Togog: Punakawan yang “Anti-Mainstream”

Ilustrasi tokoh pewayangan. (gambar: wayang.wordpress.com)

Suka nonton wayang golek dong, ya? Tahu konflik antara Kurawa dan Pandawa? Siapa yang suka kisah Mahabharata, tentu tahu betul karakter-karakter punakawan ini.

Namanya Togog, ia adalah seorang punakawan—tokoh pelayan atau pengiring di cerita pewayangan. Dalam banyak adegan kisah Mahabharata diceritakan, Togog mendampingi tokoh-tokoh antagonis seperti Kurawa, yang merupakan musuh dari Pandawa.

Meski ia mendampingi tokoh jahat, Togog adalah seorang pemberi nasihat yang tetap menjalankan tugasnya dengan paripurna, walau nasihatnya seringkali diabaikan. Meski ia sering berada di pihak yang salah—right man in a wrong place—Togog bukan berarti memiliki watak antagonis murni. Ia cuma menjalankan tugasnya sebagai abdi, dan kerap berusaha menyuarakan kebenaran.

Dulu, waktu kecil, saya pernah bilang bahwa tokoh favorit saya dalam dunia wayang adalah Togog. Orang dewasa di sekitar saya menertawakan pilihan itu. “Kok bukan Arjuna? Atau Bima?” kata mereka. Togog tak tampan, tak gagah, tak memesona. Ia bukan ksatria. Ia bukan pujangga. Ia bukan penyelamat dunia. Tapi entah mengapa, saya menyukainya.

Di dunia yang sudah banyak muncul tokoh pahlawan—yang tak pernah kalah, saya menemukan kenyamanan dalam ketakberdayaan Togog yang tetap jujur tapi tak didengarkan.

Togog bukan bagian dari para ksatria Pandawa, bukan pula dari keluarga besar Kurawa. Ia cuma abdi dalem, pelayan setia yang mengikuti seluruh regulasi titah maharaja. Bersama adiknya, Semar, ia sering dimunculkan sebagai penyeimbang cerita, kadang sebagai pengganggu, kadang sebagai pengingat bahwa tidak semua urusan bisa diselesaikan dengan kesaktian atau senjata pusaka.

Ia muncul di percakapan reflektif, yang kalau dalam lakon wayang golek kerap dibumbui dengan bobodoran satir. Dalam bayangan gelap, karakter Togog mengintip, mengobservasi para pangeran-pangeran Kurawa dan mengelus dada ketika pihak Pandawa sering dijahati.

Ketika layar kelir konflik menjadi terlalu serius untuk dicerna—oleh saya yang waktu itu masih anak-anak, Togog melucu. Tapi saya yakin ia bukan sekadar pelawak, ia juga bukan pecundang, dan ia tak persistent untuk menjadi seorang pemenang. Mungkin disanalah letak kebijaksanaan muncul, dari sisi dirinya yang cuma sidekick—tak ada dalam sorot lampu dalang—Tapi nasihatnya amat strategis dan filosofis.

Lagi-lagi, kita bisa belajar banyak dalam setiap karakter fiksi tokoh pewayangan. Di zaman yang mengagungkan keinginan untuk menang, hingga kerap abai akan norma, aturan, bahkan perundang-undangan. Kita menormalisasi kekuasaan sebagai mesin ambisi, meniadakan meritokrasi dan menganggap wajar kekuasaan yang dipegang oleh sebuah dinasti.

Di media sosial, di dunia kerja, dalam percakapan sehari-hari. Orang berlomba-lomba menjadi tokoh utama. Siapa yang paling menguasai algoritma, siapa yang paling terlihat benar, siapa yang paling viral.

Kita disuruh menjadi seperti Arjuna: tampan, pintar, menawan. Atau seperti Bima: kuat, setia, besar. Tapi siapa coba yang mau jadi Togog?

Yang tak harus selalu benar, yang bisa saja salah tapi terus belajar, yang tahu kapan dia harus diam karena baginya seorang abdi harus meniadakan egonya, tapi ia mengamati dengan
tajam dan menjalankan misinya dalam sunyi.

Togog adalah tokoh yang tidak membawa perubahan besar dalam alur cerita wayang, tapi buat saya, justru dari ketidaksempurnaan itulah ia hadir sebagai cermin. Dalam filsafat Sunda dan Jawa, Togog sering dilihat sebagai simbol rakyat jelata yang kebijaksanaannya tumbuh dari pengalaman, bukan dari ajaran-ajaran filsafat kelas formal. Ia melihat dunia ini sebagai panggung kompleks, yang tak cuma dilihat dalam hitam dan putih.

Ia tahu banyak hal tak bisa dipaksakan dalam menghadapi kekuasaan, ia diam, ia mengamati dan melancarkan strateginya dengan jalan kesunyian. Meski seringkali diamnya Togog disalahartikan sebagai menyerah pada watak pangeran-pangeran Kurawa, ia tahu hidup tak selalu memihak pada yang paling layak. Maka ia menjalankan hidupnya pelan-pelan, dan tak berhenti menasihati meski ditertawakan.

Manusia komedi

Saya ingat Nietzsche pernah menulis bahwa manusia tak bisa hidup hanya dengan ideal-ideal tinggi; kadang kita butuh komedi untuk istirahat sejenak menghadapi hidup. Komedi bukan dalam arti hiburan semata, tapi kemampuan untuk menertawakan absurditas hidup dengan tetap berjalan, meski satir, mungkin ini yang anak sekarang bilang “dark jokes”. Togog mengajarkan ‘ketertawaan’ itu, Ia menertawakan para dewa, para raja, bahkan dirinya sendiri. Dan mungkin itulah sebabnya ia tetap hidup dalam bayang-bayang layar kelir, yang tak pernah punah meski perang berlangsung, ia selamat meski bukan sebagai pemeran utama.

Memilih Togog sebagai tokoh favorit waktu kecil mungkin adalah bentuk bawah sadar dari keinginan untuk tidak harus selalu menang. Atau mungkin, karena sejak kecil saya tahu bahwa hidup akan lebih sering memaksa kita menjadi figuran daripada jadi pemeran utama. Tapi dari sisi panggung itulah kita bisa melihat: siapa yang benar-benar setia, siapa yang beneran bijaksana, siapa yang tidak hanya punya peran tapi paham betul apa perannya.

Togog memang tidak punya senjata sakti dan hebat, tapi sekarang saya baru paham
kalau ia punya jarak dan jeda. Jarak dari pusat kuasa, dari ambisi, dari narasi besar tentang kepahlawanan. Lewat jarak itu, seorang Togog bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh para ksatria: bahwa kadang untuk menjadi biasa-biasa saja dan tak dipuja adalah cara paling jujur untuk menjadi manusia yang bisa bertahan dari gempuran ambisi. Bahkan dari keinginan untuk selalu berkuasa.

Tak banyak yang ingin menjadi sidekick seperti Togog, mungkin itu pula yang membuat kancah kekuasaan di atas sana, terasa selalu meresahkan. Karena tak ada yang mau mengalah jadi pemeran pembantu, semua mau muncul jadi peran utama. Namanya Togog, dan ia adalah seorang anti-mainstream.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Foggy FF

Foggy FF

Seorang ibu-ibu penulis fiksi. Rajin menulis esai feminisme dan kesehatan mental di beberapa platform media digital. Kadang pendiam, tapi seringkali mempertanyakan banyak hal yang orang lain anggap ribet.