Batas Baca

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

 

Menikmati bacaan berarti bergerak perlahan seperti tamasya dengan jalan kaki atau naik sampan di danau yang tenang.

 

Istilahnya batas baca. Kalau orang memakai bookmark, saya lebih suka memakai marka pustaka. Barangnya sih tipis saja, terselip di antara dua belahan halaman kayak pintu lintasan di antara masa lalu dan masa depan. Di belahan yang satu ada halaman-halaman yang telah dilalui, sedangkan di belahan lainnya ada halaman-halaman yang bakal ditempuh. Tidak seperti tapal batas umumnya, marka pustaka lazimnya bergeser sejalan dengan kemajuan pembacaan.

Benda kecil itu berfungsi sebagai tapal ingatan. Dengan benda ini pembaca diingatkan di halaman berapa dia berhenti membaca untuk terakhir kali. Kalau buku yang dibaca memang menjemukan, batas baca dijamin tidak beringsut lagi seperti tonggak abadi dari perjalanan yang setengah jadi. Untuk buku-buku yang begitu menarik perhatian, batas baca mungkin hanya menjalankan fungsinya satu dua kali atau tidak sama sekali.

Bagi pencinta buku fisik, batas baca diperlukan juga buat merawat halaman. Ruang wacana yang dikasih garis tepi, margin atas dan bawah, garis kanan dan kiri, sedapat mungkin dijaga biar enak dikunjungi lagi sesekali. Beredarlah di  halaman buku tapi jangan berbuat kerusakan. Halaman sekadar ditandai, tidak sampai dilipat, ditekuk, apalagi dikotori. 

Batas baca juga menunjukkan bahwa kegiatan membaca sebetulnya bukan proses yang tergesa-gesa. Ada saat-saat ketika pembaca perlu jeda, mungkin lelah di mata, atau terserang kantuk, dan batas baca jadi tanda buat kembali pada saatnya nanti. 

Menikmati bacaan berarti bergerak perlahan seperti tamasya dengan jalan kaki atau naik sampan di danau yang tenang. Kegiatan membaca seperti ini bahkan mungkin jadi alternatif tersendiri dari hidup manusia yang kian terburu-buru, hidup yang seakan-akan selalu kekurangan waktu dengan perhatian yang terpecah-pecah di setiap waktu. Sebuah buku jarang dinikmati sekaligus kayak kita melahap mie rebus. 

Gairah membaca pada dasarnya tak pernah berhenti meski mata sudah sampai ke kata tamat atau the end di akhir halaman. Namun, kesanggupan membaca, sebagaimana kesanggupan menulis, jelas ada batasnya. Batas baca diperlukan selagi sang pembaca perlu menyerap bagian kisah atau rincian uraian yang sudah terbaca sebegitu jauh, sebelum kembali lagi ke dalam dialog dengan bacaan. 

Batas baca mungkin juga mencerminkan kenyataan bahwa pembaca punya kesanggupan, juga punya waktu, yang terbatas. Yang jelas, setiap kali kesempatan membaca tersedia, pembaca niscaya kembali lagi ke halaman yang ditandai. Jika pembaca diibaratkan dengan pengembara, maka batas baca tidak bisa ditamsilkan dengan tonggak. Batas baca hanyalah tapal ingatan yang bisa dipindah-pindah dalam ikhtiar sang pembaca sepanjang menempuh jalan tak berujung.*

 

HAWE SETIAWAN | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq

 

Picture of Redaksi

Redaksi