Lika-liku Perjalanan 17 Kilometer

Para pengendara motor sedang menunggu lampu merah sekitar Gasibu. (Foto: Adinda Namirah).

Hampir 3 tahun saya berinteraksi dengan perguruan tinggi di kawasan Bandung Utara ini. Sebuah universitas yang mulanya dikhususkan untuk bidang keguruan, namun kini semakin meluas rumpun keilmuannya. Banyak program studi baru berdiri, begitupun gedung yang dibangun. Lahan yang mulanya kosong sekarang didirikan berbagai bangunan. Syukurlah, keasrian kampus ini tetap terjaga dengan masih adanya ruang terbuka hijau.

Dari sekian banyak jurusan yang tersedia, saya memilih rumpun non-kependidikan dengan stereotipe lulusannya akan menjadi pegawai bank. Tidak ada alasan khusus ketika memilih jurusan ini, sama seperti kebanyakan orang yang bermasalah dengan hal hitungan, saya pun demikian. Namun sesekali dunia mengajak kita bercanda sejenak. Ketika masuk, saya masih dijejali mata kuliah berkaitan dengan angka, contohnya statistika.

Lika-liku perjalanan sejauh 17 kilometer menjadi rutinitas harianku sebagai mahasiswa. Cukup menyita waktu memang. Terlebih dengan kondisi Bandung yang semakin macet saja. Jika ada kelas pukul 07.00 pagi, paling telat, motor harus saya pacu sejak pukul 05.50 pagi. Beruntung, saya terlatih bangun pagi selama wajib belajar 12 tahun. Dan dengan doa kedua orang tua yang menyertai, saya arungi jalanan Bandung bersama dinginnya pagi.

Dimulai dari Ujungberung

Menjelang 3 tahun berjalan, muncul rasa penasaran untuk mengamati rute yang rutin kulalui secara serius. Perjalanan dimulai dari Alun-alun Ujungberung. Dari kejauhan suasana pasar memancarkan tanda kehidupan, terlihat dari penjual dan pembeli yang datang silih berganti. Belum lama motor berjalan, saya sudah berjumpa dengan lampu merah Jalan Rumah Sakit. Entah berapa lampu merah lagi yang harus saya lalui dalam simulasi perjalanan ini.

Kemacetan di Bandung Timur sudah bukan dongeng lagi. Sepanjang Sindanglaya hingga Cicaheum merupakan jalur yang selalu dipadati kendaraan. Sejak memasuki kawasan Sindanglaya, berbagai kendaraan berjalan merayap. Banyaknya persimpangan yang menjadi pintu keluar-masuk kendaraan, ditambah jarang terlihatnya aparat pengatur lalu lintas, menjadi salah satu persoalan selain angkutan umum yang sering berhenti sembarangan.

Selain beberapa poin di atas, banyak sumber berujar, jika pengembangan berbagai perumahan baru di kawasan Cimenyan, menjadi faktor utama meningkatnya jumlah penduduk di kawasan ini. Selain itu, ruas jalan yang sempit, keberadaan sekolah dan rumah sakit, serta ketiadaan transportasi publik yang memadai, menjadi sebuah kesatuan yang masih saja belum ditanggulangi serius. Alhasil, kemacetan menjadi hal yang tidak terelakkan.

Tiba di Cicaheum, kita akan bertemu dengan sebuah terminal legendaris di Bandung. Terminal yang konon dibangun sejak 1974 ini menjadi sarana pertemuan orang-orang dari berbagai daerah, sehingga wajar bila terjadi kepadatan di sekitar Terminal Cicaheum. Entah berapa ratus kali saya melewati terminal yang identik dengan batas Bandung Timur ini. Namun, yang saya rasakan, perubahannya semakin miris tak terawat.

Suasana di Terminal Cicaheum. (Foto: Adinda Namirah).

Setelah melalui Cicaheum, semakin banyak lampu merah saya jumpai, mulai dari Padasuka, Cikadut, Cikutra, hingga Pahlawan. Terdapat kepadatan di Pasar Cihaurgeulis. Lapak pasar tumpah, serta hilir mudik kendaraan dari arah Supratman, memaksa perjalanan sedikit tersendat. Lampu merah Gasibu menandai kedatanganku di Jembatan Pasupati, di jembatan ini saya sedikit menikmati pemandangan Bandung di kiri dan kanan jalan.

Memilih Jalur Pasteur

Tepat di tugu Pasupati, saya memilih jalur kiri lalu turun ke persimpangan Cihampelas dan Pasteur. Terdapat pemandangan menarik di lampu merah pertama setelah turun. Para musisi jalanan sudah menanti dengan penampilan khasnya. Selepas turun Pasupati, saya bertemu tiga lampu merah sebelum mencapai Jalan Pasir Kaliki. Ketiganya berada di sepanjang Pasteur, sebuah gerbang kota yang populer di kalangan wisatawan.

Ada hal menarik di balik penamaan Pasteur. Seorang ilmuwan Prancis, Louis Pasteur, menjadi tokoh utama di balik jalan ini. Namanya diabadikan menjadi jalan, berkat dedikasinya di bidang kesehatan. Selain itu, keberadaan Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur di masa lalu, yang kini telah berganti nama menjadi Bio Farma, menjadi salah satu bukti bahwa Louis Pasteur merupakan tokoh besar yang memberi dampak bagi kota ini.

Kontur jalan terasa menanjak sejak memasuki Sukajadi. Handle gas saya kendalikan lebih kencang. Tersisa satu lurusan saja menuju kawasan pendidikan di Bandung Utara ini. Menjelang Jalan Dr. Setiabudi, saya lebih dulu melewati pusat perbelanjaan yang cukup populer di kalangan masyarakat umum. Tak banyak lampu merah yang harus dilalui sejak memasuki Jalan Sukajadi, terhitung hanya satu, tepatnya di pertigaan Gegerkalong Hilir.

Menjelang ujung Jalan Dr. Setiabudi, motor dibelokkan ke Jalan Gegerkalong Girang. Tak jauh dari sana, terdapat Gedung Parkiran Baru setinggi tujuh lantai yang lebih mirip parkiran mal. Motor saya masukkan, menaiki gedung parkiran, dan mencari tempat kosong. Tentu saja saya tak ingin naik terlalu atas, terlebih setiap kelas pagi, situasi parkiran belum sepadat jam-jam setelahnya. Motor saya simpan di lantai 2 Gedung Parkiran Baru.

Pengendara motor di lampu merah Jalan Setiabudi, Kota Bandung. (Foto: Adinda Namirah).

Perjalanan belum selesai. Saya masih harus berjalan mendaki kampus menuju gedung perkuliahan. Kampus pencetak guru ini memiliki angkutan mahasiswa, namun jumlah yang terbatas membuat kami memilih jalan kaki saja. Perlu setidaknya 5 menit untuk tiba di gedung fakultas yang lebih dekat ke Terminal Ledeng dibandingkan Gegerkalong Girang. Setibanya, saya masih harus naik ke lantai 4 untuk mengikuti mata kuliah di pagi itu.

Sebelas lampu merah, kemacetan di beberapa titik, dan antrean memasuki Gedung Parkiran Baru merupakan hal yang tak bisa terhindarkan. Tidak jarang juga, saya bertemu dengan rombongan bus karyawisata dari para pelancong menuju kawasan Bandung Utara, sehingga membuat perjalanan yang dilalui menjadi lama. Cukup lelah memang, apalagi jika sekadar dimaknai dengan keluhan.

Di luar macet, bagi saya perjalanan menuju kampus di pagi hari dapat menjadi ajang melepas penat. Dengan rutinitas yang telah berlangsung beberapa tahun ini, saya menyadari banyak hal yang seringkali tidak dihiraukan. Mulai dari perjuangan anak-anak berangkat sekolah, para pekerja yang hendak menjemput rezeki, hingga musisi yang sejak pagi menjual kemampuan bermusik. Mereka semua berjuang untuk mencapai tujuan di hari yang sama.

 

Editor: Hafidz Azhar

 

 

Picture of Adinda Namirah

Adinda Namirah

Mahasiswi Bahasa dan Sastra Inggris, UPI.