Siger Tengah ala Dadang Kahmad

Selepas peluncuran buku Dadang Kahmad Memilih Jalan Tengah di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Dokumentasi: Ibn Ghifarie)

Dadang Kahmad adalah sosok teladan yang telah memberikan kontribusi besar dalam bidang sosial, pendidikan dan keagamaan baik di lingkungan nasional maupun internasional. Sebagai seorang sosiolog, Dadang Kahmad memiliki cara pandang yang unik dalam memaknai Islam. Ia selalu menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan realitas sosial. Di tangannya, Islam diterjemahkan secara sosiologis, sehingga hasilnya menjadi lebih kaya, lentur, dan membumi tanpa kehilangan subtansi ajarannya.

Menurut pandangannya, Islam tidak boleh hanya menjadi agama yang indah secara normatif, tapi juga harus menjadi solusi bagi permasalahan kehidupan modern, harus menjadi rahmat bagi seluruh alam. Moderasi, toleransi dan inklusivitas menjadi benang merah yang selalu ia tekankan dalam berbagai kesempatan. Baik melalui tulisan, ceramah, maupun kebijakan yang digagas. Dengan begitu, ia dikenal sebagai salah satu sosok yang mampu menjembatani berbagai perbedaan di masyarakat. Apalagi dalam konteks kehidupan kekinian yang serba kompleks. Mau tidak mau, para pemikir Islam harus berinteraksi dengan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu eksakta.

Dalam buku Memilih Langkah Jalan Tengah: Biografi dan Pemikiran Dadang Kahmad, yang ditulis Ensa Wiarna dan Rudi Hartono, dengan editor Iu Rusliana, dan diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah, pembaca diajak untuk menyelami perjalanan hidupnya. Mulai dari masa kecil yang sederhana, hingga menjadi salah satu pemimpin Muhammadiyah yang dihormati. Ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh tantangan. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghalanginya untuk meraih impian. Dengan kecerdasan, ketekunan, dan keimanan yang kuat, ia berhasil mencetak sejarah sebagai seorang pemimpin yang disegani dan dihormati.
Buku tersebut juga merekam berbagai pemikirannya yang selalu mendorong moderasi dan keseimbangan. Nilai-nilai yang menjadi pondasi penting bagi kemajuan bangsa yang majemuk.

Dokumentasi: Ibn Ghifarie

Buku yang terdiri dari sembilan bagian ini banyak menyoroti nilai-nilai kepemimpinan Dadang Kahmad yang memadukan kearifan lokal dengan wawasan global untuk menciptakan harmoni dalam hidup. Kisah hidup, pengalaman dan gagasannya mengenai pendidikan, fenomena sosial, toleransi, dan keagamaan yang dituangkan dalam buku ini memberikan wawasan mendalam soal bagaimana seorang pemimpin dapat menjadi pelita bagi umat.
Tentu buku ini tidak hanya hadir sebagai bentuk dokumentasi perjalanan hidupnya, tapi juga sebagai sumber inspirasi dan pelajaran bagi generasi muda. Setiap bagiannya menyajikan kisah dan pemikiran yang menggugah. Dari perjuangan masa kecil, tantangan dalam kepemimpinan, hingga pemikiran-pemikirannya yang selalu relevan dengan dinamika zaman. Bagaimana nilai-nilai Islam yang berkemajuan dapat diterapkan secara nyata untuk menciptakan masyarakat yang adil, sejahtera dan damai.

Sunda dan Islam

Sagala gé ulah maké teuing, adalah satu di antara petuah yang umum bagi orang Sunda. Artinya, dalam hal apa pun jangan berlebihan. Diyakini bahwa berlebihan, entah dalam hal positif dan apalagi dalam hal negatif merupakan perilaku yang tidak baik. Sebagai contoh, menjadi pintar atau kaya adalah sesuatu yang baik. Namun, jika terlalu pintar atau terlalu kaya, maka terdapat pula di dalamnya sisi-sisi yang tidak baik. Di sisi lain, siger tengah lantas muncul sebagai solusi untuk menengahi hal itu, baik sebagai prinsip atau pandangan hidup. Siger tengah (sifat pertengahan) dimaknai dan diasosiasikan pada hal-hal positif. Karena sifat dan perilaku tersebut berada di jalur tengah, berada dalam keseimbangan.

Dalam buku Struktur Filosofis Artefak Sunda (2019), Jakob Sumardjo menegaskan siger tengah merupakan inti dari kearifan lokal Sunda. Pemikiran siger tengah bersifat moderat, yang memperlakukan segala sifat (kualitas segala) sesuatu yang saling bertentangan sebagai keberadaan yang saling mengeksistensi, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan. Siger tengah adalah jalan perdamaian, harmoni, terbuka, toleran, saling membenarkan, menyadari kodrat perbedaan, hidup saling mengasihi (silih asih), saling mengingatkan (silih asah), dan saling melindungi sekaligus memelihara perbedaan masing-masing (silih asuh).
Masyarakat Sunda telah memiliki hukum adat sendiri dalam praktik sosialnya. Mereka mengenal tiga kesatuan hukum: kesatuan buhun (adat Sunda), nagara (pemerintahan nasional), dan sarak (syariat Islam). Tiga kesatuan hukum itu pada awalnya hanya berasal dari dua entitas, yakni Sunda (lama) dan Islam (baru). Baru kemudian, keduanya bisa bisa harmonis dalam satu kesatuan melalui mediasi Nagara. Bentuk mediasinya adalah menempatkan Pancasila sebagai falsafah hidup bersama.

Rudi Sirojudin Abas, peneliti Nahdliyyin, menggambarkan bahwa Pancasila adalah contoh konkret produk dari prinsip siger tengah. Bagaimana kemudian Pancasila bisa menjembatani keberagaman etnis, budaya, dan agama yang ada di Indonesia. Dengan begitu, budaya dan agama lokal yang sebelumnya telah ada bisa menerima dan hidup berdampingan dengan budaya dan agama-agama yang datang belakangan.

Pancasila sebagai produk ideologi bangsa Indonesia adalah wadah untuk mengikat keberagaman perbedaan menjadi satu kesatuan. Eksistensinya perlu dijaga dan dipelihara. Karena sejatinya, nilai-nilai esensial agama pun telah terkandung dalam keseluruhan butir-butir Pancasila. Oleh karena itu, maka tidak berlebihan jika Pancasila disebut sebagai siger tengah; asas bernegara dalam mengakomodasi setiap perbedaan-perbedaan dengan tujuan untuk menciptakan harmoni hidup berbangsa, bernegara, dan beragama.

Tampaknya siger tengah terpancar dalam sifat, pandangan, perilaku dan angan-angan Dadang Kahmad tentang terwujudnya masyarakat yang berkesinambungan. Setidaknya, hal itu bisa ditemukan jika kita membaca buku yang telah saya sebutkan. Selain itu, kecenderungan Dadang Kahmad memilih jalur tengah sebagai jalan yang ditempuh dalam perjuangannya juga sangat dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan budaya Sunda dan agama Islam. Dua keadaan yang selaras, yang memberi landasan bahwa perilaku orang Sunda banyak yang sesuai dengan Islam, begitu juga sebaliknya.
Tatkala setiap pribadi mampu memaknai teuing atau keterlaluan sebagai sesuatu yang tidak baik, maka bukan mustahil masyarakat siger tengah atau dalam terminologi Islam disebut ummatan wasathan akan terwujud. Sebuah konsep masyarakat ideal, yaitu masyarakat yang berkeseimbangan. Keberadaan pribadi yang berada di jalur tengah ini, diyakini akan mampu memadukan aspek rohani-jasmani dan spiritual-material dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Keberanian untuk berinteraksi, berdialog, terbuka untuk bersinggungan dengan berbagai agama, budaya dan peradaban tanpa ketersinggungan adalah modal sekaligus titik pandang Dadang Kahmad memerankan pribadinya dalam konteks sosial secara utuh.

Dadang Kahmad tak pernah segan mengoreksi pandangan pihak lain yang dianggap keliru, dan mendukung pihak yang harus didukung karena dianggap benar. Misalnya, ketika ia harus menghadapi masyarakat di tempat kelahirannya, Kampung Calingcing, Garut, Jawa Barat. Masyarakat di sana memercayai mitos secara turun-temurun bahwa warganya tidak boleh menunaikan ibadah haji karena alasan-alasan yang tidak masuk akal. Ia menghadapi mitos tersebut dengan terang-terangan mendukung Haji Abdullah, ayahnya, untuk menunaikan rukun Islam kelima itu. Ia ingin menunjukkan bahwa Islam dan Sunda tak pernah bertentangan. Walhasil, setelah ayahnya bisa kembali ke tanah air dengan selamat, patahlah mitos tersebut. Warga Calingcing pun mulai berani untuk menunaikan ibadah haji.

Dalam bergaul pun, Dadang Kahmadi mampu berbaur dengan semua lapisan sosial dan agama. Oleh karena itu, ia mampu menyelami beragam kondisi masyarakat yang mendorongnya menyadari pentingnya menempatkan posisi sesuai tempat dan situasi. Jika memang harus mengkritik, maka ia akan menyampaikannya dengan cara yang santun. Kata-kata atau tulisannya selalu fokus pada tujuan sebagai penebar nilai-nilai positif. Sebab baginya, perbedaan adalah satu hal yang niscaya.

Realitas yang dihadapi masyarakat akan selalu bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Maka kemudian gerakan dakwah Islam harus berpijak pada moderasi, toleransi, dan inklusivitas. Falsafah siger tengah harus digunakan untuk menghindari konflik dan menjembatani perbedaan. Selain itu juga perlu dijaga supaya tetap relevan dan tak hanya berhenti sebatas slogan semata. Dengan menggali dinamika kearifan masa lalu orang Sunda dari berbagai perspektif, ditambah dengan penafsiran Islam yang dinamis, diharapkan dapat melahirkan model manusia Sunda yang ideal, yakni manusia-manusia yang selalu menjaga keselarasan dalam hidupnya.

 

Editor: Ridwan Malik

Picture of Ibn Ghifarie

Ibn Ghifarie

Pegiat di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.