Sore yang sunyi nan riuh pada Ramadan ke-22. Memasuki ruang kegiatan pada pameran arsip dan dokumentasi pantomim Indonesia dan dunia. Tampak lembaran-lembaran arsip di atas meja yang biasanya menjadi tempat ngopi dan obrolan berlangsung. Terlihat juga koran, majalah lama, kliping, catatan yang dicetak bermacam ukuran dan bentuk, buku-buku pantomim (dan buku yang tidak pernah ada di perpustakaan), juga beberapa dokumentasi tulisan dan beragam arsip lainnya berjejer. Semua itu adalah tanda untuk memperingati Hari Pantomim Sedunia 2025 atau World Mime Day.
Tak terasa, di Bandung, Hari Pantomim Sedunia atau World Mime Day kini sudah berusia 14 tahun. Sebuah perjalanan yang tak sebentar. Tahun ini, peringatan tersebut dikelola oleh Pusat Studi Mime Indonesia bekerja sama dengan sejumlah individu dan lintas komunitas. Seperti Perpustakaan Bunga di Tembok, yang tahun ini bersedia untuk menjadi tempat kegiatan.
Sejak pukul 15.00 hingga 22.00, peringatan Hari Pantomim Sedunia diisi dengan beragam aktivitas. Seperti pameran, workshop mendongeng oleh Ratimaya, pertunjukan pantomim oleh Wanggi Hoed, dan juga pertunjukan pantomim oleh Sekar Mime (Depok) dan Dede Dablo (Bandung) dengan repertoar berjudul My Daily Routine.

Pada peringatan tahun ini, Pusat Studi Mime Indonesia mengambil tema Usik Pelik. Usik Pelik adalah gerakan hidup, gerak intuitif dengan penuh kesadaran dan ketidaksadarannya; gerak kehidupan yang selalu luput dan mengganggu dengan tingkat kerumitannya. Kita hidup di zaman yang pelik dengan seabrek peristiwa dan kejadian serta kejahatan yang bertumpuk.
Misalnya, situasi di Palestina yang dipentaskan oleh Sekar Mime, dan situasi lainnya dibahas pada diskusi Buku Foto Bully dari Raws Publishing sebagai upaya memutus mata rantai perundungan. Sebagaimana diucapkan Marcel Marceau: “Ada benang tak kasat mata yang menghubungkan seluruh umat manusia, dan melalui pantomim kita dapat merasakan hubungan ini.”
Asal-muasal pantomim di Bandung
Tanggal 22 Maret ditetapkan sebagai Hari Pantomim Sedunia atau World Mime Day. Setiap tahun, komunitas dan seniman, serta pecinta seni pantomim di seluruh dunia merayakannya dengan caranya masing-masing. Tanggal penetapan tersebut diambil dari hari kelahiran Maestro Mime Perancis, Marcel Marceau, yang lahir pada 22 Maret 1923.
Hari Pantomim Sedunia pertama kali diperingati pada 22 Maret 2011, sebagai wadah untuk merayakan seni mime dan komunikasi non-verbal. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Organisasi Mime Dunia atau World Mime Organization. Organisasi yang resmi terdaftar sebagai organisasi non-profit pada tahun 2004. Kemudian, banyak negara mulai ikut merayakannya yang mencakup empat benua di dunia, termasuk Asia.
Hari Pantomim Sedunia seyogianya merupakan penghormatan kepada Marcel Marceau, Maestro Mime asal Perancis yang telah mendedikasikan hidupnya selama 101 tahun untuk dunia pantomim. Para perintis Hari Pantomim adalah murid-murid dari Marcel Marceau. Seperti Marko Stojanović, seorang seniman pantomim asal Serbia yang kemudian menjadi Presiden Organisasi Pantomim Dunia. Lalu ada Ofer Blum, seorang seniman pantomim asal Israel yang menjadi Wakil Presiden Organisasi Pantomim Dunia. Terakhir ada Jean Bernard Laclotte, seorang seniman pantomim asal Prancis.
Tahun 2007, ketika Marcel Marceau meninggal dunia tanggal 22 September, Ofer Blum dan Marko Stojanović tertarik pada gagasan mendirikan organisasi untuk mengenang dan memperingati perjuangan gurunya itu. Waktu berlalu, dan pada bulan April 2011, Laclotte menghubungi Marko Stojanović dan menceritakan konsep Journée Mondiale du Mime (Hari Pantomim Sedunia). Ia mengusulkan untuk menetapkan hari peringatan pantomim pada tanggal kematian Marceau, yaitu 22 September, bukan 22 Maret. Berkat inisiatif Jean Bernard Laclotte itulah Journée Mondiale du Mime pertama kali dirayakan pada tanggal 22 September 2011. Meski begitu, ternyata sebagian besar negara merayakan hari tersebut pada tanggal 22 Maret, yang kini kemudian banyak diperingati.
Di Indonesia sendiri, dalam perjalanannya, tercatat bahwa hari Pantomim Sedunia diperingati di Bandung. Untuk waktunya, mengikuti penetapan hari pantomim tanggal 22 September. Namun karena beberapa kendala teknis dan anggaran, kegiatan tersebut baru terlaksana pada 1 Oktober 2011. Maklum, waktu itu yang menginisiasi perayaan ini statusnya masihlah mahasiswa yang serbaterbatas. Jadi, butuh waktu yang tak sebentar untuk mengumpulkan dan membagi dana untuk biaya publikasi dan pencarian data-data di warnet.
Pada peringatan pertamanya di Bandung, Hari Pantomim Sedunia 2011 diperingati dengan berjalan kaki dari Kampus STSI Bandung (sekarang ISBI) di Jalan Buah Batu 212 menuju Taman Cikapayang Dago.Enam orang melakukan pantomim, berjalan melambat dan berlawanan arah serta sesekali berjalan mundur. Saat sampai di lokasi, para peserta melakukan beberapa repertoar pertunjukan. Setelah itu, atas beberapa pertimbangan, di tahun selanjutnya Hari Pantomim Sedunia lalu diperingati setiap bulan Maret.
Pada tahun 2017, di Indonesia mulai banyak komunitas dan individu yang turut memperingati Hari Pantomim Sedunia dengan berbagai macam cara. Baik mengorganisir untuk membuat kegiatan pertunjukan, diskusi, workshop ataupun berkumpul menampilkan karya masing-masing di tempat-tempat strategis yang dapat diakses masyarakat umum dengan mengangkat isu dan tema yang berbeda setiap tahunnya; ruang ingatan kesadaran terhadap kehidupan dan kemanusiaan yang ada di sekitar kita, sebagai upaya perjuangan menjembatani ingatan.
Peringatan Hari Pantomim Sedunia bukan sekadar penghormatan, tapi hajat pengetahuan bagi seniman pantomim dan apresiatornya untuk mengingat sejarah hidup itu sendiri bahwa pantomim tidak mengenal batas bahasa dan budaya. Terus hidup dan militan!
Bandung, 24 Maret 2025
Editor: Ridwan Malik



