Mengamati “Komedi” yang Unik

Buku "Komedi Sepahit Kopi" Karya Zaky Yamani. (Foto: Hafidz Azhar).

Komedi Sepahit Kopi punya gema storytelling. Sebagai buku kumpulan reportase jurnalistik, isinya bukan hanya melaporkan peristiwa-peristiwa straight (news). Tapi, lebih.

Zaky Yamani, penulisnya, berhasil. Sedikitnya, memenuhi apa-apa yang digariskan oleh pelaporan storytelling. Terutama, dalam soal “pengamatan yang unik” (Kurnia, 2024).
Dibaca, setelah 12 tahun lalu, penulisnya memberi, saya tetap tersentuh. Dan, semakin melihat kekuatan storytelling kesastraan yang diupayakan Zaky. Di banyak laporannya, Zaky seperti tak mau takluk oleh cengkeraman laporan berita koran harian bertitimasa 2003–2013. Dengan segala tuntutan keringkasan, dan segala ketakutan, dan segala kemalasan wartawan, dan sekian ketidakpedulian manajemen keredaksian: surat kabar harian daerah.

Kenapa?

Ijinkan saya melakukan Self-plagiarism (tidak sepenuhnya) terhadap buku Kisah Menulis Storytelling Secara Kesastraan (2024), dalam sub-bab “Pengamatan yang Unik”, yang menyatakan sebagai berikut.

Laporan storytelling punya gema yang berbeda dengan laporan media biasa. Ada pemaknaan lain, yang bukan sekadar melaporkan. Ada kerja pengamatan yang lebih dari biasanya.

Berbagai topik tulisannya meminta perhatian lebih. Persoalan sosial yang diungkapkannya punya magnitude. Persoalan masyarakat urban banyak dikisahkan. Kisah-kisah masyarakat kota-kota besar London, Manchester, Chicago, New York, Paris, dan seterusnya: kerap ditulis. Mereka mengangkat permasalahan sosial, seperti “kemiskinan yang sangat parah, dan berbagai akibatnya berupa ketidakbersihan, harapan hidup yang rendah, penyakit, kematian bayi, polusi; dan berbagai masalah sosial lainnya termasuk segala macam kejahatan, prostitusi dan degradasi kemanusiaan lain” (Soares, 2017).

Kegiatan penulisannya meliputi kerja pengumpulan data, yang dilakukan dalam riset-riset akademis, semacam wawancara, observasi partisipatif, survey sosial, studi kasus, dan statistik. Kisah-kisah modernitas yang dilaporkannya beririsan dengan kajian-kajian sosial yang mengungkap berbagai permasalahan industrial dan pembangunan dimana masyarakat urban melakukan aktifitasnya di dalam dunia modern kontemporer. Laporan media menjadi perangkat masyarakat untuk memahami dinamika sosial kemasyarakatan.

Dalam hal Zaky, laporannya berisi berbagai persoalan kota-kota di Jawa Barat (2003-2013). Lewat judul-judul antara lain “Dimabuk Santolo, Muldan Nelayan Ban, Memanen Debu di Tanah Translok, Tsunami, Suara Sunyi dari Balik Jeruji, Para Pemburu Air, Pemilu Suku Baduy.” Judul-judul itu memerikan keperihan ironi persoalan Masyarakat: yang sedang “urban”, ingin “industrial”. Dan, dilaporkan secara, tampaknya, secara “bukan” wartawan koran berita harian. Tapi wartawan yang ingin mendalam, interpretif, dan subjektif. Dalam kerja sepersis periset akademis. Dalam penyajian, yang menawarkan gaya storytelling kesastraan.

Indikatornya

Di dalam kegiatan pengamatan, ada empat pendekatan yang biasanya dilakukan. Keempat pendekatan tersebut adalah “watch-and wait, participant-observation, interviewing, and using the self as a source” (Benedict, 2003).

Watch-and-Wait

Ini berarti kegiatan yang panjang, yang bukan hanya mewawancara tetapi juga kegiatan “mengamati dan mendengarkan” (watching and listening). Kegiatan mendalami kehidupan “subjek” begitu rupa, sampai si subjek menjadi begitu terbuka, tidak lagi merasa hendak ditulis, bebas bertindak dan berbicara seperti di dalam hidup kesehariannya. Dalam keadaan begitu, wawancara jadi bukan kerja yang utama dalam pencarian bahan.

Kegiatan pencarian bahan tulisan menjadi sepersis ruang penungguan, lebih kerap merekam apa yang terlihat dan terdengar. Kegiatannya jadi berisi kegiatan mengamati dan menyertai subjek-laporan, sampai penulis merasa telah lengkap mendapatkan keutuhan fakta atau kisah yang yang hendak dilaporkannya.

Zaky tampaknya berusaha melakukannya.

Participant-Observation

Kesastraan membuat kegiatan pencarian materi tulisan jadi memerlukan upaya lebih yang tak hanya mengamati. Penulis bukan hanya mencatat, tapi ia juga berinteraksi dengan subjek secara rapat, intim, menjadi bagian dalam cerita. Percakapannya tak hanya berada dalam format wawancara tapi lebih dari itu, bercakap-cakap dengan subjek-laporan bagai kawan dekat. Ia berpartisipasi, mengamati, berbagai kejadian atau situasi atau aktifitas dari dalam, dengan menjadi bagian dari subjek-laporan. Semua itu ditujukan sebagai upaya untuk menghayati sendiri kisah yang dilaporkan. Ia menjadi pengamat-partisipan, participant-observation. Tujuannya: untuk mendapatkan pemahaman yang lebih intens, lebih baik, lebih dalam. Selain itu, upaya ini juga untuk menghindari kesalahan, ketidakpahaman, seperti persepsi merendahkan atau menyimpang terhadap subjek yang tengah diamati.

Zaky tampaknya berusaha melakukannya.

Dengan menjadi “partisipan”, atau “pengamat”, berbagai informasi (dan pemahaman) berdatangan. Penulis diberi ruang untuk memahami (memaknakan) bagaimana hidup, misalnya, seorang gelandangan mencari tempat untuk tidur, merasakan kesepian yang menekan, merasakan bagaimana petugas negara melihat kita sebagai gelandangan, melihat teman-teman memandang kehidupan gelandangan dan tidak mengenali kita ketika berpapasan. Hal ini bisa dikatakan sebagai salah strategi riset.

Dari kegiatan ini, penulis menemukan narasi pengisahan. “Cara untuk menemukan laporan yang lebih menarik dibandingkan dengan melakukan wawancara,” menurut John McPhee (Sims, 1996). Penulis mendapat materi kisahnya dari berbagai peristiwa yang diikuti, disaksikan, dialaminya sendiri.

Wawancara yang Banyak dan Panjang

Wawancara menjadi berbeda. Percakapannya tidak hanya disambung melalui telepon, sekali duakali. Atau, bertemu sekali duakali, dan kemudian selesai. Wawancara menjadi panjang, berkali-kali, lama, melibatkan banyak orang.

Zaky tampaknya berusaha melakukannya.

David Halberstam mewawancari banyak orang ketika membuat The Power That Be (1979). Di tulisan yang menghabiskan 600-an halaman ini, Halberstam mengisahkan tentang perkembangan media modern abad 20 di Amerika. Kebangkitannya telah mempengaruhi cara pandang terhadap berbagai peristiwa kehidupan masyarakat, dalam berbangsa dan bernegara. Semua itu muncul melalui bahasan tentang empat media Amerika, CBS Network, Time Incorporated, the Los Angeles Times, dan the Washington Post. Berbagai pemilik, pengelola, pengikut, dan lainnya, dari masing-masing media tersebut membahasnya. Bagaimana mereka mengoperasionalisasikan masing-masing media, sampai tumbuh, dan memengaruhi Amerika. Halberstam memilih keempat media dengan alasan (Halberstam, 1979).

It is depersonalizing,” kilahnya. Dan hanya menyediakan sedikit perasaan (sense) terhadap orang lain. Berbagai wawancara yang dilakukannya umumnya berlangsung antara 90 menit sampai 2 jam. Beberapa orang diwawancara sampai 5-7 kali. Kegiatan wawancara, menurut Halberstam, merupakan kegiatan pelaporan yang aneh. Wawancara merupakan bagian kerja yang biasaanya melelahkan, akan tetapi, pada akhirnya, menjadi bagian terbaik, paling berharga dalam pelaporan media. Bukan hanya berarti secara professional, dalam kerja pencarian informasi. “But in large human sense,” nilai Halberstam. Wawancara menjadi sesuatu yang berharga dalam kegiatan kemanusiaan.

Using the Self as a Source

Kesastraan membawa kegiatan pengamatan jadi unik. Keunikannya bisa dilihat kerja penulisannya. Bukan saja penulis melakukan upaya immersion, menjadi pengamat-partisipan, mewawancara demikian panjang dan banyak, tetapi juga, ia bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber. “Memusatkan perhatian pada diri sendiri seperti pada sumber,” jelas Benedict (2003:78), “semacam versi ekstrim dari pendekatan partisipan-pengamat ….”
Ini berarti, penulis yang berjuang mencari dirinya sendiri sebagai sumber laporan. Penulis menemukan dirinya sebagai tokoh cerita yang harus dilaporkan kepada pembaca. Penulis memusatkan perhatian pada dirinya, tentang apa-apa yang ia rasakan, temukan, simpulkan, dapatkan, dan sekian lainnya yang harus dan relevan dan penting dilaporkan.

Hunter S.Thompson, menurut Benedict (2003:78), bisa dijadikan contoh. Thompson melakukannya dalam ”The Kentucky Derby is Decadent and Depraved” (1970). Tulisannya mengisahkan wajah Amerika Bagian Selatan yang mengalami dekadensi melalui sudut pandang diri Thompson sendiri (yang juga tengah bergulat dengan pencarian diri).

Zaky tampaknya juga berusaha melakukan kerja penulisan ini.

Demikianlah saya coba melihat Komedi Sepahit Kopi. Saya coba melihat bagaimana Zaky, “Sekitar 12 tahun lalu … menerbitkan buku kumpulan reportase jurnalistik.” Ia menulis “sepuluh liputan yang saya anggap karya-karya terbaik saya selama menjadi jurnalis”.

*Tulisan ini disajikan untuk diskusi Bukan Jumaahan di Kedai Jante pada 25 Juli 2025.

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Septiawan K Santana

Septiawan K Santana

Guru Besar Komunikasi, Unisba.