Sketsa Gegerkalong

Sketsa kawasan Gegerkalong karya Hawe Setiawan

Gegerkalong adalah bagian penting dari geografi saya sehari-hari. Sejak tahun 1987 saya tinggal di Negla, tidak jauh dari Terminal Ledeng, mula-mula sebagai mahasiswa dari luar kota, kemudian jadi warga kota. Tempat tinggal kami bisa dikunjungi melalui Jalan Sersan Bajuri atau Jalan Negla yang lebih sempit dan pendek. Dari Negla ke Gegerkalong, khususnya Gegerkalong Girang, terjalin hubungan yang sangat dekat baik secara fisik melalui Cilimus maupun secara sosial budaya melalui berbagai kegiatan semisal pentas seni adu domba di Cilimus di atas lahan milik keluarga besar Aki Bohon dari Gegerkalong Girang — destinasi tersendiri yang selalu disebutkan dalam buku-buku panduan wisata hingga dasawarsa 1970-an.

Anak-anak kami lahir di klinik Bidan Ema di Gegerkalong Hilir (kini tak ada lagi), dan pada saatnya mereka belajar di SDPN Setiabudhi (sebelum pindah dari kampus UPI ke Sarijadi), SD Isola, SMP 12, SMP 29 di Gergerkalong Girang, dan kuliah di UPI. Karena salah seorang anak saya tertabrak motor di Sersan Bajuri, sempat enam bulan lamanya dia dirawat secara telaten oleh Bu Ugih, salah seorang penerus Aki Bohon di Gegerkalong Girang. Di usia tua sempat saya ikut belajar penca atau silat kepada Bah Gending Raspuzi dan Haji Cecep Omar di Gegerkalong Girang dan Tengah.

Di Gegerkalong Tengah dulu tinggal penyair dan dramawan Sunda terkemuka Wahyu Wibisana, juga di situ tinggal penabuh gamelan senior Pak Dohot, sedangkan di Gegerkalong Girang dulu tinggal penyair dan akademisi Prof Yus Rusyana bersama istrinya penulis Bu Ami Raksanagara. Ada pula sebuah rumah yang dulu milik salah seorang musisi Bimbo di Gegerkalong Girang. Saya mengajar di kampus Unpas, dan seringkali pergi ke kampus naik sepeda, sehingga niscaya saya sering melewati Gegerkalong Girang dan Gegerkalong Tengah setelah melintasi kampus UPI. Sering pula, kalau lagi berolah raga, istri saya dan saya menyantap lontong kari di seberang Masjid Daarut Tauhid. Tidak jarang pula kami belanja sembako di Pasar Rakyat Gegerkalong yang bagian belakangnya tersambung dengan kompleks perumahan Angkatan Darat.

Salah seorang tetangga saya adalah ruruntuk jagoan dari dasawarsa 1970-an yang pada masa mudanya suka mangkal di Terminal Ledeng. Dari tempat mangkal oplet jurusan Bandung dan Lembang, tempat itu kemudian dijadikan terminal seperti yang kita kenal sekarang pada sekitar tahun 1974-1975. Sang tetangga bercerita bahwa pada masa itu para jagoan Ledeng dikenal lewat nama Gerodal (Gerombolan Dayak Ledeng) sementara para jagoan Gegerkalong dikenal lewat nama Jakober (kalau tidak salah, akronim buat Jawa Batak Bersaudara). Katanya pula, satu-dua pentolan preman dari Gegerkalong berakhir dalam kekerasan negara yang dikenal dengan Petrus (penembakan misterius) pada awal dasawarsa 1980-an.

Geger adalah istilah Sunda buat “punggung gunung” atau “bukit” (seperti bagian leher kuda tempat surai melekat), sementara kalong berarti “kelelawar”. Toponimi ini cocok sekali dengan lingkungan alamnya: dataran tinggi di belahan utara Bandung. Sekarang jejak hutan dan kebun di situ memang tidak tampak lagi, kecuali barangkali pada beberapa kantung hijau di CIlimus atau Cicarita. Namun, jika kita mau keluyuran menelusuri labirin gang di sekitar Gegerkalong Girang, kita masih bisa melihat air terjun Curug Sigai yang mengalir ke kali Cibeureum, tidak jauh dari kolam renang UPI. Di sekitarnya, di labirin gang yang tersambung ke area Cicarita, kita masih bisa menyaksikan air menetes-netes (cinyusu) di dinding batu, juga melihat kolam ikan di dekat jembatan.

Beberapa kantung seni tradisi, yang memelihara penca dan karawitan, masih bisa kita temukan. Tidak sedikit tokoh jawara atau nayaga pedalangan yang tumbuh di wilayah ini. Namun, jejak tradisi seperti itu cenderung tertutupi oleh pemandangan dominan di sepanjang jalan aspal yang menonjolkan kampus, pesantren modern, mart, gerai ATM, kedai makanan dan minuman, barbershop, laundry, toko alat tulis, dan jongko-jongko kaki lima. Masih ada tiga unit becak yang saban hari mangkal di pangkal jalan Gegerkalong Girang, di seberang kios Kang Budi, reparator arloji dari Garut. Buat saya sendiri, nama Gegerkalong menyiratkan atmosfer sosial yang ditandai dengan sosok-sosok yang beragam: profesor, dai, pendekar, tentara, gerombolan motor, dan seniman pertunjukan.

Warga Gegerkalong seperti Bah Yusuf Bachtiar, yang saya kenal baik, masih memelihara gagasan tentang kabuyutan. Dalam bahasa ibu saya, kabuyutan — dari kata dasar buyut — mengandung banyak arti: benda budaya warisan karuhun alias leluhur, tempat suci buat menyimpan manuskrip kuna yang dijadikan jimat, bisa juga berarti lingkungan hijau yang sakral. Bagi Bah Yusuf, sepertinya, kawasan Gegerkalong merupakan kabuyutan tersendiri yang atmosfernya cenderung dia tautkan dengan Kabuyutan Cipageran di Cimahi. Beberapa kali saya mendapat undangan darinya, tapi sampai sekarang saya belum sempat juga mengunjunginya. Yang melekat dalam benak saya adalah sosoknya: rambut panjang yang terbalut iket batik, janggut putih berjumbai, baju lengan panjang dan celana hitam, lengkap dengan golok di pinggang, dan tongkat di tangan kanan. Saya ingat, ketika Wakil Presiden Yusuf Kalla datang ke Gedung Merdeka di Bandung atas undangan Paguyuban Pasundan, Bah Yusuf turut hadir dan rupanya sempat menimbulkan kecemasan Paspampres yang merasa harus menyita golok.

Dari figur budaya seperti Bah Yusuf, saya melihat contoh tersendiri mengenai kesanggupan menghayati nilai dan simbol budaya Sunda sambil menjalin persaudaraan lintas budaya, bahkan lintas iman. Ia berkunjung ke vihara di dekat Parongpong. Ia pun dikabarkan mengadakan upacara di Masjid Nurul Falah, Gegerkalong Girang, bersama mereka yang merayakan Asyura. Tentu, banyak tantangannya. Video viral mengenai perayaan Asyura di Gegerkalong Girang pada 2023 adalah salah satu contohnya: banyak orang berkerumun, polisi berdatangan, suasana jadi riweuh.

Rekaman video itu tersimpan dalam ponsel anak saya. Pada suatu malam dia dicegat polisi di Gegerkalong gara-gara dibonceng oleh temannya naik sepeda motor yang knalpotnya tanpa saringan, hendak membeli gorengan. Polisi membuka-buka ponsel anak saya. Begitu mendapati ada rekaman video tadi, polisi melontarkan dugaan yang bukan-bukan: ari kamu téh anggota berandalan motor atau sekte keagamaan atau apa? Anak saya enteng saja menukasnya: da saya mah anak nongkrong yang mau beli gorengan, dan video kayak gini mah ada di banyak orang atuh.

Sejak saat itu saya jadi sering berputar-putar malam Minggu di seputar Gegerkalong, tempat anak saya sering nongkrong. Biar dia cepat pulang dan tidak harus berurusan dengan polisi atau petugas jam malam yang telah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Barat.***

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Sehari-hari mengajar di Unpas, menggambar dan mempunyai prinsip "slow living" alias "hirup salse".