Bahasa Sunda ke Mancanagara

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

 

Surachman barangkali dapat disebut sebagai Bujangga Manik yang melangkah dari abad ke-20 ke abad ke-21, dan melakukan perjalanan lebih jauh dalam bentangan geografi yang lebih luas.

 

Ieu kuring urang gunung
ider kota, milang nagara, ngajajah alam buana

“Orang gunung” itu melanglang buana dengan membawa bahasa ibunya. Dia, Surachman R.M. (l. 1936), bukan “orang gunung” dari kalangan awam, melainkan jaksa dan pakar hukum kawakan juga ombudsman. Tidak mengherankan jika di antara puisi-puisinya tentang kawasan Amerika Utara, misalnya, ada yang mengarahkan perhatian ke sebuah penjara, juga ada yang mempertautkan diri dengan ingatan kolektif akan seorang jaksa pujaan masyarakat setempat. Suara yang diperdengarkan dalam puisi-puisinya mendapatkan saluran dalam bahasa Sunda. Itulah bahasa ibu sang penyair yang dia jadikan jendela ke dunia luas bagi para pembacanya.

Judul kumpulan puisinya, Basa ka Olivia (2021), yang diambil dari judul salah satu puisi di dalamnya, memungkinkan saya membebaskan diri dari kungkungan satu arti. Di telinga saya, kata basa di situ seperti mendua arti. Kita tahu, dalam bahasa Sunda kata basa bisa berarti “ketika” bisa pula berarti “bahasa”. Dengan kata lain, buat saya, ungkapan “basa ka Olivia” tidak hanya berarti “ketika [saya pergi] ke Olivia” melainkan juga berarti “bahasa [saya sewaktu pergi] ke Olivia”.

Puisi-puisi dari dasawarsa 1970-an hingga akhir tahun 2000-an yang terhimpun dalam kumpulan puisi yang dipilah ke dalam tiga bagian ini mencatat perjalanan sang penyair ke Amerika, Eropa, dan Asia. Perjalanannya tidak selalu berupa perjalanan turis, melainkan juga tampaknya perjalanan tugas. Sang penyair, misalnya, melihat negeri-negeri yang terbebas dari wabah korupsi atau memiliki tradisi keadilan bagi pihak yang terpidana, atau mengikuti seminar mengenai upaya menangkal terorisme.

Dalam perjalanannya sang penyair mencatat nama-nama tempat, dan ada kalanya beserta titimangsa kunjungan, melukiskan lanskap, juga menyimak suara-suara setempat. Dari tempat-tempat yang dikunjunginya, ia pun berupaya mendapatkan sesuatu yang berharga bagi dirinya. Dalam puisi “Di Barcélona Sanés di Andalusia”, misalnya, ada bait berikut ini:

Teu salah, ieu téh Tanah Katalonia.
Ieu téh pan La Rambla,

pamumpungan teu kolot teu ngora.

Di Font de Canalétés téa, teu asa-asa
kocopok baé sibeungeut sakalian nguyup caina

ngalap karamatna

Dari perjalanan Surachman, bahasa Sunda berinteraksi terutama dengan bahasa Inggris dan Jepang. Ada kalanya sang penyair mencari padanan Sunda bagi idiom setempat, misalnya frasa midnight sun dipungut beserta padanannya di dalam tanda kurung: “srangéngé tilem tengah peuting” — peristiwa alam yang niscaya tidak lazim di Tatar Sunda. Sering kali idiom setempat dibiarkan sebagaimana aslinya, misalnya ungkapan airport, amazaké, boarding, cavendish banana, downtown, hotdog, limousine, onigiri, shabu shabu, suntory, yakiniku, dll.

Ada kalanya, catatan kaki dibubuhkan untuk memberikan keterangan mengenai fenomena tertentu. Menurut saya sih hal itu tidak begitu perlu, setidaknya buat puisi yang memang tidak harus menjelaskan sesuatu.

Dalam kesan saya, Surachman pergi ke negeri-negeri asing dan pulang ke kampung halaman tidak seperti orang asing. Bahkan di antara puisi-puisinya yang dihimpun dalam rumpun Jepang, pada bagian ke-3, ada satu puisi yang menghadirkan lagi sosok Dayang Sumbi dan Sang Kuriang.

Surachman barangkali dapat disebut sebagai Bujangga Manik yang melangkah dari abad ke-20 ke abad ke-21, dan melakukan perjalanan lebih jauh dalam bentangan geografi yang lebih luas. Dengan perjalanannya, juga dengan puisinya dalam bahasa Sunda, ia berupaya “maluruh lulurung langit, ngotéktak lolongkrang umur”.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi