Kota Bandung Setelah Lebaran

Kondisi Jalan Braga setelah Lebaran. (Foto: Jejen Jaelani).

Sabtu pagi, cuaca tidak terlalu cerah, bahkan cenderung mendung. Walaupun demikian, rencana untuk bersepeda keliling kota tidak lantas surut. Dibanding menarik selimut dan mengikuti hasrat untuk larut dalam mimpi, keliling kota dengan sepeda besi jadi pilihan yang menarik.

Mengayuh sepeda sebanyak berkilo-kilometer jadi hal yang menyenangkan karena suasana pagi setelah lima hari Lebaran menyuguhkan lalu lintas kota yang tidak terlalu padat, bahkan di Sabtu pagi. Orang-orang masih menikmati suasana libur sambil menikmati udara dingin dengan bermalas-malasan di rumah atau hotel, sebelum di pekan depannya mereka harus mulai bekerja. Sebagian ada juga yang memilih pergi agak pagi atau subuh untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di daerah pegunungan seperti Lembang, Pangalengan, Ciwidey, atau ke kota-kota sekitar seperti Garut dan Sumedang.

Suasana Kota Bandung sendiri, Sabtu pagi, masih sangat sepi. Lalu lintas lumayan lancar. Beberapa pasar yang terlewati rute bersepeda sudah mulai bergeliat. Orang-orang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan dapur atau bahan dan perlengkapan untuk berjualan.

Sepanjang jalan, pertokoan masih belum bergeliat, entah karena memang masih pagi atau memang orang-orang masih mudik ke kampung halaman. Jalan Buah Batu yang pada pagi hari biasa selalu dipenuhi dengan kendaraan, tetapi pada pagi ini relatif lengang. Demikian juga di Jalan Karapitan dan Jalan Asia Afrika.

Keramaian kemudian mulai dapat dilihat di sekitaran Jalan Braga. Pada pagi yang matahari belum terlalu tinggi ini, ada beberapa titik di sekitaran jalan ini yang dipenuhi oleh antrean orang-orang. Antrean terlihat mengular pada beberapa pedagang kaki lima yang menyediakan sarapan. Tampak orang-orang antre untuk mendapatkan sarapan yang biasanya viral karena rekomendasi orang-orang di media sosial.

Braga memang selalu menjadi magnet bagi para wisatawan atau orang-orang yang sedang mudik pada musim Lebaran. Jalan ini dikenal sebagai kawasan ikonik dengan nuansa kolonial. Pada masa lalu, kawasan ini dikenal sebagai pusat hiburan dan juga perdagangan. Suasana jalan dengan bangunan khas kolonial, toko-toko dan pedagang karya seni, restoran, dan kafe-kafe yang tersedia di tempat ini selalu menawarkan suasana yang menarik bagi para wisatawan.

Selain kawasan Braga, beberapa kawasan bersejarah lain yang juga menarik perhatian dan menjadi tujuan bagi para wisatawan untuk menikmati liburannya adalah kawasan Dago, Jalan Riau, Pasar Cihapit, Pasar Gempol. Kawasan-kawasan ini selalu menjadi tujuan wisata bagi para pelancong pada hari biasa, dan akan meningkat jauh pada hari akhir pekan dan masa-masa liburan.

Jalan Braga setelah Lebaran. (Foto: Jejen Jaelani).

Tentu, daya tarik tempat-tempat peninggalan era kolonialisme dan hubungannya dengan pariwisata ini bukan sebuah kebetulan. Hubungan antara pariwisata dan wilayah peninggalan kolonialisme ini menarik untuk ditelisik lebih jauh. Fitra Ananta Sujawoto membahas hal ini dengan mendalam di dalam tesisnya di Magister Pariwisata Universitas Udayana tahun 2014. Di dalam tesis yang berjudul “Parijs van Java: Kajian Postkolonial Daya Tarik Wisata Hibrida Kota Bandung” tersebut ia menjelaskan bahwa negara-negara yang pernah mengalami kolonialisme berupaya mempertahankan citra kolonialnya untuk menarik kunjungan wisatawan. Misalnya, identitas mereka yang eksotis, bukti-bukti penjajahan yang pernah mereka alami, hingga citra primitif yang melekat pada masyarakat lokal mereka. Hal ini juga terjadi di dalam berbagai upaya mereka untuk menarik perhatian wisatawan. Sebagai contoh upaya untuk mempertahankan konstruksi kolonial ini dapat terlihat dari promosi pariwisata yang mereka lakukan di berbagai media, seperti paket-paket wisata, brosur-brosur, iklan-iklan televisi, dan berbagai media lainnya. Konstruksi kolonial yang dipertahankan pariwisata tersebut kemudian dipandang sebagai keinginan dari wisatawan, dan berkembang menjadi konstruksi wisatawan atas suatu destinasi.

Untuk kasus Kota Bandung, di dalam perkembangannya, menurut Sujawoto, kota ini tidak larut sepenuhnya di dalam citra peninggalan kolonial. Hal yang terjadi justru adalah munculnya kontestasi untuk mencari ruang-ruang antara. Sujawoto menyebutnya sebagai “daya tarik wisata hibrida”, yakni perwujudan resistensi yang dituangkan oleh masyarakat Kota Bandung terhadap citra kolonial. Di satu sisi era kolonial meletakkan fondasi bagi pariwisata Kota Bandung. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, di sisi lain, daya kreatif masyarakat Kota Bandung tumbuh dan berkembang menjadikan kota ini sebagai wadah kreativitas.

Di dalam wajah yang kini bisa kita perhatikan, terutama di wilayah-wilayah peninggalan kolonial yang kini menjadi sangat populer bagi para wisatawan, wajah hibrid ini hadir di dalam bentuk arsitektur-arsitektur peninggalan era kolonial dengan fungsi yang sama sekali baru sebagai restoran, kafe, toko kopi, galeri, toko seni, pusat kuliner, toko baju, toko cukur rambut modern, butik, clothing/distro, factory outlet, grafiti, minimarket, dan lain-lain. Perpaduan antara arsitektur masa lalu dengan berbagai aktivitas kreatif di masa kini, menjadikan lokasi-lokasi ini dapat dinikmati oleh wisatawan yang ingin mendapatkan sensasi kota era kolonial sekaligus kreativitas di masa kini. Wisatawan dapat merasakan suasana hibrid antara peninggalan masa lalu dan dinamisnya kehidupan warga kota di masa kini.

Di Braga, misalnya, para wisatawan dapat merasakan sensasi atau mengabadikan momen dengan latar bangunan-bangunan tempo dulu, sekaligus geliat kehidupan modern masa kini. Bahkan tidak hanya itu, hadirnya lukisan-lukisan Mooi Indie dari Jelekong atau wayang golek yang dijajakan di beberapa bagian di Jalan Braga menyejajarkan kehadiran era kolonial, tradisi, dan sekaligus kehidupan modern masa kini sekaligus.

Hal yang sama juga dapat dirasakan jika kita bergeser ke Pasar Cihapit. Orang-orang dapat menikmati suasana hibrid yang hadir di kawasan ini. Sebagai salah satu kamp interniran di masa lalu, Cihapit menawarkan peninggalan-peninggalan arsitektur masa lalu yang hingga kini masih bertahan. Selain itu, kawasan ini menawarkan wajah masa lalu era setelah kemerdekaan yang hingga kini masih bertahan. Sekaligus, orang-orang juga dapat merasakan bagaimana geliat kehidupan kreatif di masa kini melalui sajian berbagai macam kuliner, toko pernak-pernik, toko buku, kedai kopi, dan berbagai tempat nongkrong yang ada di kawasan ini. Hal ini memberikan suasana hibrid yang menjadikan Cihapit sebagai salah satu magnet wisata, terutama di dalam beberapa tahun terakhir.

Orang-orang antre di tempat makan, kedai kopi, toko pernak-pernik, gang di dalam pasar, dan tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi. Mereka menyengajakan diri untuk datang jauh-jau dari kota mereka berasal untuk menikmati suasana di kawasan wisata kota yang menawarkan suasana hibrid ini. Sebagian juga mungkin sekadar ingin menghabiskan rasa penasaran karena lokasi-lokasi tersebut viral di media sosial.

Penuhnya lokasi-lokasi kemudian menuntun saya untuk terus mengayuh sepeda dan mencari tempat sarapan di tempat yang lebih sepi, sebelum kemudian melaju pulang menuju arah tenggara kota ini. Biarlah para wisatawan menikmati masa-masa liburan mereka dengan nikmat dan syahdu di tempat-tempat tersebut. Sepeda terus melaju menyusuri pinggir jalan raya yang mulai ramai. Matahari semakin meninggi, dan saya terus menikmati perjalalan di akhir pekan ini.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Jejen Jaelani

Jejen Jaelani

Dosen di Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sumatera. Penikmat Suasana Kota.