Helaran ke Coblong dan Cadas Gantung

Kang Apuy (Purwa Karmana) memboyong parabot kabuyutan (perkakas pusaka) seperti menggendong bayi. Benda pusaka yang diwarisi dari generasi Aki Sadap, buyut pria kelahiran 1978 itu, atau mungkin dari generasi yang lebih tua lagi, ia balut dengan kain batik dan ia dekap begitu erat. Sekitar jam enam tiga puluh pagi, diiringi beberapa kerabat dan warga setempat, […]

Tapak Iblis

Dalam enam bulan terakhir sering saya merasa kurang uang. Saya tidak lagi jadi pejabat universitas, tidak pula mendapat banyak pekerjaan sampingan seperti menyunting naskah buku atau menerjemahkan buku asing, lagi pula usaha penerbitan koran dan majalah yang begitu lama menambah pendapatan saya dari penulisan kolom reguler tidak lagi bagus. Dengan kata lain, saya hanya mengandalkan […]

Anna Main Domino

Ada dua menteri yang dikeluarkan dari kabinet seperti dua busana robek yang disisihkan dari lemari. Kata si empunya berita, beberapa hari sebelum Pak Presiden mengadakan reshuffle, kedua pejabat tinggi itu main domino bersama seorang saudagar kayu yang pernah tersangkut kasus pembalakan hutan. Jadi, kata presenter tivi, pemecatan itu merupakan “efek domino”. Dulur-dulur pegandrung gapléh, mahyong, […]

Sketsa Gegerkalong

Gegerkalong adalah bagian penting dari geografi saya sehari-hari. Sejak tahun 1987 saya tinggal di Negla, tidak jauh dari Terminal Ledeng, mula-mula sebagai mahasiswa dari luar kota, kemudian jadi warga kota. Tempat tinggal kami bisa dikunjungi melalui Jalan Sersan Bajuri atau Jalan Negla yang lebih sempit dan pendek. Dari Negla ke Gegerkalong, khususnya Gegerkalong Girang, terjalin […]

Ke Cicaléngka, Menggambar Ingatan

“Kereta berangkat jam sembilan dua belas,” ujar Mang Hafidz kepada kami begitu turun dari taksi daring di Cikudapateuh. Di dekat stasiun kecil itu ada sejumlah jalan kecil yang namanya diambil dari nama bunga, misalnya Centé (ditulis “Centéh”), Pacar, Érgulo, dll. Membaca nama-nama jalan di “daerah perdu” sepanjang rel Cikudapateuh seperti mengingat bunga-bunga di taman dan […]

Jantung Ekologi Panjalu

Sebagai peminat kuburan, saya sudah dua kali berziarah ke Panjalu. Kunjungan kali pertama terjadi sekian tahun lalu sewaktu kakak ipar saya jadi camat di wilayah itu. Waktu itu, seingat saya, sedang berlangsung upacara “nyangku”, saat masyarakat setempat membersihkan pusaka. Kunjungan kali kedua berlangsung baru-baru ini, 11 Mei 2025. Kali ini saya bergabung dengan sejumlah tetangga […]

Wadul Jurnalistik

Kata Mang Yayat, pembaca dan “pembéca” setara di hadapan Allah SWT. Yang membedakan mereka, selain tingkat ketakwaan, hanya ukuran betis. Karena saya suka menggenjot sepeda, saya berharap betis saya seperti betis tukang becak. Dengan harapan itu, dan atas izin Allah, boleh dong di sini saya berbagi surat “pembéca” buat pikiran Yayat sebagai ungkapan terima kasih […]

Keluarga Madinah

Untuk bulan Ramadan, saya masukkan buku klasik karya A.R. Baswedan ke dalam daftar bacaan. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Bulan Bintang pada 1940 dengan judul, Rumah Tangga Rasulullah, dan dicetak ulang enam kali dalam tempo tiga dasawarsa. Cetakan ke-7 diterbitkan oleh Salahuddin Press pada 1985 dengan judul baru, Bilik-bilik Muhammad: Novelet Rumah Tangga Rasulullah […]

Hai, Yaqzan

Kata Mang Asep Syalik, teman sekampung saya dari Subang, hidup itu ada tiga macam: hirup cicing, hirup nyaring, dan hirup éling. Diam, terjaga, dan sadar. Di kepala saya seketika timbul tiga contoh: batu akik, ayam pelung, dan dosen Unpas. Amsal tentang hidup manusia yang dalam liburan semester kali ini saya simak adalah kisah warisan abad […]

Us Tiarsa: Berkarya dalam Jurnalistik Sunda

Uyéh Sutiarsa — masyarakat mengenalnya dengan nama Us Tiarsa tapi kerabatnya biasa menyapanya Iyék — lahir di Kebonkawung, Bandung, 1 April 1941. Dalam KTP tahun kelahirannya adalah 1943. Ayahnya (l. 1910), yang bekerja sebagai benatu, berasal dari Cicaléngka, sedangkan ibunya (l. 1901) dari Garut, keduanya merupakan lulusan pasantrén. Sebagai satu-satunya anak yang panjang umur di […]