Terbayang Sempakwaja

Sempakwaja tidak bisa naik tahta karena ompong. Ingatan akan tokoh menarik dari sejarah Kerajaan Galuh itu sangat membesarkan hati saya sepulang dari klinik gigi. Saya tidak begitu sedih kehilangan delapan gigi nan goyah dalam dua bulan terakhir. Saya toh bukan orang pertama. Baik saya gambarkan sanad dari ingatan demikian. Dokter Ranggi Ayodia yang merawat saya […]

Jurig Tumpak Sepeda

Entah kenapa, selagi keluyuran naik sepeda, saya teringat pada ungkapan Sunda “jurig tumpak kuda“. Tahu, kan, apa itu jurig? Mister Jonathan Rigg — dia mah Jo Rigg bukan jurig — menginggriskan istilah itu jadi “evil spirit“. Pak Rabin Hardjadibrata pun sama halnya. Ya, kata si empunya kamus, jurig adalah sejenis roh jahat. Siapa pula yang […]

Jenama, Slogan, dan Metonimia

Di telinga saya istilah jenama mudah diterima. Bunyi dan jumlah suku katanya dekat dengan jenaka. Boleh dong, buat sejenak, saya melupakan jenasah. Pokoknya, istilah yang satu ini mudah di lidah, enak di kuping. Kamus Indonesia-Inggris susunan Alan M. Stevens dan Schmidgall-Tellings mengartikan istilah jenama sebagai “(Mal) brand name”. Keterangan dalam tanda kurung di situ mewartakan […]

Wangsa

    Ada kalanya pula diam-diam dia menawari saya kopi, dan ketika ujung jari saya menyentuh bagian yang runcing dari payudaranya, yang sebentar terlepas dari kebaya katunnya yang berwarna putih   Itih, dengan nama yang singkat tapi hatinya lapang, lahir di Desa Cigugur, dekat Cimahi, di Priangan. Meski belum bisa dipastikan kapan tepatnya ia dilahirkan, […]

Sepah dan Spuug

Sampai di situ, saya hanya dapat mengatakan bahwa dalam urusan kunyah-mengunyah sirih alias ngalemar, istilah Belanda spuug mengacu kepada ludah sedangkan istilah Indonesia sepah mengacu kepada ampas. Ketika membaca novel Maria Dermoût, Nog pas gisteren (1974), saya termenung oleh sepatah kata: spuug. Biar jelas, baik kita petik sebuah paragraf dari novel berlatar Jawa yang pertama kali terbit pada […]

Babad Lédeng (2): Dari Nagrak ke Lédeng

Kesempatan kumpul-kumpul dengan tetangga, entah dalam kenduri pernikahan atau dalam upacara kematian, sering memberi saya jalan ke masa lalu. Kenangan para pendahulu, saya kira, patut diindahkan dalam ikhtiar membaca perubahan kota. Kota tumbuh, lahan beralih fungsi. dan toponimi lambat-laun berganti. Alih nama dari Nagrak ke Lédeng, yang prosesnya tentu tidak ujug-ujug, terpaut pada eksploitasi sumber-sumber […]

Babad Lédeng (1): Nagrak, Nagrag, Nagrég, Negrak

Uniknya, tempat yang namanya menyiratkan ketandusan justru melekat pada sejarah perkebunan, terpaut pada tetumbuhan. Baiklah, kita mulai dari toponimi. Tempat yang kelak dikenal dengan nama Lédeng, di dataran tinggi Bandung Utara, tadinya bernama Nagrak. Dalam peta dari tahun 1905 dan 1944 toponimi Nagrak masih dipakai untuk menandai wilayah tersebut, sehamparan dengan Cidadap, tidak jauh dari […]