Sedari dulu, keluarga saya memang lebih suka pulang kampung pada dini hari Hari Raya Idul Fitri sebelum azan subuh berkumandang. Biasanya, kami berangkat pukul tiga pagi. Kami berangkat dalam keadaan sudah mandi junub untuk melaksanakan Salat Idul Fitri di lapangan Masjid Persis yang bisa kami temukan.
Estimasi perjalanan kira-kira dua jam termasuk waktu istirahat sekaligus melaksanakan salat subuh. Di perjalanan, saya biasanya yang akan menjadi operator untuk mengkonfirmasi arahan Bap (panggilan kami untuk Bapak) soal lagu apa yang ingin ia dengarkan pagi itu. Pada playlist Bap, lagu-lagu diputar dengan volume tidak terlalu keras–seperti ingin juga mendengarkan suara takbir dari masjid-masjid di jalanan. Dari Dewa 19, Iwan Fals, Gary Moore, Bryan Adams, Pink Floyd hingga Sukatani, kesukaannya baru-baru ini.




Sekitar pukul 7.30 pagi kami melaksanakan Salat Idul Fitri berjamaah. Cuaca pagi itu sangat cerah dengan angin yang menyejukkan di hari yang berbahagia itu. Foto ini diambil oleh Ibu yang kebetulan sedang tidak bisa mengikuti salat, “Gak salat tapi tetep harus ikut mendengarkan ceramah,” katanya.
Saya meminta Ibu untuk mengabadikan setiap momen saat kami sedang salat. Jujur saja, kegiatan potret-memotret di momen ini terasa sangat susah dan seperti berbuat dosa saja, karena ibadah yang seharusnya berjalan khusyuk. Saya malah kepikiran, “gimana kalau jari ibu nutupin lensa? duh!”.

Memasukki malam hari di rumah Eyang, kami bermain dengan sanak saudara yang sudah lama tidak bertemu. Dengan perut yang sudah membulat dan mulut yang kian letih mengunyah kik-kik manis yang Eyang selalu suapi, meskipun gelak tawa mengalahkan itu semua. Setelah itu kami bermain tebak-tebakan.
Permainan yang kami mainkan sebenarnya sangat sederhana, hanya sebatas menyebutkan nama-nama binatang yang berawalan dengan huruf yang terpilih oleh banyaknya jari-jari kami yang keluar. Kalau hanya lima jari, maka huruf E. “Hewan dari huruf E apa, ya? Elang! Emu! Entog!” Kemudian Si Pelawak akan jawab, Eyang!


Esok paginya, Selasa, (01/04/25) Bap mengajak kami pergi mencari sarapan ke Pasar Indihiang di Jalan Pasar Baru I. Hari pertama pascalebaran kehidupan transaksi di pasar sudah ramai. Kios dan lapak sudah kembali dibuka. Didukung oleh cuaca yang cerah walaupun sedikit berangin sehingga banyak dari kami memakai mantel yang mampu menghangatkan badan.


Tapi tidak dengan kucing kecil ini. Di antara peti kayu bekas buah dan sayuran, saya menemukan kucing kecil yang sudah mematung. Entah mengapa, saya ikut mematung juga karena pertama kali melihat kucing yang mati dengan kondisi seperti itu. Setidaknya, ia akan dikuburkan oleh pemilik, peti, kayu, bekas, buah dan sayuran. Rest easy, Méng!
Di hari berikutnya, Bani Guru Mansyur–sebutan bagi Keluarga Besar Eyang, menghadiri kegiatan halal bihalal rutinan yang membosankan bagi kami Si Gen-Z dan Gen-Alpha. Biasanya setelah bersalaman dengan puluhan orang, ditambah mendengar segudang pertanyaan paling basi, kami akan makan siang enak, lalu berkumpul lagi di ruangan yang pintunya sengaja dibuka lebar sehingga angin bisa masuk. Hal ini yang biasanya bikin orang tua marah karena takut anak-anaknya masuk angin.

Hari terakhir Bap meminta saya untuk mencari penginapan di sekitar daerah Kuningan. Ada salah satu kabin yang baru dibuka untuk publik bernama Jagara Eco Park, di Jalan Sekerta Timur, Jagara, Kecamatan Darma. Kabupaten Kuningan.
Pagi-pagi sekali, kami keluar untuk menghirup udara pagi yang segar. Setiap harinya, tempat ini dipenuhi oleh pengunjung yang tidak pernah habis. Namun, pagi ini kami bisa melihat kursi-kursi pengunjung yang belum diturunkan membentuk kumpulan kursi yang rapi.


Editor: Hafidz Azhar



