Belajar seperti “Pepenging”

Obrolan santai di sela-sela kegiatan Larap Jurnalistik. (Foto: Redaksi).

Pagi itu saya memulai perjalanan menuju Cicalengka dengan menggunakan kereta api. Sebagai warga Bandung, ini pertama kalinya, selama puluhan tahun, saya bepergian menggunakan kereta api lokal Bandung Raya.

Saya berangkat dengan empat orang lainnya, baik sebagai pemateri maupun peserta kegiatan pelatihan Larap Jurnalistik. Ada Kang Hawe Setiawan, sastrawan, praktisi jurnalistik dan juga budayawan. Baru pertama kali saya melihat banyak kesempatan Kang Hawe menggambar objek sekeliling kami berada. Misalnya, ia menggambar suasana stasiun ketika kami berada di ruang tunggu. Atau, menggambar sepeda motor klasik yang terparkir dekat lokasi kami mengobrol di sela-sela kegiatan.
Rekan perjalanan saya yang lain adalah Hafidz Azhar. Ia adalah penulis dan editor Hanya Wacana, sekaligus penyelenggara dan pemateri pada kegiatan ini. Lalu ada Dicky Purnama Fajar, seorang fotografer dan videografer berpengalaman. Sejumlah pertandingan Persib pada beberapa musim sejak awal 2000-an, adalah objek yang dijelajahi oleh lensa kameranya. Teman perjalanan lain yang kemudian duduk satu bangku dengan saya di kereta adalah seorang mahasiswa Jurusan Filsafat tingkat akhir di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di percakapan selanjutnya, saya dapati bahwa pembimbing skripsinya ternyata adalah orang yang saya kenal.

Menjelang siang, sampailah kami di Stasiun Cicalengka. Matahari mulai terasa terik di luar sana. Stasiun Cicalengka ternyata cukup mewah. Bangunan stasiun kereta sudah dibuat standar mulai dari interior sampai struktur bangunan. Pada percakapan kemudian, saya mendapat cerita bahwa bangunan lama Stasiun Cicalengka adalah bangunan bersejarah. Bangunan lama terpaksa harus dibongkar tanpa sisa, untuk memenuhi standar “kecantikan” stasiun saat ini. Bangunan bersejarah dan romantisme masyarakat tentang masa lalu, sepertinya dianggap sudah tidak terlalu penting lagi.

Dari Stasiun Menuju Lokasi

Jarak menuju lokasi acara kira-kira sekitar setengah jam perjalanan dari pusat ekonomi Cicalengka. Lokasi itu merupakan sebuah desa di dataran tinggi, dengan jalan selebar satu kendaraan roda empat. Kami menyewa satu mobil angkutan kota. Sepertinya, sang supir tidak mengetahui persis jalur itu, dan dengan santai berkata, “Hayu, lah! Yang penting kita sampai dengan selamat di sana.”

Ketika kami harus melewati jalan berbatu dan menanjak, nada bicara sang supir mulai terdengar tidak santai. Ternyata sekitar 3 kilometer sebelum sampai ke lokasi, kami harus melewati jalanan terjal berbatu berlumuran tanah merah. Peserta acara lain yang mengendarai sepeda motor, juga harus berjuang keras melewati jalan dengan kemiringan hampir 45 derajat dengan permukaan jalan licin berbatu.

Sesampainya di lokasi, semua perjuangan di perjalanan bermedan sulit, terbayar sudah. Sebuah rumah peristirahatan dengan kebun, kolam, dan kawasan hijau terbuka menyatu dengan kami. Di sinilah kegiatan Larap Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Hanya Wacana digelar. Sebuah workshop intim yang diisi oleh pemateri level suhu di bidangnya masing-masing. Tidak hanya pelatihan, tapi acara ini juga semacam media diskusi dan berbagi pengalaman baik dari pemateri maupun peserta—diselingi obrolan ngalor-ngidul yang tetap bergizi.

Kang Hawe Setiawan, membagi teknik membuat esai dan feature yang inspiratif, dengan mengambil contoh dari beberapa karya sejenis. Beliau memberi ide bahwa karya feature, bisa mengeksplorasi data yang dekat dengan kehidupan kita, dan tentunya menarik untuk dibaca. Misalnya, tentang sejarah dari masa ke masa wilayah tempat tinggal kita. Pasti banyak peristiwa, atau tokoh yang menarik untuk disajikan kepada pembaca yang memiliki kedekatan dengan kawasan tinggal kita. Kang Hawe adalah salah satu pemateri yang menampilkan presentasi dengan teknik, ide, dan wawasan yang benar-benar mumpuni.

Namun sebelumnya, presentasi Kang Hawe Setiawan dibuka oleh pemaparan Hafidz Azhar yang saat ini menjadi Pemimpin Redaksi Hanya Wacana dengan topik serupa. Pengalamannya sebagai penulis dan editor, mengingatkan saya kembali tentang pelajaran kaidah naskah layak terbit di media massa. Pemateri lain tak kalah mengasyikannya. Sebut saja Fitra Sujawoto dan Dicky Purnama Fajar. Mereka menyajikan hal dan ide baru buat saya, yakni karya esai foto. Ini tentang bagaimana satu dan rangkaian foto bisa disusun untuk bercerita tanpa teks, hanya gambar yang berbicara. Menantang dan mengasyikan sekali, karena hal ini bahkan bisa dilakukan dengan hanya kamera dari smartphone.

Lalu ada Kang Tata, seorang pegiat literasi dan multimedia yang juga tak kalah mengasyikkan. Ia berbicara dan memaparkan bagaimana mengolah isu menjadi karya tulis yang enak dibaca. Sebagai penyedap suasana diskusi, hadir juga Kang Atep Kurnia, seorang penulis dan pengamat sejarah. Kang Atep menyajikan sejumlah wawasan tentang karya tulis, dan dengan begitu saya semakin yakin bahwa Kang Atep memiliki referensi luas tentang media dan karya literasi.

Terakhir, ada Akmal, seorang jurnalis yang hidup dan berkembang pada periode jurnalisme media online. Ia banyak memberi wawasan kepada saya yang hidup di era kejayaan koran dan majalah cetak tentang media online. Ini hal baru, dan saya senang bisa belajar dari anak muda sepertinya.

Di sela kegiatan, kami kerap mengaso di saung yang bersebelahan dengan ruangan acara. Banyak hal didiskusikan di sana, mulai dari isu terkini sampai pengalaman masing-masing yang ternyata asyik untuk disimak. Mengingat sebagian besar adalah orang yang baru saya kenal lebih dalam, jadi saya menikmati semua obrolan di sana. Tentunya, banyak sekali materi menarik yang masing-masing bisa dibuat sebagai tulisan tersendiri.

Obrolan kami diiringi suara keras serangga yang biasanya kita dengar jika berada di alam terbuka. Orang Sunda menyebutnya tonggeret. Tapi Kang Atep bilang, itu adalah suara pepenging, sejenis dengan tonggeret, hanya saja karakter suaranya berbeda. Karena penasaran, kemudian saya cari: apakah benar ada beberapa jenis tonggeret?
Simpulan ringkasnya adalah, serangga yang bersuara nyaring itu dinamakan cicada (Bahasa Latin). Tonggeret dan pepenging adalah genus dari cicada. Jenis cicada yang biasa ditemui adalah cicada hijau, cicada hitam dengan mata merah, dan cicada dengan sayap transparan. Semuanya berbunyi nyaring.

Mungkin, suara nyaring yang kami dengar adalah simbol dari nyaringnya bunyi sebuah karya. Sumber suaranya bisa jadi tidak terlihat, dan bentuknya sangat kecil jika dibandingkan dengan suara yang dihasilkan. Maka, teruslah membuat karya yang bisa berbunyi nyaring seperti suara pepenging. Hanya satu ekor pepenging, tapi suranya merambat ke segala penjuru arah angin.

 

Editor: Ridwan Malik

Picture of Fanfan F Darmawan

Fanfan F Darmawan

Sehari-hari sebagai editor marketing.