Anna Main Domino

Gambar: Canva

Ada dua menteri yang dikeluarkan dari kabinet seperti dua busana robek yang disisihkan dari lemari. Kata si empunya berita, beberapa hari sebelum Pak Presiden mengadakan reshuffle, kedua pejabat tinggi itu main domino bersama seorang saudagar kayu yang pernah tersangkut kasus pembalakan hutan. Jadi, kata presenter tivi, pemecatan itu merupakan “efek domino”.

Dulur-dulur pegandrung gapléh, mahyong, dan sejenisnya tidak perlu berkecil hati. Presiden memecat kedua menteri itu mungkin bukan karena domino itu sendiri, melainkan karena teman main mereka yang menurut aktivis LSM sepatutnya dijebloskan ke dalam penjara. Tidak elok dong kalau ada pejabat tinggi kedapatan ada main dengan pelanggar hukum.

Yang elok buat saya sebetulnya bukan lalajo siaran berita, apalagi berita tentang menteri yang main domino atau tentang presiden yang bongkar pasang kabinet, melainkan membaca novel klasik dari Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Kita tahu, itu cerita tentang guncangan dalam hidup manusia di dua negeri, Inggris dan Prancis, pada abad ke-18. Sastrawan ini piawai sekali menyisipkan humor pahit ke sela-sela drama. Nah, dalam buku ini kita kenal Pak Cruncher alias Jerry yang sanggup melakukan seabreg pekerjaan, mulai dari angkat junjung barang bawaan hingga mengantar surat. Jerry sangat bersahaja sampai-sampai dia tidak pernah membedakan istilah domino dari domini.

Jika domino adalah nama permainan, domini adalah istilah Latin buat “tuhan”. Tarikh Masehi lazim disebut Anno Domini, artinya “tahun Tuhan”. Waktu pencerita dalam novel Dickens menggambarkan keadaan tempat tinggal Pak Cruncher, dia catat titimangsanya, yakni pada jam tujuh tiga puluh pagi, di bulan Maret yang anginnya kencang, seribu tujuh ratus delapan puluh Anno Domini. Di antara tanda kurung, sang pencerita menambahkan: “Pak Cruncher sendiri selalu mengucapkan tarikh Junjungan kita sebagai Anna Domino: kedengarannya karena dia punya kesan bahwa tarikh Masehi dimulai dengan ditemukannya permainan populer oleh seorang wanita yang sudi melekatkan namanya pada temuan itu”.

Dengan kata lain, dalam imajinasi Pak Cruncher ada seorang wanita terhormat yang bernama Anna dan menemukan permainan domino. Di situlah terasa pahitnya satire Dickens: istilah sakral “Anno Domini” dipelesetkan jadi istilah profan “Anna Domino”.

Sakral sekaligus profan, terang tapi juga gelap, senang campur sedih — begitulah dua sisi ekstrem yang menandai semangat zaman dalam novel tadi, seperti juga yang menandai hidup kita sehari-hari. Presiden bilang pertumbuhan ekonomi bagus dan anak-anak sekolah tidak kekurangan gizi, tapi di jalan raya ribuan pengemudi ojol berdemonstrasi dan di Sukabumi ada bayi mati digerogoti cacing pita. Agustus adalah saat orang serepublik berpesta pora merayakan kemerdekaan tapi juga saat sejumlah kota terbakar dalam kerusuhan.

Orang seperti Pak Cruncher, yang oleh pengarang digolongkan sebagai odd-job-man, kiranya tidak punya banyak waktu luang buat bersenang-senang; tidak seperti para menteri atau saudagar kayu. Orang kecil seperti dirinya mungkin tidak sempat menikmati waktu; tidak seperti Endén Anna yang main domino.***

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Sehari-hari mengajar di Unpas, menggambar dan mempunyai prinsip "slow living" alias "hirup salse".