Pasar Minggu Pertama Menggelar Diskusi Buku Biografi Mochtar Lubis

Diskusi Buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004) Karya David T. Hill pada gelaran Pasar Minggu, Minggu, 20 April 2025. (Foto: Adhani Nur Khairina).

Pada Minggu, 20 April 2025, Hanya Wacana dengan beberapa pelapak mengadakan gelaran Pasar Minggu. Para pelapak itu antara lain Lawang Buku, Koperasi Wangg, Jaringan Buku Alternatif dan Toko Kenangan Asyik. Kegiatan ini rencananya akan diadakan secara rutin. Selain menggelar lapakan, Pasar Minggu pertama diisi oleh diskusi buku Biografi Mochtar Lubis karya David T. Hill. Diskusi ini dipandu oleh Hafidz Azhar (Hanyawacana.id), dengan didampingi Hawe Setiawan (Hanyawacana.id) dan Iman Herdiana (Bandungbergerak.id) sebagai pembahas.

Buku berjudul Jurnalisme dan Politik Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-24) merupakan terjemahan yang diterbitkan pada tahun 2011 oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Menurut panitia, buku ini sengaja dihadirkan kembali agar masyarakat sekarang dapat mengenal sepak terjang Mochtar Lubis sebagai jurnalis dan sastrawan yang kritis. Hal ini seperti dijelaskan oleh Hafidz saat memandu jalannya diskusi. Menurutnya gaya Mochtar Lubis yang tegas dan lugas bisa diikuti oleh jurnalis saat ini. Hafidz juga menambahkan pembahasan mengenai Mochtar Lubis ini relevan dengan UU TNI yang baru disahkan bulan lalu karena ada keterkaitan dengan militer.

Lapak Jaringan Buku Alternatif pada acara Pasar Minggu. (Foto: Adhani Nur Khairina).

Mochtar Lubis sebagai Sastrawan

Menurut Hawe, Mochtar Lubis bukan hanya tokoh jurnalis, melainkan juga sastrawan yang sangat berpengaruh dalam hidupnya sejak masa sekolah menengah pertama. Melalui bukunya David T. Hill Hawe menemukan sosok Mochtar Lubis yang merefleksikan kebobrokan kehidupan sosial politik di era 1950-an. Salah satu karya yang sangat berkesan bagi Hawe adalah Senja di Jakarta, yang ditulis Mochtar saat ia berada dalam tahanan di masa Orde Lama.

“Dalam Senja di Jakarta, kita bisa melihat sorotan terhadap korupsi yang menjadi penyakit akut di Indonesia” ujar Hawe.

Hawe menambahkan beberapa buku Mochtar ditulis dalam keadaan tidak merdeka saat ia berada dalam masa tahanan. Di antaranya Catatan Subversif, yang dilengkapi dengan sketsa-sketsa yang ia gambar sendiri. Selain itu menurut Hawe Mochtar juga ikut mendirikan Asosiasi Pelukis Indonesia (API) pada tahun 1950-an yang menunjukkan keseriusannya dalam dunia seni.

Kontribusi Mochtar dalam dunia jurnalistik juga tidak luput dari perhatian. Ia dianugerahi Ramon Magsaysay Award sebagai pengakuan atas dedikasinya. Namun, dengan sikap kritisnya, Mochtar memilih untuk mengembalikan penghargaan tersebut. Tindakan ini merupakan protes atas pemberian penghargaan yang sama kepada Pramoedya 37 tahun kemudian. Apa yang dilakukan oleh Mochtar Lubis, menurut Hawe, tidak perlu dan terlalu kekanak-kanakan mengingat Mochtar adalah yang pertama menerima penghargaan itu.

Lahirnya Seorang The Maverick

Iman Herdiana memberikan pandangannya tentang jurnalisme Mochtar Lubis. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing Mochtar membawanya kepada berbagai isu internasional dan membentuk sikapnya yang anti-kompromi terhadap setiap rezim. “Ia dikenal sebagai ‘intelektual publik’ yang selalu bersentuhan langsung dengan masyarakat di daerah-daerah kecil,” kata Iman.

Relevansi Mochtar Lubis masih terasa hingga kini, terutama dengan banyaknya kasus korupsi yang merajalela. Sikap dan aksi Mochtar seharusnya menjadi pedoman bagi jurnalis masa kini. “Peristiwa Malari adalah contoh, ketika Indonesia dilanda kasus korupsi. Dulu mungkin di bawah meja, sekarang sama mejanya” ucap Iman, disambut tawa hadirin.

Hawe juga menjelaskan bahwa David T. Hill menggunakan istilah “Maverick” untuk menggambarkan Mochtar dalam bukunya. Dalam Bahasa Indonesia, istilah ini bisa diartikan sebagai “pendobrak” atau “pembangkang”—seseorang yang tidak mengikuti arus dan algoritma umum. Menurut Hawe ketegasan Mochtar sangat dipengaruhi oleh faktor kultural.

“David ingin menggambarkan peran dan fungsi pers, terutama di zaman Orde Baru dan sebelumnya. Dia banyak menelaah isu-isu dalam Indonesia Raya melalui sosok Mochtar. David juga mengikuti kegiatan Mochtar dan berkorespondensi dengannya,” jelas Hawe.

Dalam analisis Hill, Mochtar terobsesi dengan revolusi. Ia mendukung tentara militer karena percaya bahwa mereka memiliki kontribusi besar. Menariknya, Mochtar pernah ingin bergabung dengan militer, tetapi seniornya menyarankan agar ia lebih cocok bersenjatakan pulpen daripada senjata api.

Nasionalisme Mochtar tidak membuatnya menutup diri dari wartawan asing. Ia adalah wartawan nasionalis dengan wawasan global yang luas. Menurut Hill, Mochtar adalah salah satu jurnalis yang gemar pergi ke luar negeri untuk mengikuti forum internasional, menjadikannya sosok yang unik di dunia jurnalisme saat itu.

Para audiens sedang menyimak Diskusi Buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004) Karya David T. Hill. (Foto: Adhani Nur Khairina).

Tantangan Jurnalisme Era Sekarang

Berkaca pada era Mocthar Lubis, bagi Iman, tantangan yang dihadapi jurnalis saat ini adalah persaingan sumber daya dengan media sosial. “Dulu, partisipasi lebih banyak datang dari partai politik atau institusi negara. Sekarang, perhatian lebih terfokus pada bagaimana cara menjaga modal agar jurnalistik tetap berjalan, terutama dengan bergantung pada Google dan media sosial. Akibatnya, lahirlah berita yang cenderung seragam,” jelas Iman.

Keseragaman berita ini menyebabkan isu-isu penting seringkali tenggelam di balik banyaknya berita yang tidak relevan dan minim signifikansi. “Dalam situasi seperti ini, kita perlu belajar dari sikap Mochtar Lubis, terutama independensinya dan ketegasannya agar jurnalistik tetap berjalan dengan baik” ujar Iman.

Hawe menanggapi, di era sekarang media lebih didominasi oleh algoritma sekaligus menandakan kemiripan pada masa penjajahan. “Sekarang, algoritma mendominasi. Di media, kita harus menggunakan kata kunci yang menarik pembaca. Ini mirip dengan penjajahan. Oleh karena itu, kita perlu mencari pendekatan negosiasi yang tepat,” ucap Hawe.

Iman kemudian menanggapi konteks jurnalistik di tengah teknologi. Ia berpendapat ketika jurnalistik harus bersaing dengan teknologi, kepercayaan publik cenderung menurun. “Ketika Mochtar Lubis bekerja di Antara, gajinya kecil, dan sekarang pun sama. Dari sini, saya rasa jurnalis perlu mendapatkan dukungan publik agar jurnalistik tetap berada di jalur yang benar seperti yang dijalankan oleh Mochtar Lubis,” ujarnya.

Pada konteks yang lain probelam jurnalistik saat ini di antaranya bisa ditanggapi secara langsung oleh pembaca. Hal ini menurut Hawe tidak bisa disamakan dengan era Mochtar Lubis.

“Pendekatan jurnalistik Mochtar Lubis sangat berbeda dengan yang ada sekarang. Kini, teman-teman menulis berita sementara pembaca bisa memberikan komentar secara langsung.”

Hawe juga menyoroti bahwa jurnalistik saat ini sering kali berupa reduplikasi ketika berita hanya berganti judul tanpa adanya pendalaman ke lapangan. “Yang berubah hanya judulnya, tanpa perspektif lain” jelas Hawe.

Diskusi yang berlangsung sore itu diramaikan juga oleh beberapa pertanyaan dari audiens. Diskusi pun berakhir menjelang petang dan ditutup dengan  foto bersama.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Adhani N. Khairina

Adhani N. Khairina

Mahasiswi Sastra Inggris, Unpas. Sekarang sedang menjadi reporter di hanyawacana.id.