Si Hitam Bertenaga Kerbau

Perjalanan ke Pusat Penelitian Teh dan Kina di Gambung, Ciwidey. (Dokumentasi: Hafidz Azhar)

Si Hitam, motor saya, umurnya sudah menginjak 20 tahun. Tidak terlalu tua sih, jika dibandingkan dengan Bekjul. Tetapi, di rumah saya, hanya si Hitam satu-satunya kendaraan yang melebihi satu dekade. Yang lainnya, rata-rata berumur 8-9 tahunan.

Kalau tidak salah ingat, si Hitam dibeli tahun 2005. Nama bekennya Honda Supra Fit. Orang lalu meneguhkan namanya menjadi Supra Fit New, karena sebelum itu perusahaan Honda telah memproduksi Supra Fit dengan model yang sederhana. Dari segi tampilan, saya pikir, Supra Fit awal hampir mirip dengan motor yang beredar di tahun 1990-an. Tentu saja Supra Fit muncul mulanya di tahun itu.

Berbeda dengan Supra Fit awal, Supra Fit New tampak lebih kekinian. Body-nya disesuaikan dengan kebutuhan pengendara. Ada bagasi di bagian dalam, juga bisa dipasang bagasi luar di belakang sayap.

Sepeninggalan ayah motor bebek itu digunakan untuk bermacam urusan. Perkara ini kadang tidak bisa ditebak. Begini, misalnya. Jika ayah bekerja di rumah, si Hitam otomatis jatuh ke tangan saya. Lain cerita jika ayah bertemu klien, paling saya diantar bila hendak pergi ke suatu tempat. Terkadang juga si Hitam tidak pernah digunakan oleh siapa pun. Baik oleh saya maupun para penghuni rumah lainnya.

Dulu, ayah tidak pernah memberikan nama pada Supra Fit itu. Si Hitam sendiri namanya baru saya berikan belakangan, setelah ayah meninggal oleh Covid-19. Semula motor itu tampil dengan berbagai warna. Bukan hanya hitam yang mendominasi, ada biru juga dengan sedikit polet silver dan garis kuning.

Kakak kedua saya kemudian mengubah motor tersebut menjadi hitam. Beberapa onderdil juga diganti, termasuk jok, velg dan shock breaker. Entah apa sebabnya, setelah dimodifikasi si Hitam tak pernah dipakai. Saban berangkat kerja, kakak saya selalu nebeng bersama temannya. Saya pun jadi penasaran, kemudian saya cek motor itu dari belakang hingga bagian depan. Saya coba hidupkan dan saya kendarai si Hitam ke sebuah tempat yang agak jauh. Alhasil, tidak ada yang aneh dari mesinnya. Semua terasa baik-baik saja.

Sebelum si Hitam jatuh lagi ke tangan saya, ada dua motor yang selalu menjadi tumpangan. Pertama, Honda Beat keluaran 2016, kedua, Yamaha Jupiter MX tahun 2007. Jauh-jauh hari sebelum kedua motor ini digunakan, si Hitam, sebetulnya, sudah lama ikut ke sana ke mari. Bermula pada tahun 2006. Kala itu saya masih duduk di bangku 3 tsanawiyah, dan ibu memperbolehkan saya membawa motor ke sekolah. Itulah kali pertama saya mengendarai motor di jalan raya. Karena usia yang belum mencukupi, saya selalu ketakutan bila berhadapan dengan polisi.

Seiring bertambahnya usia si Hitam selalu menjadi andalan ke mana pun saya pergi. Ibarat Rozinante yang setia ditumpangi Don Quixote, si Hitam tidak saja turut mengantarkan ke sekolah, dan ikut membawa saya berpetualang ke berbagai pelosok di Jawa Barat. Petualangan pertama, saat ikut mengantarkan kakak kelas untuk program pendidikan di Kampung Sindang, Kabupaten Majalengka. Setelah itu saya jadi sering main ke luar kota. Pernah saya diajak teman seangkatan untuk berlibur ke pantai selatan, Pangandaran. Ini terjadi saat menjelang kenaikkan tingkat ke kelas 12. Untuk wilayah lain, si Hitam kayaknya lebih sering ke Garut dan Tasikmalaya, atau jauh ke sebelah timur utara seperti Majalengka dan Cirebon.

Ke barat tidak ketinggalan. Sekitar tahun 2009, saya diundang untuk meramaikan acara bedah buku di Pendopo Kota Sukabumi. Waktu itu saya masih kuliah di semester 1. Untuk menempuh perjalanan ke Sukabumi saya bersama beberapa kawan menggunakan kendaraan pribadi. Tentu saja saya bersama si Hitam. Masing-masing dari kami membonceng satu orang dengan tiga unit sepeda motor. Sepulang dari Sukabumi, kami tidak langsung pulang ke Bandung, tetapi meneruskan perjalanan menuju tempat yang letaknya di perkampungan Kabupaten Cianjur.

Berapa jarak yang kami tempuh dari Bandung-Sukabumi-Cianjur lalu kembali lagi ke Bandung? Kalau dihitung, mungkin, lebih dari 70 kilometer. Soal bensin, tidak usah takut. Waktu itu harga bahan bakar masih tergolong murah. Dari Bandung ke Sukabumi hanya menghabiskan dua liter bensin atau setara dengan harga 12.000 rupiah. Irit, bukan?

Itulah yang menarik dari si Hitam. Ada yang lain? Tentu saja. Selain hemat bahan bakar, si Hitam memiliki tenaga serupa kerbau. Analoginya seperti ini:

Soal kecepatan, kerbau jelas berbeda dengan kuda. Maklum, lah, badan kerbau lebih besar daripada kuda. Tetapi jangan khawatir. Meski sedikit lambat, kerbau, sebetulnya, memiliki kekuatan yang setara dengan kuda. Sebelum adanya traktor, kerbau biasa digunakan untuk menggarap sawah oleh para petani. Bahkan dulu, kerbau menjadi kendaraan alternatif untuk menarik roda. Ada juga yang menjadikan kerbau sebagai ajang untuk balapan. Rupanya hal ini berlaku di beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Di Sumbawa, misalnya, ada tradisi Karapan Kerbau. Dua ekor kerbau ditunggangi oleh satu orang, lalu si penunggang berusaha untuk segera sampai di garis finish.

Itulah mengapa saya menganggap si Hitam seperti kerbau. Dari segi kecepatan memang tidak seberapa, tetapi ia mempunyai kekuatan yang bisa menyaingi motor lain.

Ada lagi, misalnya: sekitar tahun 2013, teman saya, Kubil, pernah meminjam si Hitam selama satu minggu. Saya tidak tahu persis ke mana Kubil akan berlabuh. Kubil hanya mengambil kunci dan pergi seketika. “Untuk beberapa hari saja”, katanya. Setelah kembali, Kubil bilang bahwa si Hitam digunakan untuk mengangkut barang di tengah banjir. Sebagai yang aktif di organisasi pecinta alam, Kubil merasa bahwa banjir kala itu memerlukan bantuan massa yang lebih banyak. Banjir musiman yang sering terjadi di Dayeuh Kolot itu, membuat Kubil dan teman-teman lain terjun mengamankan barang-barang milik warga. Pun demikian dengan si Hitam, ia ikut terlibat di tengah kepungan air.

Saat Kubil bercerita tak ada sedikit pun rasa marah yang timbul. Saya sendiri malah asyik mendengarkan kisah heroik si Hitam di tengah banjir besar itu. “Edan, motor maneh hirup kénéh najan ngaliwatan banjir oge (Edan, motor kamu masih hidup meski melewati banjir juga)” kata Kubil sambil menggelengkan kepala.

Saya tidak tahu, apakah motor lain bernasib sama jika digunakan untuk menolong orang? Mungkin ini kebetulan. Yang jelas, saya sangat senang dengan warisan mendiang ayah ini. Nilai yang tidak seberapa bila disandingkan dengan Moge. Pada saat orang merasa jumawa dengan motor besar, saya justru ingin agar si Hitam unjuk kekuatan melewati jalan terjal dan berlubang. Saya berani bertaruh, sekuat apa Moge bila berada di jalan seperti itu. Jangan-jangan hanya berani di jalan yang mulus. Bahkan tanpa dikawal bisa apa?

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Hafidz Azhar

Hafidz Azhar

Sehari-Hari mengajar dan menjadi Pemimpin Redaksi Hanya Wacana.