Mang Wandi: Pernah Menjadi Loper Koran, lalu Hidup di Perpustakaan Ajip Rosidi

Mang Wandi di pelataran Perpustakaan Ajip Rosidi. (Foto: Redaksi).

Di pelataran Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung, saya bertemu dengan Wandi Setiawan. Mang Wandi, sapaan akrab untuk Wandi Setiawan, merupakan seorang petugas kebersihan di Perpustakaan Ajip Rosidi.

Dengan menggunakan kemeja warna coklat yang selaras dengan pecinya, Mang Wandi duduk di sebuah meja kayu yang kebetulan juga berwarna coklat. Sore itu, Mang Wandi bersedia untuk diwawancarai.

Menjadi Pengamen dan Loper Koran

Jauh sebelum menjadi petugas kebersihan di Perpustakaan Ajip Rosidi, Mang Wandi menggantungkan uangnya dari hasil mengamen. Kala itu tahun 2004, Mang Wandi menyusuri jalanan Kota Bandung dengan membawa alat musik sederhana. Mengamen bukanlah keinginan Mang Wandi. Baginya, ini salah satu cara agar bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Emang keadaan. Cari kerja susah, sebelum turun jualan koran, dulu mah sempet ngamen dulu sambil bawa kemoceng”, ucapnya.

Saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Medina, Mang Wandi pernah membentuk sebuah band bernama Fulltive (Full Alternative). Ia memegang posisi sebagai drummer dan belajar secara otodidak. Keterlibatannya dalam sebuah band, meski hanya seumur jagung, menunjukkan minatnya di bidang musik. Karena itulah menjadi pengamen cukup sesuai dengan keahliannya.

Namun, hidup sebagai seorang pengamen penuh dengan ketidakpastian. Penghasilan yang tidak menentu mendorongnya untuk mencari ikhtiar lain untuk menunjang keberlangsungan hidup. Dari mengamen Mang Wandi beralih menjadi loper koran. Mang Wandi menuturkan ia mulai tertarik ke dunia persuratkabaran semenjak melihat temannya yang berprofesi sebagai penjual koran dan mendapati pendapatan temannya tersebut tampak lebih stabil. Ia lambat laun menyadari koran tak hanya kertas bergambar yang menyampaikan informasi saja. Lebih dari itu, kertas-kertas bergambar  itu ternyata bisa menjadi pengganda lembaran uang.

“Ya, lihat teman jualan koran jadi kabita ikutan jualan koran. Tapi sedikit-sedikit dulu. Terus habis itu, ah agak lumayan jualan koran. Langsung ngambil ke agennya. Nah, dari situ terus jualan koran” ungkapnya.

Keputusannya untuk menjadi loper koran membawa Mang Wandi menjalani rutinitas harian yang cukup berat. Hal ini ia jalani selama lima tahun, dari tahun 2004 hingga 2009. Bagi para pelanggannya, Mang Wandi bukan sekadar seorang loper koran. Ia adalah pembawa kabar, jembatan informasi, dan penjaga tradisi.

Tanpa menggunakan kendaraan apa pun, Mang Wandi berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Kerja keras ini didedikasikan untuk keluarganya, sekaligus demi bisa bertahan hidup di Kota Kembang ini. Selang setahun bergelut menjadi koper koran, ia pun berhasil membeli sepeda motor.

“Jalan kaki dipanggul dari Cikapundung, terus ke Stadion Persib Sidolig, langsung ke Lodaya. Terus keliling lagi ke Palasari ke dalam pasar, terus balik lagi ke Stadion Persib Sidolig, sambil nyari pelanggan. Setahun jalan kaki jualan koran teh, terus dapet motor. Alhamdulillah, Lumayan rame dulu mah jualan koran teh. Saingan teh hanya beberapa orang” tutur Mang Wandi.

Profesi sebagai loper koran di masa itu memiliki tantangannya tersendiri. Persaingan antarpenjual, kondisi cuaca yang tidak menentu, dan perkembangan teknologi informasi yang mulai menggerus popularitas media cetak menjadi beberapa faktor yang harus dihadapi Mang Wandi. Di tengah kehidupan keluarganya yang dramatis, ia menjadi saksi tergerusnya zaman ketika informasi mengalir membanjiri layar kaca. Ketika itu, berita-berita sensasional dan hiburan instan sering kali datang lebih cepat ke masyarakat melalui televisi daripada melalui seorang loper koran.

Mang Wandi bertutur tahun 2009 adalah pukulan telak bagi kehidupannya. Tahun yang penuh gejolak. Perceraian dengan sang istri memaksanya untuk memilih keputusan yang berat. Ia memutuskan untuk pensiun sebagai loper koran selain penjualan koran yang agak menurun.

“Keadaan keluarga kacau, jadi bawaannya males. Percumalah gitu diterusin juga jualan koran, mau nafkahin siapa. Pokoknya pikirannya kalut, engga mau nerusin,” tuturnya dengan suara yang mulai mengecil.

Masa setelah berpisah dengan sang istri merupakan periode yang sangat sulit. Mang Wandi mengaku sempat menjalani masa kelam, terombang-ambing di tengah hiruk pikuk Kota Kembang tanpa punya pegangan hidup yang pasti.

Mang Wandi menarik dan menaikkan lengan kemejanya. Di tangan kirinya terdapat tato jangkar yang menarik perhatian saya. Ia menjelaskan mendapat tato itu pada masa-masa sulitnya. Tak hanya tato, Mang Wandi juga lantas menindik daun telinga kirinya yang sampai hari ini membuatnya menyesal.

Mang Wandi sempat disangka kelompok gangster dan merasakan singgah selama 3 hari bersama 3 temannya di kantor Polisi Resor Kota Besar (Polrestabes) Jalan Jawa No. 5, Kota Bandung. Kejadian itu terjadi karena di motor yang dipinjamnya terdapat senjata tajam. Ia mengaku tidak tahu-menahu tentang keberadaan senjata tersebut. Pengalaman singkat di balik jeruji besi itu menjadi pelajaran berharga bagi Mang Wandi, dan juga menyadarkannya untuk kembali menata hidup.

“Pas nyampe, langsung dimasukin kamar mandi, biar sadar. Terus pas diinterogasi ditelanjangi dulu, cuman pake celana dalem doang. Terus ditendang, tapi gak kaya menyiksa gitu. Di sana di kantor polisi saya udah ada catatan buruklah. Nanti kalau kena lagi, saya sudah pernah punya kasus,” kenangnya.

Mencoba Profesi Lain

Setelah berhenti menjadi loper koran, Mang Wandi mencoba berbagai pekerjaan lain untuk bertahan hidup. Ia sempat berjualan jas hujan, masker, dan sarung tangan. Sebuah pekerjaan yang bergantung kepada ramalan cuaca dan kebutuhan mendadak. Kemudian, pada tahun 2018 hingga 2020, ia bekerja sebagai marbut di masjid Al-Jihad, Jalan Garut, Kota Bandung. Pekerjaan yang memberikan ketenangan dan kedekatan spiritual di tengah kesulitan hidup yang dialaminya.

“Udah tidur aja di sini, sekalian-lah jadi marbot di sini. Sekalian jaga-jaga, bersih-bersih” kata pengelola masjid sebagaimana dituturkan Mang Wandi.

Baginya, di masjid inilah ia mendapatkan hidayah untuk menjadi pribadi yang lebih taat kepada Sang Maha Kuasa. Namun lagi-lagi, sebuah peristiwa tak terduga menghentikan pekerjaannya. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 memaksa banyak tempat ibadah, termasuk masjid, untuk menutup pintu dan memberlakukan pembatasan kegiatan yang sangat ketat. Hal ini menyebabkan Mang Wandi kehilangan pekerjaannya sebagai marbut sekaligus menambah daftar panjang tantangan yang harus dihadapi.

Berlabuh di Perpustakaan Ajip Rosidi

Perjalanan hidup yang penuh lika-liku akhirnya membawa Mang Wandi ke Perpustakaan Ajip Rosidi. Ia menjelaskan mula-mula hanya menumpang tidur di sana, mencari tempat berlindung dan beristirahat setelah berbagai kesulitan yang dialaminya. Tetapi, takdir berkata lain. Pada Januari 2024, ia mulai bekerja sebagai penjaga kebersihan di perpustakaan tersebut.

Mang Wandi di depan Aula Perpustakaan Ajip Rosidi. (Foto: Redaksi).

Perpustakaan Ajip Rosidi bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku. Tempat itu menjadi salah satu jantung kebudayaan di Bandung, yang berperan penting dalam melestarikan literatur Indonesia, terutama Sastra Sunda. Dengan berbagai koleksi langka dan kegiatan diskusi rutinan, perpustakaan ini menjadi rumah bagi ilmu pengetahuan dan cerita. Dengan demikian peran petugas kebersihan lebih dari sekadar membersihkan. Mang Wandi turut menjaga lingkungan yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan apresiasi terhadap berbagai literatur.

Dengan usia 44 tahun, Mang Wandi masih semangat mendedikasikan hidupnya menjadi seorang penjaga warisan budaya di Perpustakaan Ajip Rosidi. Di sana ia tidak hanya menggantungkan hidup, tetapi juga kerap bertemu orang-orang dan banyak belajar dari mereka.

Sebelum menutup obrolan saya melontarkan pertanyaan kepada Mang Wandi. “Apa harapan Mang Wandi bagi perpustakaan ini ke depannya?”

“Yang pasti mah mudah-mudahan perpusnya lebih maju, lebih banyak peminatnya. Terutama pembacanya,” jawab Mang Wandi dengan senyum.

 

Editor: RIdwan Malik

Picture of Regia Ramadhina Revalgian

Regia Ramadhina Revalgian

Mahasiswa Sastra Inggris, Unpas. Menjadi reporter hanyawacana.id.