Musik untuk Permenungan

Simbol nada dan wajah filsuf Schopenhauer menjadi dua.

Sekitar pukul enam pagi, udara dingin masih menyelimuti tubuh. Di depan Indomaret Fresh Cipasir 2, sudah terlihat beberapa mobil parkir; salah satunya sebuah mobil merah. Suara tukang parkir belum terdengar, menandakan suasana yang masih tenang meski aktivitas mulai menggeliat. Di depan Indomaret, saya dan guru saya duduk di kursi besi yang dingin, dengan meja besi yang ikut memberikan sensasi dingin saat disentuh. Meski tempat ini belum ramai, suasana pagi sudah perlahan bangkit—pekerja berganti shift, tukang gorengan membuka lapaknya, dan sepeda-sepeda mulai berlalu lalang menuju pabrik.

Ketika mengambil kopi Golda dan roti di dalam Indomaret yang dinginnya dipertajam oleh embusan AC, udara luar yang juga dingin terasa semakin menyatu dengan ketenangan pagi itu. Sementara saya memasang IEM Kz Castor dengan eartips Tangzu Sancai di telinga, perangkat yang terdiri dari HP Oppo A15 dengan output audio berkualitas FLAC 44.1 kHz dan DAC Celest CD-2 mulai memainkan playlist pribadi saya lewat aplikasi Poweramp. Pilihan lagu pagi itu jatuh pada Thank You dari Dido—bukan karena itu lagu favorit, tapi karena mood yang menuntut sesuatu yang lembut dan pelan, mengalir tanpa terburu-buru.

Suara Dido mengisi ruang batin yang biasanya penuh kebisingan rutinitas. Vokal midrange-nya hangat dan intim, dengan treble yang cukup terang namun tidak menyakitkan di volume 60. Bass yang rapi dan tidak dominan membuat soundstage terasa luas secara horizontal, dengan vokal di tengah dan instrumen tersebar halus di sekitarnya. Ketukan elektronik di bagian intro memberi ritme yang tenang dan konsisten, menumbuhkan suasana syahdu yang pas untuk relaksasi dan refleksi pagi. Di samping saya, aroma kopi Golda berpadu dengan rokok Samsu kretek dan sebungkus roti yang kami santap bersama—kehangatan kecil yang melengkapi dinginnya pagi.

Meski tubuh masih segar dan pikiran jernih, lagu itu membuka sebuah ruang sunyi di dalam diri saya—jeda sejenak dari dunia yang sibuk dan tuntutan untuk terus bergerak. Di sinilah, musik bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah medium yang memungkinkan kita berhenti sejenak dan merenung, membiarkan setiap nada dan kata menyentuh lapisan terdalam kesadaran. Sebuah jeda yang menjadi pintu masuk bagi sebuah pengalaman kontemplatif di tengah rutinitas yang tampak biasa.

Dari titik ini, ingatan saya melayang pada Arthur Schopenhauer. Dalam Die Welt als Wille und Vorstellung (1818), ia menulis bahwa musik bukan hanya seni biasa—melainkan pengejawantahan langsung dari kehendak dunia, der Wille. Ia melihat musik sebagai satu-satunya bentuk seni yang tidak merepresentasikan dunia, tetapi menyentuhnya secara langsung. Maka, ketika kita tenggelam dalam musik, kita tidak sedang melarikan diri dari kenyataan, tapi justru sedang mengalami kenyataan pada lapisan terdalamnya—tanpa konsep, tanpa kategori.

Refleksi ini bertemu dengan kegelisahan Byung-Chul Han dalam The Burnout Society (2010) dan The Scent of Time (2009), yang menggambarkan zaman ini sebagai era di mana hidup kontemplatif (vita contemplativa) perlahan digerus oleh tuntutan hidup produktif (vita activa). Kita dipacu untuk terus bergerak, menunjukkan, dan mengejar hasil. Dalam dunia seperti itu, momen berhenti bisa dianggap sebagai kemalasan. Padahal, menurut Han, justru dalam berhenti, kita bisa kembali merasakan kehadiran diri kita sendiri—dan itu bukan kemunduran, tapi pemulihan eksistensi.

Semua itu terjadi dalam kesederhanaan yang nyaris tak layak diberi panggung—kopi dingin, rokok kretek murahan, dan lagu lawas yang diputar dari perangkat seadanya. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah, saya merasa seolah waktu berhenti sebentar. Tidak ada notifikasi, tidak ada tugas, tidak ada ekspektasi. Hanya saya, guru saya, kursi dingin di depan Indomaret, dan dunia yang berjalan seperti biasa. Mobil dan motor lewat, pedagang gorengan menawarkan dagangannya, shift penjaga Indomaret berganti, dan langit perlahan berubah dari gelap ke biru muda.

Dan mungkin, itulah bentuk paling jujur dari kontemplasi: bukan yang ditandai oleh sunyi total atau pemandangan indah dari atas gunung, melainkan yang hadir di sela-sela rutinitas biasa—asal kita berani diam, berani hadir, dan membiarkan hidup menyapa kita tanpa perantara layar. Dalam benak saya, gema pemikiran Schopenhauer dan Han terus berdenting, seolah mengiyakan bahwa keheningan bukan kekosongan, melainkan ruang bagi makna untuk perlahan muncul ke permukaan.

Saat lagu Thank You mencapai bagian akhir, saya tersentuh oleh kesederhanaan liriknya: “I want to thank you for giving me the best day of my life” Itu bukan syair yang menggebu atau metaforis, melainkan ucapan terima kasih yang jujur kepada seseorang. Tapi justru di sanalah letak kekuatannya. Saya jadi bertanya, kapan terakhir kali saya sungguh-sungguh mengucapkan terima kasih kepada seseorang—bukan karena sesuatu yang besar, tapi karena kehadiran mereka yang membuat hari biasa terasa cukup?

Mungkin, rasa syukur tidak selalu muncul dari pencapaian besar, tapi dari kesadaran bahwa hari ini bisa dilalui tanpa luka, tanpa kehilangan, tanpa rasa ingin pergi dari segalanya. Lagu itu, dalam keheningan pagi dan dinginnya bangku besi, membuat saya sadar bahwa ada orang-orang dalam hidup saya—guru saya, orangtua saya, bahkan diri saya sendiri—yang pantas saya ucapkan terima kasih. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka ada.

Pagi itu, sebelum dunia benar-benar sibuk, sebelum layar kembali menyala, dan sebelum kesadaran terfragmentasi oleh banyaknya hal yang harus dikerjakan, saya merasa cukup. Tidak terlalu bahagia, tidak juga melankolis. Hanya cukup. Dan dalam dunia yang menuntut kita untuk selalu lebih, perasaan “cukup” barangkali adalah bentuk kebebasan paling sunyi sekaligus paling dalam.

Pagi itu bukan tentang keistimewaan suasana, melainkan tentang keterjagaan batin di tengah hal-hal yang nyaris tak dianggap penting. Bukan karena musiknya luar biasa, atau karena kopi dan roti itu istimewa—tapi karena saya benar-benar hadir, mendengarkan, dan merasakan. Tanpa upaya mencatat, tanpa rencana membagikannya.

Dan barangkali itulah yang dicari banyak orang hari ini: momen ketika kita tidak harus menjadi siapa-siapa, tidak perlu menjelaskan apa-apa, hanya cukup duduk, diam, dan tahu bahwa kita masih bisa merasakan sesuatu—meskipun hanya lewat lagu lama, di pagi yang biasa, di depan Indomaret yang dingin.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Ropip Asharudin

Ropip Asharudin

Mahasiswa Filsafat UIN SGD Bandung