Babad Kopi Parahyangan

 

Novel Sejarah dan Data
 
Bagaimana kita mampu menyuarakan sejarah versi kita, jika arsip kolonial masih menjadi sumber utama penulisan sejarah? Pertanyaan yang menggelitik saya di sore itu, ketika beberapa diantara kami terlibat dalam obrolan podcast Hanya Wacana. Evi Sri Rezeki, narasumber kami, berbagi tentang novel terbarunya yang berjudul “Babad Kopi Parahyangan”. 
 
Secara singkat, “Babad Kopi Parahyangan” terbitan Marjin Kiri ini berupaya untuk menceritakan sejarah kemanusiaan melalui sejarah kopi di Nusantara. Narasi-narasi besar kolonialisme dan perlawanan sembunyi-sembunyi masyarakat yang terjajah, menjadi salah satu tema sentral dalam plot. Ketebalan data menjadi satu aspek penting yang saya garis bawahi, bagaimana tiap periode dipaparkan secara runut melalui tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam novel.
 
Dalam penyusunannya, Evi menghabiskan waktu selama 7 tahun. Ketertarikannya pada kopi, yang kemudian dipilihnya sebagai pintu masuk, membawanya ke dalam tumpukan data historis dan pengalaman praktis dan “spiritual” yang belum pernah ia jajaki sebelumnya. Waktu yang panjang dalam pencarian data.
 
Membaca novel ini, kita diajak untuk menyelami pengalaman Karim yang hidup di akhir abad-19. Karim bertemu dengan beberapa tokoh lain, bermacam pertemuan inilah yang kemudian membentuk pengetahuan Karim tentang dunia yang kelak dipilihnya, perniagaan kopi. Sebelumnya, Sulit bagi Karim, untuk membayangkan bagaimana rasa kopi. 
 
Hanya pengalaman menyesap kawa (seduhan daun pohon kopi), yang ia miliki sebelumnya. Fragmentasi data-data sejarah yang terserak 
 
Karim dan Kita dalam Pusaran Sejarah Arus Utama
 
Sejauh mana, kita (katakanlah) sebagai bagian dari sejarah kolonialisme di nusantara mampu menyuarakan sejarah versi kita sendiri? 
 
Saya mencoba membayangkan, diri saya berada di tengah tumpukan buku yang tidak satupun diantaranya, ditulis oleh salah satu diantara kita. Upaya-upaya ini, bukan nihil, namun perlu usaha lebih melalui verifikasi ulang yang teliti, untuk memastikan keabsahan sumber sejarah tersebut. Belum lagi, lebih mudah rasanya mengamini sejarah versi “mereka” ketimbang versi kita. Inferioritas yang mengakar dan akut.
 
Pintu masuk yang sudah diupayakan, strategi penelusuran sejarah kemanusiaan dan kopi di Indonesia melalui novel ini, layak diapresiasi. Bagaimana penulis mencoba bersiasat untuk menuliskan imaji-imaji liarnya untuk mengisi ruang-ruang kosong kesejarahan, yang sekaligus dipertanyakan oleh penulis, bukankah sejarah adalah fiksi dalam bentuk yang sudah terverifikasi secara akademis? 
 
Layaknya Karim dan tokoh lain dalam cerita, ini cara Evi untuk subversifitasnya atau malah akumulasi “penyesalan” atas kondisi kita, kopi, dan kemanusiaan kita di hari ini?
 
Simak obrolannya dalam podcast kami, Hanya Wacana, kali ini bersama Evi Sri Rezeki, Hawe Setiawan, Fitra Sujawoto, dan saya sendiri Wibisono Guna Putra.
 
 
WIBISONO GUNA PUTRA | DOSEN
image credit: Tsjisse Talsma
Picture of Redaksi

Redaksi