaga desa.

Namun, ia juga seorang patriot kalap yang menempuh jalan gelap demi stabilitas—jika bukan kekuasaan—bahkan sekalipun harus mengorbankan moralitas.

Ia tidak ragu mengorbankan klan, keluarga, bahkan anak-anak, jika itu dianggapnya perlu demi menjaga Konoha dari apa pun yang ia anggap sebagai ancaman.

Pemberontakan Uchiha yang seharusnya bisa dinegosiasikan berakhir dengan pembantaian. Klan ini dicurigai ingin merebut kekuasaan karena merasa dipinggirkan setelah Perang Dunia Ninja berakhir.

Danzo, yang melihat potensi ancaman ini, memanipulasi situasi hingga Hokage dan petinggi desa akhirnya sepakat untuk mengambil langkah ekstrem, dan pembantaian itu pun terjadi.

Disulut dendam, Sasuke Uchiha, satu-satunya yang selamat, hanya memiliki satu tujuan dalam hidupnya. “Aku akan menghancurkan semuanya sampai hanya aku yang tersisa,” cetusnya, meluapkan amarah tidak hanya kepada Danzo, tetapi juga seluruh desa yang membiarkan tragedi itu terjadi.

Tidak hanya itu, saat Danzo mencoba menjadi Hokage, pendekatan otoriternya juga membuatnya kehilangan kepercayaan dari para ninja lain. Banyak yang melihatnya bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai bayangan gelap Konoha.

Di atas menara, di bawah cahaya bulan, seorang lelaki tua berdiri. Ia percaya telah menyelamatkan desa. Namun, tanpa sadar, ia tengah menyulut bara yang akan membakar Konoha kelak.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Iman Haris

Iman Haris

Petani yang putus harapan