Tampak sebuah buku berjudul Pulau Gelembung.
Di halaman berikutnya tertulis: “Untuk Don, dari Ayah–Ibu”.
Mungkin, buku itu adalah hadiah spesial dari orang tua untuk anak kesayangan mereka.
Dengan suara lembut dan penuh kasih, sang Ibu mulai membacakan cerita dengan gaya khasnya: “Pada suatu masa, hiduplah seorang kesatria kecil bersama orang tuanya. Mereka tinggal di sebuah pulau yang sangat besar….”
“Iya, pulaunya ada di atas awan, dilindungi oleh sebuah gelembung raksasa,” sambung suara Ayah, hangat dan antusias.
“Di pulau itu, banyak sekali makhluk gelembung yang lucu dan penuh warna,” tambahnya, membuat mata Don membelalak dipenuhi imajinasi.
“Setiap hari, si Kesatria Kecil bersukaria bermain bersama orang tuanya dan para gelembung,” lanjut sang Ibu, tersenyum.
“Iya, seru banget, kan!” timpal sang Ayah sambil tertawa kecil.
Namun tiba-tiba, suara sang Ibu berubah menjadi pelan dan penuh misteri.
“Tapi, suatu hari, terlihat awan-awan hitam di kejauhan….”
“Awan itu menyambarkan kilat-kilat,” sambung sang Ayah, nadanya ikut menegang.
Dengan nada lembut namun penuh ketegasan, sang Ibu berkata:
“Ibu dan Ayah harus pergi, Sayang. Kami harus menenangkan Sang Kilat di atas awan-awan….”
“Tapi jangan takut,” lanjut sang Ayah, sambil menggenggam tangan Don kecil.
“Kamu tidak sendirian. Ada teman-teman yang menjaga kamu.”
“Iya,” sambung Ibu, matanya lembut menatap Don.
“Sang Ibu bahkan meminta bantuan dari Ombak untuk terus melindungi Kesatria Kecil itu. ‘Ombak, temani anak kami, ya….'”
Sambil memegang tangan kiri Don, sang Ibu memanggil namanya dengan lembut.
“Don….”
Ayah tersenyum melihat wajah kecil yang sudah terlelap.
“Cepet banget tidurnya,” gumamnya sambil menutup buku dan memeluk Ibu dengan tangan kirinya.
Don tampak pulas di pangkuan kedua orang tuanya—di dunia nyata yang tak kalah hangat dari negeri gelembung.
“Sttt… pelan-pelan,” bisik suara Nenek sambil menyelimuti cucu kesayangan satu-satunya.
Setelah selimut dirapikan, Nenek, lalu Ayah dan Ibu, mencium kening dan pipi Don yang gempal.
“Udahan ceritanya?” gumam Don setengah sadar, matanya masih terpejam.
Ibu duduk kembali di tepi tempat tidur, mengelus rambut Don.
“Belum, Sayang,” bisiknya lembut.
“Ayah dan Ibu… pulang lagi, kan…?” lanjut Don, nyaris seperti berbicara dalam mimpi.
Ayah, Ibu, dan Nenek saling berpandangan. Ibu tersenyum, lalu melanjutkan cerita—tanpa membuka lagi buku Pulau Gelembung.
“Ayah dan Ibu kesatria itu percaya, Kesatria Kecil bisa melewati hari-hari di Pulau Gelembung… karena dia anak yang hebat.”
Ayah mengangguk, tersenyum kecil. Ibu membetulkan selimut Don dengan hati-hati, lalu berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia memeluk Ayah sambil berbisik, “Ibu sayang Don…”
Perlahan, Ayah dan Ibu memudar—lenyap dari pandangan.
Tinggal Don yang kini memeluk foto keluarga.
Ia berbisik pelan, penuh rindu, “Don… sayang Ibu.”
Lalu ia memeluk foto itu erat, dan terbaring di tempat tidurnya yang hening.
Tanpa ada lagi dongeng malam dari Ayah dan Ibu—kecuali yang hidup dalam hatinya.
Menyulam Luka Menjadi Warna
Meskipun baru pembuka, adegan itu langsung menohok perasaan saya sebagai seorang ayah. Hati saya remuk melihat adegan itu. Jumbo memang dikemas sebagai petualangan fantasi, namun bisa jadi, ia adalah dongeng tentang keluarga. Di balik animasinya yang penuh warna, tersimpan kisah kehilangan, harapan, dan keberanian seorang anak kecil yang harus terus melangkah, bahkan ketika dunia nyata begitu kejam—termasuk lewat perundungan yang diam-diam mencicil luka kecil dalam batin.
Masih dalam hangatnya suasana Lebaran—kebersamaan yang kini hanya hidup dalam ingatan—izinkan saya meminta maaf jika ingatan saya atas adegan-adegan itu tak sempurna. Namun saya bisa membayangkan, proses produksi Jumbo yang disutradarai dan ditulis oleh Ryan Adriandhy bersama penulis skenario Widya Arifianti bukanlah perjalanan yang singkat.
Kematangan, kedalaman, dan kepiawaian yang tercermin di setiap lapisan film ini menunjukkan betapa panjang dan sungguh-sungguh proses kreatif yang telah mereka tempuh bersama rumah produksi: Visinema Animation, Springboard dan Anami Films.
Senada dengan Jennaira—anak saya yang baru berusia sepuluh tahun—tanpa bermaksud sok tahu, apalagi menggurui, saya pribadi menilai bahwa dari sisi visual, Jumbo tampil begitu memikat. Setiap detail animasi diperhatikan dengan saksama. Mulai dari tekstur benda-benda, pilihan busana, helaian rambut, rona kulit, hingga elemen-elemen kecil yang kerap luput dari perhatian seperti radio tua, daun-daun yang gugur, pohon-pohon yang seolah bersuara, dan cahaya yang memantul dari genangan air di gang sempit. Semuanya terasa hidup. Sekilas mungkin mengingatkan pada film-film Pixar, namun Jumbo tetap berdiri sebagai dirinya sendiri—dengan kekayaan visual yang akrab bagi mata Indonesia. Kita seolah benar-benar diajak berjalan menyusuri gang-gang Kampung Seruni, berkat kerja keras ratusan animator lokal yang patut diacungi jempol. Top!
“Ayah, lihat itu! Keren banget, ih!” seru Jenna sambil menunjuk dan tertawa girang, ketika adegan Jumbo berlari-lari mengejar bola tenis yang dijadikan bola kasti. Pun ketika adegan Jumbo bersama Mae, Nurman dan ketiga kambing fashionable-nya menaiki sepeda dan hendak berangkat menyelamatkan Meri. Anak saya, Jenna, tampak riang sekali.
Palet warna pastel dan nuansa cerah yang dipilih berhasil menciptakan atmosfer hangat seperti dunia dalam dongeng pengantar tidur. Tapi dongeng ini tidak jauh dari kenyataan. Latar tempatnya begitu akrab: panjat pinang di hari kemerdekaan, tanah lapang tempat anak-anak berlarian, bermain kasti, dan tempat Jumbo membacakan dongeng, panggung hiburan warga, proyek jalan yang belum selesai, gerobak jajanan yang setia melintas, lorong-lorong padat penduduk, hingga pekuburan yang diam-diam menyimpan ketegangan. Dunia Jumbo adalah dunia kita, dengan sedikit sihir di dalamnya.
Keragaman etnis yang muncul dalam visual semakin memperkuat nuansa lokal yang otentik dan menyentuh. Karena bersandar pada latar yang begitu akrab dengan kehidupan masyarakat, Jumbo terasa seperti kisah bergambar yang benar-benar hidup di tengah kita. Anak-anak akan merasa dekat dengan lingkungan yang mereka kenal sehari-hari, sementara penonton dewasa akan diajak menelusuri lorong-lorong kenangan masa kecilnya.
Di sinilah Cerita Dimulai
Di sebuah sudut layar lebar, seorang anak kecil bernama Don memeluk erat sebuah buku dongeng. Bukan sembarang buku, tentu saja. Melainkan warisan terakhir dari orang tuanya yang kini hanya tinggal dalam ingatan, disuarakan oleh Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari dengan penuh kelembutan. Don, yang dihidupkan dengan penuh empati oleh Prince Poetiray dan Den Bagus Sasono, menjadi wujud dari anak-anak yang kehilangan namun enggan menyerah pada kekosongan. Ia kini tinggal bersama Oma—disuarakan penuh rasa oleh Ratna Riantiarno—sosok yang menggantikan pelukan seorang ibu dan ketegasan seorang ayah, dalam tubuh seorang nenek.
Cerita mulai bergerak saat satu-satunya benda yang masih mengikat Don dengan masa lalunya—sebuah buku dongeng yang lebih mirip pelukan dan ingatan daripada sekadar kertas—direnggut oleh Atta. Bocah yang disuarakan M. Adhiyat itu mungkin dianggap “nakal” oleh dunia luar. Padahal, ia cuma sedang berjuang di tengah luka yang tak sempat diberi nama. Dalam petualangannya bersama Nurman (Yusuf Ozkan) dan Mae (Graciella Abigail), Don belajar bahwa kehilangan tak selalu harus disimpan sendiri. Sebab, setiap anak menyimpan rahasia kecilnya sendiri, dan di balik tawa, ada luka yang diam-diam ingin dimengerti.
Di tengah perjalanan itu, mereka bertemu Meri (Quinn Salman)—seorang gadis dari dunia lain, dunia yang melayang entah di antara awan atau kenangan. Meri pun ternyata sedang mencari orang tuanya (Ariyo Wahab dan Cinta Laura Kiehl), yang direnggut oleh ambisi pembangunan yang tak mengenal belas kasih. Barangkali, pertemuan dua anak yang sama-sama kehilangan adalah bentuk pertemuan paling jujur. Mereka tak berbicara dengan bahasa orang dewasa, melainkan dengan bahasa keheningan.
Lewat pelukan yang tak dirancang, tawa yang tetap tumbuh meski hati luka, dan keberanian kecil untuk terus melangkah, meski dunia tak selalu ramah.
Anak-anak yang Membawa Luka
Di sinilah Jumbo—meski hanya film animasi—berhenti menjadi sekadar tontonan. Ia berubah menjadi cermin. Sebab di dalamnya, tersembunyi luka-luka kecil yang tumbuh bersama tubuh, namun tak ikut dewasa bersama usia. Perundungan, dendam yang diam-diam membungkus amarah, kehilangan yang membeku menjadi trauma, semuanya hadir. Bukan lewat teriakan, tapi dengan bisik lirih yang cukup nyaring untuk didengar oleh hati.
Atta, misalnya, bukan sekadar anak yang dicap nakal karena luka yang tak terlihat. Dalam masyarakat kita, anak-anak seperti dia kerap dilabeli “nakal”. Padahal, sering kali yang mereka alami adalah tumbuh dalam tekanan ekonomi, di rumah yang barangkali lebih sunyi daripada pekuburan. Hanya denting sendok dan piring yang menemani saat menyantap nasi dan telur dibumbui kecap, menjadi satu-satunya hiburan di tengah keheningan. Barangkali, yang paling ia rindukan adalah pelukan hangat dari orang tua yang tak sempat hadir. Apa yang ia lakukan terhadap Don bukan semata-mata kekerasan, melainkan bahasa yang ia pelajari dari dunia yang terlalu keras bagi anak seusianya. Dan bukankah, sering kali, kekerasan adalah bentuk paling sunyi dari permintaan tolong yang tak tahu bagaimana caranya disampaikan?
Saya kira, film Jumbo tak datang membawa petuah. Ia tidak berdiri di mimbar, menunjuk-nunjuk mana yang benar dan mana yang salah. Ia pun tak menyindir atau menghardik dengan kata-kata seperti “Ndasmu,” misalnya. Jumbo memilih duduk bersila di hadapan penontonnya, seperti seorang kakek yang hanya ingin bercerita sebelum tidur. Tentang bagaimana menerima—bukan hanya kehilangan, tapi juga diri sendiri—adalah perjalanan seumur hidup. Tentang proyek-proyek pembangunan yang hampir selalu datang bersama kata penggusuran, sebagaimana kehilangan yang kerap tiba membawa sepi. Tentang mengikhlaskan yang tak bisa kembali, dan menyadari bahwa tidak semua orang bisa utuh, karena hidup memang tak pernah menjanjikan keutuhan.
Yang paling penting, Jumbo membuktikan bahwa animasi bukanlah semata hiburan anak-anak. Ia bisa menjadi kendaraan bagi isu-isu yang berat, selama digenggam dengan kasih. Ia bisa menjadi dunia dongeng, tempat realitas yang retak dijahit kembali—dengan empati, dan cerita.
Nyanyian di Tengah Petualangan
Tak kalah menggugah dari visual dan cerita adalah momen-momen hangat yang muncul ketika musik dan lagu-lagu ramah anak mengiringi adegan penting. Salah satunya hadir saat lagu Kumpul Bocah—yang dulu begitu akrab di telinga generasi 90-an lewat suara merdu Vina Panduwinata—tiba-tiba mengalun. Nostalgia pun mekar perlahan, seperti kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Lagu itu bukan sekadar sisipan; ia menjahit masa lalu dan masa kini, mempertemukan anak-anak hari ini dengan semesta yang pernah kita tinggali.
Dengan durasi 1 jam 42 menit, Jumbo bukan sekadar karya animasi yang menghibur. Bisa jadi, ia adalah tonggak sejarah baru dalam dunia animasi Indonesia—penanda bahwa kita bisa, dan sudah mampu, mengisahkan luka, cinta, dan harapan lewat medium yang penuh warna namun tak pernah dangkal. Maka tak mengherankan jika film ini direncanakan tayang di 17 negara lainnya.
Namun sebelum melanglang jauh ke dunia luar, Jumbo akan lebih dulu singgah di hati penonton Indonesia. Ia akan menyapa anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang pernah menjadi bagian dari sebuah keluarga—di momen paling hangat dalam setahun: Lebaran 2025.
Mungkin, saat gelap reda dan cahaya kembali mengisi ruang, kita pulang bukan hanya membawa cerita, melainkan sepotong kehangatan yang sempat hilang: pelukan yang tertunda, luka yang akhirnya dipeluk dan diberi nama. Seperti lagu penutup film Jumbo yang dinyanyikan Bunga Citra Lestari, Selalu Ada di Nadimu. Tabik.
Editor: Ridwan Malik



