Kehidupan di Pulau Rinca sudah berdenyut sejak malam masih gelap gulita. Kapal-kapal nelayan sudah menderu di ujung dermaga. Warga bersiap untuk mengirimkan hasil laut. Sebagian lagi juga bersiap untuk berbelanja berbagai kebutuhan ke Labuan Bajo. Suara seorang laki-laki mengaji dengan suara dalam dan agak serak menjadi latar yang membuat suasana menjelang subuh menjadi syahdu. Deburan ombak terus menghantam dermaga dan fondasi benteng kampung. Perahu-perahu jukung terus bergoyang dihantam deburan ombak.
Saat matahari pagi mulai terik, anak-anak di Sekolah Menengah Pertama 5 Komodo di Desa Pasir Panjang memulai kegiatan sekolah. Sebagian siswa berbaris dan melaksanakan kegiatan olahraga. Suara tawa dan keceriaan mewarnai suasana pagi. Sebagian tembok sekolah tampak rusak tergerus oleh air pasang. Plester tembok di sebagian bangunan terkikis oleh air. Beberapa ibu berangkat ke mata air untuk mengangkut air bersih menggunakan jerigen yang dibawa di atas kepala mereka. Aroma ikan-ikan yang dijemur di lapangan menyeruak ke balai desa. Sesekali, komodo terlihat masuk ke pekarangan belakang balai dan desa. Komodo dan manusia hidup berdampingan di pulau ini.

Di dalam beberapa tahun ini, aktivitas pariwisata di Pulau Rinca perlahan-lahan mulai berdenyut. Beberapa rumah warga sekarang sudah mulai memiliki fungsi lain sebagai penginapan (homestay) bagi para wisatawan yang berkunjung ke pulau mereka. Selama tinggal di pulau tersebut, wisatawan juga tidak perlu pusing-pusing memikirkan makanan karena warga dapat menyediakan layanan makanan sebagaimana makanan warga lokal di sana. Anak-anak muda mulai menjalani profesi sebagai pemandu wisata terlatih yang akan membantu para wisatawan mengetahui berbagai informasi mengenai kehidupan warga dan juga komodo yang tinggal di pulau tersebut. Warung-warung menyediakan makanan dan juga cendera mata, kaos, tas, dan kain sebagai oleh-oleh bagi para wisatawan. Perahu-perahu juga difungsikan sebagai alat transportasi bagi para wisatawan untuk menyeberang ke pulau-pulau terdekat untuk menikmati aktivitas melihat kalong pada senja hari di Pulau Kalong, berenang di pantai Pengpeng dengan pasir putihnya, berenang di Longbeach atau Pinkbeach, dan pulau-pulau lain yang memiliki kekhasan.
Sabtu, 26 Juli 2025, satu per satu anak-anak muda berdatangan ke gedung balai desa Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca, Kecamatan Komodo. Tim dari Kelompok Keahlian Literasi Budaya Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung melaksanakan pelatihan penggunaan semiotika untuk fotografi untuk menunjang kemampuan warga di dalam akivitas pariwisata di kampung mereka. Program pengabdian masyarakat yang berjudul “Penerapan Semiotika Foto untuk Pariwisata di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur” ini diketuai oleh Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, M.A. dengan anggota Dr. Tri Sulistyaningtyas, Yani Suryani, M.Hum., Harifa Ali Albar Siregar, Ph.D., Ghina Zoraya Azhar, M.Ds., dan Jejen Jaelani, M.Hum. Program ini merupakan program Pengabdian Masyarakat Skema Penugasan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) Institut Teknologi Bandung tahun 2025.
Program ini merupakan pelatihan penerapan semiotika foto untuk menunjang kegiatan pariwisata di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Program ini dilaksanakan dengan berdasarkan hasil diskusi tim dengan pengurus Desa Pasir Panjang. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan menjadi hal yang sangat diperlukan untuk dapat mengembangkan kemampuan masyarakat sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat pada melalui sektor pariwisata.
Keberadaan teknologi fotografi yang mudah dijangkau oleh siapa saja membuat peluang seseorang untuk berkarya di bidang fotografi semakin terbuka. Fotografi kini sudah menjadi bagian dari kehidupan karena teknologi ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perangkat komunikasi seperti telepon pintar, laptop, dan berbagai perangkat lain. Hal ini diperkuat dengan saluran media untuk membagikan hasil karya fotografi yang semakin mudah dijangkau pula. Berkembangnya media sosial, laman portofolio, dan berbagai kanal lain memungkinkan orang untuk membagikan berbagai momen yang mereka lihat dan alami. Orang dapat membagikan hasil fotografi untuk dokumentasi kegiatan pribadi, untuk menunjukkan portofolio kepada publik, hingga dijual untuk tujuan komersial di situs-situs penyedia layanan jual beli foto.
Pada pagi menjelang siang yang cukup terik, ditemani kopi Flores dan penganan lokal, anak-anak muda berkumpul di balai desa dengan bahagia. Sekali-sekali tawa muncul di tengah kumpulan ini. Obrolan dan canda membuat suasana santai dan hangat di balai desa yang cukup luas ini. Atap seng tidak mampu menahan hawa panas di dalam ruangan.
Anak-anak muda ini begitu antusias karena mereka menganggap peningkatan kemampuan untuk menunjang aktivitas mereka di dalam dunia pariwisata akan menambah nilai bagi diri mereka. Mereka menyadari bahwa potensi alam dan kekayaan budaya yang mereka miliki merupakan sumber daya tidak terbatas yang dapat dimaksimalkan untuk kehidupan mereka. Akan tetapi, keterbatasan akses terhadap pendidikan, baik secara formal dan informal, menjadi hambatan besar bagi mereka.
Pelatihan peningkatan bahasa Inggris bagi warga dilakukan oleh tim dari KK Literasi Budaya Visual FSRD ITB tahun lalu. Dari obrolan dengan anak-anak muda yang mengikuti pelatihan di tahun lalu tersebut, dampak dari transfer ilmu ini cukup terasa untuk menunjang aktivitas mereka. Mulai banyaknya wisatawan yang berkunjung ke pulau mereka, menjadikan bahasa Inggris sebagi kemampuan yang sangat penting. Melanjutkan pelatihan tersebut, pelatihan untuk membekali kemampuan fotografi dilakukan pada tahun ini.
Pelatihan ini berupaya memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai fotografi, khususnya untuk menunjang aktivitas pariwisata. Para peserta diberi pengetahuan dasar-dasar semiotika, dasar mengenai fungsi fotografi di dalam kehidupan sehari-hari pada era sekarang, pengetahuan teknis tentang fotografi, praktik pengambilan foto di lingkungan tempat tinggal warga, serta masukan terhadap karya-karya mereka.
Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Desa Pasir Panjang, Bapak Nurdin. Di dalam sambutannya, Pak Nurdin menyambut dengan antusias program ini karena menurutnya, pengembangan kemampuan sumber daya manusia menjadi kunci di dalam upaya untuk meningkatkan taraf kehidupan warga dan juga sekaligus aktivitas ekonomi dan wisata di desanya. Saat ini akses untuk pendidikan masih sangat terbatas, yaitu SDN Pulau Rinca, SDN Kerora, SD Kukusan, dan SMPN 5 Komodo. Sementara untuk melanjutkan ke SMA, warga harus pindah atau kos di Labuan Bajo. Pelatihan-pelatihan ini kemudian menjadi salah satu cara bagi warga untuk meningkatkan kemampuan untuk menunjang aktivitas mereka.
Materi pertama disampaikan oleh Pak Kuba, seorang warga, pengurus pemerintahan desa, sekaligus pelaku pariwisata di Pulau Rinca. Pak Kuba memberikan materi mengenai pentingnya profesionalitas dan kedisiplinan sebagai pemandu wisata. Di lapangan, ada kondisi-kondisi yang menuntut pemandu untuk menyesuaikan diri, tetapi tetap menjunjung aturan dan profesionalitas. Ia bercerita banyak tentang pengalamannya menjadi pemandu wisata selama lebih dari 20 tahun. Ia menekankan kedisiplinan dan profesionalitas merupakan kunci dari profesi pemandu wisata.
Materi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang M.A. dari Kelompok Keahlian Literasi Budaya Visual FSRD ITB. Materi ini mencakup pengetahuan dasar semiotika untuk kebutuhan fotografi. Materi semiotika sederhana bagi warga yang awam memungkinkan materi relatif mudah dipahami. Prof. Yasraf memaparkan pengetahuan dasar mengenai apa itu tanda dan makna dengan contoh-contoh sederhana yang ada di dalam kehidupan warga. Dasar-dasar semiotika ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk menangkap kesan dan makna di dalam fotografi. Fotografi selain mesti didukung oleh kemampuan teknis, mesti didukung pula oleh sensitifitas fotografer untuk menangkap kesan dan makna.
Materi ketiga disampaikan oleh Jejen Jaelani dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, Institut Teknologi Sumatera. Materi ini membahas bagaimana fungsi dan peran fotografi di dalam kehidupan masa kini. Fotografi kini tidak hanya sebagai alat untuk mengabadikan momen dan menyimpan memori. Fotografi kini sudah berkembang menjadi alat komunikasi yang dapat menyampaikan berbagai informasi, membangun hubungan sosial, dan juga sebagai referensi penting bagi banyak orang. Selain itu, pada sesi ini dibahas mengenai kesadaran akan pentingnya eksplorasi lingkungan alam dan budaya masyarakat sebagai subjek fotografi. Lingkungan alam dan budaya lokal menjadi sumber yang bisa terus dieksplorasi dan digali. Latar belakang alam dan budaya menjadi konteks sosial yang sangat penting dalam fotografi.
Materi keempat diberikan oleh Harifa Ali Albar Siregar, Ph.D. dari Kelompok Keahlian Literasi Budaya Visual, FSRD ITB. Materi yang diberikan yaitu teknik-teknik fotografi dengan penggunaan perangkat yang beragam, mulai dari telepon pintar hingga kamera profesional. Pada Sesi ini, para peserta diberi kesempatan untuk melakukan praktik pengambilan foto di lingkungan tempat tinggal mereka. Hasil dari praktik ini kemudian dibahas pada sesi pembahasan khusus.
Hasil pelatihan ini dapat dinilai cukup memuaskan. Para peserta dengan pengetahuan awal sebagian mengetahui sedikit mengenai fotografi dan sebagian sama sekali tidak mengetahui fotografi mendapatkan pengetahuan sekaligus masukan bagi karya foto yang mereka hasilkan. Diskusi pada sesi masukan berlangsung sangat hidup karena para peserta antusias dan melemparkan berbagai pertanyaan untuk memancing diskusi. Sebagian peserta mengungkapkan bahwa mereka tertarik untuk menekuni dan terus belajar untuk meningkatkan kemampuan fotografi mereka.
Warga menyadari bahwa alam dan budaya di tempat tinggal mereka dapat digali dan diabadikan melalui fotografi. Aktivitas keseharian yang selama ini berjalan dan terlewat bagitu saja, kini dapat dilihat sebagai kekayaan yang dapat diabadikan dan dibagikan melalui fotografi. Fotografi memiliki peran yang sangat signifikan di dalam perkembangan pariwisata saat ini. Lokasi-lokasi wisata yang sebelumnya tidak pernah dikenal oleh publik, dalam seketika bisa menjadi lokasi wisata yang sangat populer dan diburu oleh para wisatawan sesaat setelah viral di media sosial. Para wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah pun cenderung akan melihat referensi tentang tempat-tempat yang indah di dalam hasil jepretan kamera yang diunggah ke media sosial.
Penerapan semiotika ini merupakan kegiatan mengaplikasikan prinsip-prinsip semiotika ke dalam praktik fotografi. Pengembangan kemampuan membaca dan menerapkan tanda-tanda semiotika dapat memperkaya kemampuan fotografi seseorang supaya karya yang dihasilkan tidak hanya indah, tetapi juga kaya akan makna dan kesan. Kemampuan ini menjadi nilai tambah bagi warga lokal untuk mengangkat potensi pariwisata di daerah mereka dan mengonversinya menjadi nilai ekonomi.
Pelatihan berakhir pada sore hari dengan senyum dan obrolan di antara para warga yang ikut. Ombak berdebur di pantai. Cahaya langit mulai menguning. Seorang warga mengusir komodo yang masuk ke permukiman warga.***
Editor: Hafidz Azhar



