Rabu, 16 April 2024. Siang itu, udara Bandung terasa panas dan terik saat langkah-langkah kecil mulai berdatangan ke sebuah tempat sederhana di Jalan Garut No.2. Toko Buku Bandung kembali menjadi rumah bagi para pencinta buku dan diskusi. Di ruangan kecil yang dipenuhi rak-rak buku berisi karya sastra dan pemikiran kritis, suasana hangat tumbuh pelan-pelan, seiring waktu mendekati pukul dua siang.
Sekitar pukul 13.30, saya datang lebih awal untuk berbincang santai dengan Deni Rachman (46), pemilik Toko Buku Bandung yang ramah dan bersahaja. Dalam percakapan itu, Deni berbagi cerita tentang sejarah berdirinya Toko Buku Bandung ihwal semangat yang ia bawa sejak awal serta kolaborasi yang kini terjalin dengan komunitas buku bernama Klub Buku Laswi. Kebetulan, siang itu Klub Buku Laswi menggelar diskusi buku Human Acts karya Han Kang.
Klub Buku Laswi dibentuk sekitar bulan Februari 2023. Komunitas ini berawal dari ide kolaboratif antara Toko Buku Bandung dan Forum Blibli yang dikelola oleh Taufik Barli (33). Menurut Deni, gagasan klub ini muncul seiring proses membuka toko baru dan menata ulang rak buku lawas. Dari situ, muncul harapan agar buku-buku tersebut tak hanya dijual, tetapi juga dibaca dan dibedah bersama lewat diskusi rutin. Akhirnya, lahirlah Klub Buku Laswi yang diadakan setiap hari Rabu pukul 14.00 hingga 15.30.
Nama Laswi sendiri diambil dari lokasi toko, Jalan Laswi, sekaligus sebagai penghormatan pada Laskar Wanita Indonesia, kelompok pejuang perempuan pada masa revolusi. Hingga kini, meski Deni mengaku tidak hafal jumlah pastinya, sudah cukup banyak diskusi buku yang digulirkan. Di antaranya karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Ajip Rosidi, sampai karya peraih Nobel Sastra 2024, Han Kang.
Merayakan Seabad Pramoedya Ananta Toer
Selain membahas buku, Klub Buku Laswi juga aktif mengadakan kegiatan sosial dan budaya. Salah satu acara yang cukup berkesan adalah perayaan satu abad kelahiran Pramoedya Ananta Toer pada Februari 2025 kemarin.
Dalam acara tersebut, pengunjung diajak mengikuti sesi silent reading, membawa buku favorit karya Pramoedya untuk dibaca bersama selama satu jam, lalu berdiskusi secara santai. Ruangan dipenuhi para pembaca yang ingin mengenang sastrawan terkemuka itu.
Acara ini pun dimeriahkan oleh konser kecil Abah Om Tris yang menyanyikan lagu dari karya Pramoedya. Ini membuktikan bahwa Klub Buku Laswi bukan sekadar ruang diskusi, tapi juga ruang hidup bagi semangat literasi dan kebudayaan.
Membedah “Human Acts”
Tepat pukul 14.00, kegiatan diskusi dimulai. Kali ini, Barli bertindak sebagai pemantik diskusi untuk membedah novel Human Acts karya Han Kang. Karya Han Kang lainnya yang cukup dikenal adalah The Vegetarian, novel pertama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Namun perhatian sore itu tertuju pada Human Acts, novel yang menggambarkan tragedi Gwangju 1980 dengan pendekatan yang dalam dan personal. “Han Kang sering mengeksplorasi rasa sakit, bukan hanya mental, tapi juga tubuh,” jelas Barli saat menjadi pemantik diskusi.
Barli mengutip wawancara Han Kang yang menyatakan bahwa penyakit yang ia alami sejak kecil justru menjadi alasan mengapa ia menulis. Rasa sakit menjadi titik awal. Dalam Human Acts, rasa sakit itu tidak lagi bersifat personal, melainkan kolektif.
Novel ini terdiri dari 6 bab dan 1 epilog, masing-masing dituturkan dari perspektif tokoh yang berbeda: seorang remaja bernama Dongho, arwah Jangdae, temannya Dongho, seorang editor, tahanan, buruh, hingga Ibu Dongho. Mereka bukan tokoh besar atau tokoh kunci sejarah, melainkan orang-orang biasa yang terdampak langsung oleh kekerasan militer dalam peristiwa Gwangju.
Dongho, tokoh remaja berusia 15 tahun, terlibat dalam demonstrasi karena mencari mayat sahabat sekamarnya, Jangdae. Namun keterlibatannya kian dalam dan ia akhirnya terbunuh oleh tentara. Han Kang tidak menjelaskan detail kekerasan secara eksplisit. Melalui ketidaktahuan para tokohnya, absurditas kekerasan terasa nyata dan menyesakkan.
Bagian yang paling menyentuh, menurut Barli, terletak pada bab terakhir yang dituturkan dari sudut pandang Ibu Dongho. “Setting-nya tahun 2012, 30 tahun setelah tragedi itu. Ditulis seperti monolog, seakan kita sedang duduk bersama ibu yang tak pernah benar-benar merelakan kepergian anaknya,” ungkapnya. Suasana diskusi sempat hening, larut dalam duka yang dituturkan dengan begitu lirih.
Epilog buku ini menggambarkan proses riset Han Kang dalam menulis novel, termasuk perasaannya saat menyelami data-data sejarah yang memilukan. Nada keseluruhan buku terasa melankolis, memaksa pembaca untuk merenung tentang kekerasan, memori, dan rasa kehilangan.
Setelah pemaparan Barli, sesi diskusi pun dibuka. Para peserta tampak antusias. Mereka menyampaikan pendapat dan pertanyaan yang memperkaya diskusi. Obrolan perlahan berkembang, menyinggung tema politik yang memang lekat dalam isi novel. Suasana berubah menjadi lebih serius dan dalam ketika salah satu peserta membagikan kisah pribadinya mengenai tragedi 1998 di Indonesia.
Perbincangan kemudian menjalar ke isu-isu politik kontemporer di Indonesia, memperlihatkan bagaimana sejarah dan kekerasan semakin masif. Di sela-sela diskusi, salah satu peserta juga membagikan makanan ringan kepada semua yang hadir. Gestur kecil yang sederhana itu mempererat suasana dan menjadi selingan hangat di tengah pembahasan yang berat.
Obrolan buku itu berakhir sekitar pukul 4 sore, namun percakapan yang terjadi seolah belum usai. Sebagai pemantik, Barli menutup diskusi dengan ikhtiar merawat ingatan sejarah sebagai bentuk perlawanan.
“Memori Sejarah harus kita rawat. Perlawanan tidak cukup dilakukan sekali. Kita harus menularkan semangat perlawanan, semangat sejarah, dan semangat untuk mengingat. Karena tanpa sejarah, kita akan kehilangan arah” pungkas Barli.
Kegiatan hari itu ditutup dengan foto bersama di depan Toko Buku Bandung. Lalu saya kembali ke dalam toko dan menjelajahi rak demi rak yang padat namun akrab. Dua judul buku mencuri perhatian, saya lalu memutuskan untuk membelinya.
Usai berpamitan, saya berjalan keluar, membeli es krim di kedai seberang toko buku, dan pulang ketika langit Bandung mulai berwarna keabu-abuan. Sore itu saya tak hanya mendapat bacaan baru, tetapi juga percakapan, ingatan, dan kelegaan bahwa ruang diskusi masih mungkin tumbuh dari sudut-sudut kota seperti di Toko Buku Bandung.
Editor: Hafidz Azhar



