Rawa Macet

Kemacetan yang terjadi di kawasan Rancamanyar, Kabupaten Bandung. (Foto: Vissiana Rizky Sutarmin).

“Tahu nggak, manyar itu apa?” tanya saya kepada istri, saat memboncengnya melintasi jembatan di atas Sungai Citarum sepulang kerja.

“Nggak tau,” jawabnya pendek, khas gaya istri yang tidak terlalu tertarik membahas hal-hal yang kadang muncul di kepala saya saat membawa motor.

“Manyar itu nama burung,” jelas saya, tetap antusias. “Jadi, Rancamanyar itu artinya Rawa Manyar. Mungkin dulu di sekitar sini ada rawa yang dihuni banyak burung manyar.”

Saya bisa membayangkan puluhan, mungkin ratusan burung manyar beterbangan di atas rawa, hinggap di atas ranting, lalu membangun rumahnya di pepohonan sekitar rawa.

Entah kenapa, nama manyar terdengar romantis di telinga saya. Desa di Bandung Selatan yang sekarang jadi langganan macet dan banjir ini juga jadi terkesan lebih romantis.

Mungkin karena teringat novel Burung-Burung Manyar karya Romo Mangunwijaya puluhan tahun lalu, kisah yang meski sedikit tragis, tapi tetap romantis. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, rasanya terlalu dewasa untuk kubaca saat itu, sekitar SD atau SMP.

Tebakan saya soal rawa bisa jadi benar, bisa juga salah. Tapi yang jelas, masyarakat kita dulu punya kearifan luar biasa dalam menamai tempat. Nama-nama daerah tak lahir dari sembarang tebak-tebakan. Ada logika ekologi, ada pengetahuan lokal, ada catatan pengamatan, ada pengalaman turun-temurun yang tersimpan rapi dalam satu atau dua kata.

Orang-orang pintar sekarang menyebutnya toponimi: ilmu tentang penamaan tempat berdasarkan topologinya, atau ciri-ciri dan karakteristik ruangnya.

Lihat saja di sekeliling Rancamanyar. Ada Rancakasiat, Rancamulya, Rancatungku, Rancaengang—dan rasanya masih banyak “ranca-ranca” lainnya.

Ranca dalam bahasa Sunda berarti rawa. Artinya, kawasan ini dulunya adalah hamparan rawa luas yang mungkin menjadi wilayah resapan air alami. Tapi kini, rawa-rawa itu sudah berubah menjadi perkampungan padat, komplek perumahan, dan deretan ruko.

Kawasan ini juga jadi perlintasan penduduk komuter yang bolak-balik dari Kabupaten Bandung—khususnya kawasan Bandung Selatan—ke Kota Bandung, atau sebaliknya. Kemacetan menjadi bagian dari keseharian desa ini dan daerah di sekitarnya.

Tapi, karena posisinya yang strategis ini juga, mereka yang tidak mampu membeli rumah di kawasan Bandung Utara atau Kota Bandung akan memilih tinggal di Bandung Selatan. Desa Rancamanyar dan sekitarnya, menjadi titik temu dari dua sisi Bandung ini.

Kalau sekarang Rancamanyar dan sekitarnya jadi langganan macet, ya nggak usah heran juga. Kalau tiap hujan deras banyak titik tidak bisa dilalui karena luapan air, ya gimana lagi?

Kita tinggal dan membangun perkampungan di atas rawa yang diapit dua sungai besar, Citarum dan Cisangkuy, dengan posisi yang lebih rendah dari daerah-daerah sekitarnya, seperti Banjaran dan Ciwidey di selatan, atau Kota Bandung di utara.

Ketika hujan turun, air secara “naluriah” mengalir ke sini, mencari jalan menuju Citarum dan Cisangkuy. Wajar saja kalau kawasan ini menjadi rawa, sebelum manusia datang dan menjadikannya perkampungan.

Masalahnya, kalau sebagai manusia kita tidak memberi memberi mereka jalan khusus, drainase yang cukup, air akan menggunakan jalanan dan perkampungan kita sebagai perlintasan, dengan kata lain, banjir.

Istri saya bilang, dulu waktu dia masih SD, hampir tiga puluh tahun yang lalu, sepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan sawah yang tak terlihat ujungnya, dan rawa-rawa di sekitarnya. Sekarang, pemandangan itu berganti hamparan perumahan yang berderet saling berhimpitan.

Sebetulnya sayang juga, kita kehilangan kawasan resapan. Tapi, manusia memang makin banyak, butuh rumah, butuh pekerjaan, dan Bandung makin padat ke segala arah. Masalahnya, kita terlalu cepat membangun, terlalu cepat menimbun, dan terlalu cepat melupakan.

Toponimi adalah jejak yang sebetulnya bisa jadi pengingat. Ia bukan sekadar nama administratif, tapi warisan pengetahuan ekologis. Nama-nama seperti Rancamanyar bukan hanya indah, tapi juga mengandung peringatan: hati-hati, ini dataran rendah, tanahnya juga gak stabil.

Praktisnya begini: bagi para pengembang, kalau membangun di daerah Rancamanyar dan sekitarnya, paling gak, ya sediakanlah ruang terbuka hijau yang cukup, bikin drainase yang masuk akal. Ini daerah resapan air lho, air pasti mengalir ke sini.

Atau, buat aparat pemerintah yang berwenang dalam masalah perizinan, masa iya sih, gak ada aturan buat pembangunan perumahan atau pemukiman yang berwawasan ekologis dan bisa mengantisipasi bencana?

Toponimi Rancamanyar dan sekitarnya sudah cukup jadi penanda potensi bencana di daerah ini. Kalau kearifan ini tidak dijaga, kita akan terjebak dalam ironi, tinggal di tempat bernama “rawa”, semua lahan terbuka dibeton dan diaspal, lalu heran kenapa rumah kita kebanjiran.

Tapi, selain gampang lupa dan kurang waspada, kita juga cenderung gampang nrimo dan sukur. Mungkin memang itu cara kita bertahan hidup sebagai manusia rawa. Mungkin karena itu pula, manyar tak tinggal di sini lagi.

Selepas jembatan, lalu lintas sedikit terurai. Kami menyusuri aliran sungai Citarum yang dihiasi pepohonan rindang, kebun, dan taman kecil di sepanjang jalan. Cukup romantis buat kami warga pinggiran kota, sebelum akhirnya memasuki kawasan padat penduduk lagi.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Iman Haris

Iman Haris

Petani yang putus harapan